Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo di Raja Ampat. Foto: IST

Presiden Joko Widodo di Raja Ampat. Foto: IST

INDONESIA PERLU DORONG WISMAN PREMIUM

Regulasi Wisata Raja Ampat Harus Win-Win Solution

Tri Listyarini/Eva Fitriani, Sabtu, 22 Februari 2020 | 22:58 WIB

JAKARTA , investor.id – Hambatan regulasi dari Dinas Pariwisata Raja Ampat harus segera dicabut, karena Indonesia perlu mendorong wisatawan asing premium agar target devisa bisa dicapai di tengah tekanan dampak virus korona. Raja Ampat merupakan salah satu destinasi wisata favorit kalangan turis kaya yang biasa menggunakan kapal pesiar, namun kini terhambat regulasi baru yang antara lain mewajibkan pembayaran deposit hingga Rp 1 miliar per trip.

Regulasi yang menghambat itu perlu segera direvisi karena merugikan pariwisata lokal maupun nasional. Pemda dan pemerintah pusat harus duduk bersama dengan kalangan operator kapal, wisatawan, hingga pelaku bisnis biro perjalanan untuk merumuskan kembali regulasi yang baik bagi semua pihak.

Pengamat pariwisata Arista Atmadjati mengatakan, pengetatan kunjungan kapal pesiar atau kapal wisata ke Raja Ampat untuk menghindari terulangnya kerusakan terumbu karang akibat ditabrak oleh kapal wisata. Namun demikian, dengan kewajiban menyerahkan deposit hingga Rp 1 miliar untuk kapal cruise per trip, hal itu terlalu mahal.

Arista Atmadjati, Direktur Aiac Aviation Jakarta, Direktur Majalah Cargo Indonesia
Arista Atmadjati, Direktur Aiac Aviation Jakarta, Direktur Majalah Cargo Indonesia

“Sebelumnya memang ada kapal pesiar yang nyangkut di Raja Ampat, terumbu karang rusak, jadi kalau SE itu untuk memproteksi supaya terumbu karang tidak rusak, itu bagus. Tapi, depositnya terlalu mahal, dibuat bertahap harusnya. Misalnya, Rp 200 juta dulu, dilihat respons mereka, kalau tetap ramai baru bisa ditambah besarannya,” ujar Arista.

Arista menuturkan, kapal pesiar atau kapal wisata biasanya membawa turis atau wisatawan asing, hal ini tentu akan meningkatkan perolehan devisa.

Agar wisatawan asing masuk dan proteksi lingkungan tercapai, kapal pesiar juga bisa memakai pemandu kapal orang lokal yang tahu kondisi setempat.

“Jadi deposit jangan mahal-mahal, tapi kapal pesiar wajib memakai pemandu kapal orang lokal. Jadi, alam selamat, masyarakat setempat juga sejahtera, win-win solution,” ucap dia.

Kapal wisatawan merapat di kawasan Pianemo (Painemu) Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Kapal wisatawan merapat di kawasan Pianemo (Painemu) Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Sementara itu, Ketua Umum Asita Nunung Rusmiati mengatakan, industri pariwisata sangat terdampak negatif dari mewabahnya virus korona baru. Kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman, terutama dari Tiongkok, telah berkurang tajam. Dalam catatan Asita, sebanyak lebih dari 20 ribu wisman telah melakukan pembatalan kunjungan ke Indonesia.

“Saya mendapatkan laporan dari anggota

Asita di beberapa daerah, per awal Februari lalu, di Bali sudah ada 15 ribu cancellation, kemudian di Manado, di Sumatera Selatan juga,” ujar dia.

Nunung menyebut, pembatalan kunjungan ke Indonesia tidak hanya dilakukan wisman Tiongkok, tetapi juga dari negara lain. Sejumlah turis yang seharusnya ke Indonesia dari negara tetangga telah melakukan cancellation dan mengajukan refund atau reschedule. Pihaknya masih terus menghimpun datanya dari sekitar 7 ribu anggota Asita.

Meski dampak virus korona COVID- 19 sangat terasa bagi industri pariwisata RI, Nunung mengaku optimistis target kunjungan dan devisa dari wisman masih dapat tercapai.

“Karena ini kan masih di awal tahun, dan satu tahun itu masih sangat panjang,” tutur dia.

Untuk itu, kata Nunung, pemerintah RI harus mempersiapkan strategi jitu untuk bisa tetap memenuhi target devisa pariwisata yang dipatok sekitar US$ 21 miliar tahun ini. Pemerintah harus banyak mengadakan event pariwisata dan mempromosikan ke berbagai negara bahwa Indonesia aman untuk dikunjungi. Event pariwisata tersebut harus berstandar internasional dan mampu menarik minat turis asing.

Sebelumnya, pemerintah RI menargetkan perolehan devisa dari sektor pariwisata mencapai US$ 21 miliar pada 2020. Angka itu lebih besar US$ 1 miliar dari realisasi 2019 sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 275 triliun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 16,11 juta sepanjang 2019 atau naik 1,88% dibandingkan tahun 2018 sebanyak 15,81 juta kunjungan. Meski demikian, angka tersebut meleset dari target Kemenparekraf sebanyak 18 juta kunjungan, padahal angka 18 juta itu pun merupakan revisi dari target sebelumnya sebesar 20 juta kunjungan wisman.

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suharyanto mengatakan, jumlah kunjungan wisman itu terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk bandar udara sebanyak 9,83 juta kunjungan, pintu masuk pelabuhan laut 4,16 juta kunjungan, dan pintu masuk jalan darat 2,11 juta kunjungan.

Adapun selama 2019, lanjut Suharyanto, wisman yang datang dari wilayah Amerika memiliki persentase kenaikan paling tinggi, yakni sebesar 14,16% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan kunjungan wisman dari wilayah Asia selain Asean memiliki persentase penurunan paling besar, yaitu 10,3%.

Berdasarkan kebangsaan, kunjungan wisman yang datang ke Indonesia selama 2019 paling banyak berasal dari Malaysia sebanyak 2,98 juta kunjungan (18,51%). Berikutnya Tiongkok 2,07 juta kunjungan (12,86%), Singapura 1,93 juta kunjungan (12,01%), Australia 1,39 juta kunjungan (8,61%), dan Timor Leste 1,18 ribu kunjungan (7,32%). (ant/b1/sp/sumber lain/en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN