Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Salah satu pabrik baja. Foto ilustrasi: Investor Daily/Defrizal

Replikasi Politeknik Ciptakan SDM Industri yang Kompeten

Leonard AL Cahyoputra, Senin, 24 Juni 2019 | 19:01 WIB

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong replikasi pembangunan politeknik yang link and match dengan industri dalam upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan siap kerja. Hal ini juga dalam rangka menyongsong era revolusi industri 4.0 dan mengambil momentum bonus demografi di Indonesia.

“Presiden meminta lebih banyak lulusan yang bisa bekerja di industri. Paling tidak, satu juta angkatan kerja yang bisa diserap. Karena itu, pengalaman kami membuat politeknik, direplikasi kepada industri,” kata Airlangga di Jakarta, Senin (24/6).

Dia menjelaskan, pemerintah telah menuangkan strategi penciptaan SDM industri yang kompeten dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2020-2024, dengan target penambahan 500 politeknik yang link and match dengan industri. Dalam dua tahun terakhir, Kemenperin telah membangun empat politeknik baru, salah satunya adalah Politeknik Industri Logam di Morowali, Sulawesi Tengah.

Airlangga melanjutkan, Kemenperin juga mendirikan Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, serta Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal. Lebih dari 90% siswa lulusan politeknik tersebut, langsung terserap kerja oleh industri karena kompetensinya sesuai kebutuhan lapangan saat ini.

“Pengalaman tersebut menjadi momentum untuk mendorong swasta agar ikut berkontribusi dalam pembangunan SDM yang kompeten di bidang industri. Sebab, apabila hanya mengandalkan dari lulusan politeknik Kemenperin, jumlah tenaga siap kerja yang dihasilkan hanya sekitar 200-300 orang per politeknik," terang Airlangga.

Kemenperin, lanjut dia, juga telah menyiapkan insentif super deductible tax bagi industri yang akan membangun politeknik. Insentif super deductible tax merupakan keringanan pajak yang diberikan atas kontribusi industri dalam program penciptaan tenaga kerja terampil yang dibutuhkan sektor manufaktur. Kemenperin telah mengidentifikasi sejumlah sektor industri yang didorong untuk dapat membangun politeknik.

“Salah satunya seperti Astra yang membuat politeknik di Cikarang. Kalau selama ini, Indorama atau Astra membuat politeknik untuk keperluan sendiri, lulusannya hanya 100 orang, sekarang harus ditambah. Kemudian di Atmi Solo dan Atmi Cikarang, lulusannya hanya 100-150 orang. Tetapi Presiden minta lebih massif,” imbuh dia.

Dengan kebijakan tersebut, kata Airlangga, pemerintah dan sektor industri melakukan co-production SDM industri, karena pemerintah menilai industri yang paling tahu kebutuhan akan SDM. Kemenperin pun terus mendorong agar swasta ikut menyiapkan SDM yang kompeten di bidang industri.

Dalam melakukan peningkatan kualitas SDM industri, lanjut dia, Kemenperin juga melakukan revitalisasi pendidikan vokasi serta membuat program link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Program tersebut sudah dilakukan Kemenperin selama dua tahun terakhir.

“Mengenai revitalisasi vokasi, kami sudah bekerja sama dengan lebih dari 2.200 SMK, yang kemudian dikerjasamakan dengan 600 lebih industri. Kemudian link and match antara industri dengan SMK, sudah membuatkan hampir 4.997 kerja sama,” jelas dia.

Airlangga menuturkan, salah satu bentuk kerja sama tersebut, industri memberikan bantuan peralatan untuk praktikum di SMK minimal senilai Rp 500 juta. “Adanya kerja sama antara SMK dan industri ini juga secara otomatis dilakukan peningkatan kurikulum, serta mengubah program studi dan kurikulum. Selain itu sudah lebih dari 40 program studi yang diubah sesuai kebutuhan industri,” pungkas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN