Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar

Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F Iskandar

Realisasi Stimulus Properti Diharapkan Harmonis

Senin, 1 Maret 2021 | 09:28 WIB
Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Jakarta, Investor.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta berharap stimulus dan relaksasi dapat segera terealisasi secara harmonis guna mendorong pertumbuhan industri properti. Saat sektor properti bertumbuh dampak terhadap sektor lain dinilai akan relatif besar.

“Kami berharap kebijakan pemerintah dapat segera terealisasi dan dapat dijalankan oleh para stake-holder, secara harmonis, sinergi, dan terarah demi tujuan meningkatkan investasi industri properti dan pastinya demi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Arvin F Iskandar, ketua DPD REI DKI Jakarta, kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Stimulus dan relaksasi yang dimaksud di antaranya adalah pelonggaran loan to value (LTV) 100% dan penurunan suku bunga acuan BI 7Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 3,5%. Keduanya ditelorkan oleh Bank Indonesia (BI), baru-baru ini.

Arvin mengaku, pihaknya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah yang segera memberikan insentif perpajakan ke sektor properti, menyusul kebijakan loan to value 100% dari Bank Indonesia. Lalu, apresiasi terhadap kebijakan penyesuaran perhitungan aset tertimbang menurut risiko (ATMR) atas LTV dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Stimulus ini sangat dinantikan para pelaku industri properti, terlebih pada masa pandemi saat ini. Apresiasi khususnya ditujukan kepada Kementerian Keuangan yang berencana memberikan insentif pajak,” kata dia.

Insentif tersebut, tambahnya, berupa pemangkasan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) atas pembelian properti dari tarif yang berlaku saat ini 10% dari harga jual. Kemudian, pemangkasan tarif pajak penghasilan (PPh) final atas sewa tanah dan bangunan yang saat ini tarifnya 2,5% dari pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan.

Selain perpajakan, kata Arvin, apresiasi juga ditujukan atas stimulus dari pemerintah berupa pelonggaran syarat pembelian apartemen oleh orang asing dan kepemilikan hunian orang asing. “Stimulus tersebut adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh para pengembang properti,” kata dia.

 

Angin Segar

Menurut Arvin, stimulus itu mencakup upaya pemerintah melonggarkan syarat orang asing bisa membeli apartemen, sepanjang syarat keimigrasian lengkap yakni visa, paspor, dan izin tinggal yang dikeluarkan oleh pemerintah. Lalu, pemerintah juga menetapkan bahwa orang asing berhak membeli gedung bertingkat tinggi, properti hunian di zona ekonomi khusus, zona perdagangan bebas dan pelabuhan, industri zona, dan zona ekonomi lainnya. 

Zona ekonomi lainnya didefinisikan sebagai kawasan perkotaan dan/atau kawasan perkotaan pendukung, kawasan pariwisata atau kawasan yang mendukung hunian vertikal pembangunan (dan memiliki dampak ekonomi pada komunitas).

“Stimulus-stimulus tersebut merupakan angin segar yang sangat ditunggu-tunggu dan pastinya sangat membantu para pengembang (developer) untuk dapat kembali bangkit berperan aktif di dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional,” papar Arvin.

Dia menambahkan, insentif perpajakan dan insentif peraturan kepemilikan properti orang asing akan sangat membantu dan menujang perkembangan industri property. Hal itu dikarenakan industri properti memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor industri lainnya (multiplier effect). Yaitu apabila ketika sektor properti bertumbuh, dampak terhadap sektor yang lain akan relatif besar.

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN