Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Resesi Kian Nyata, Menkeu Perkirakan Ekonomi Tahun Ini Kontraksi hingga 1,7%

Selasa, 22 September 2020 | 13:20 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, yaitu menjadi -1,7% hingga -0,6%. Proyeksi terbaru ini lebih dalam dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu -1,1% hingga positif 0,2%.

Bahkan, untuk kuartal III-2020 pertumbuhan ekonomi diprediksi masuk zona negatif yaitu -2,9% hingga -1,1%. Bila proyeksi ini benar terjadi, maka ekonomi Indonesia akan resmi masuk dalam resesi, mengingat pada kuartal II ekonomi Indonesia sudah terkontraksi 5,32%.

“Ini artinya negative territory pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih akan berlangsung untuk kuartal IV-2020 yang kami upayakan untuk bisa mendekati nol atau positif,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita secara virtual, Selasa (22/9).

Ia mengatakan, komponen utama pendorong ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga yang diperkirakan masih akan tumbuh negatif pada kuartal III yaiyu -3% hingga -1,5%. Sebelumnya, pada kuartal II konsumsi juga tumbuh minus 5,6%.

Kemudian, lanjut Sri Mulyani, sisi investasi diperkirakan akan tumbuh -8,5% hingga -6,6% pada kuartal III dan untuk keseluruhan tahun -5,6% hingga -4,4%.

“Investasi sedikit lebih baik, namun masih lemah, yang tercermin dari indikator aktivitas bangunan, impor barang modal, dan penjualan kendaraan niaga,” tutur dia. Ia mengatakan, perbaikan aktivitas ekonomi yang masih tertekan membuat aktivitas investasi cenderung masih wait and see.

Sri Mulyani menyebutkan, untuk kinerja ekspor pada kuartal III diperkirakan tumbuh -13,9% hingga -8,7%, dan impor juga diperkirakan -26,8% hingga -16%.

Hanya komponen konsumsi pemerintah pada pada kuartal III naik tajam 9,8% hingga 17%. Pada kuartal sebelumnya, konsumsi pemerintah tercatat minus 6,9 persen. Perbaikan ini, seiring dengan percepatan realisasi belanja pemerintah.

“Sementara itu, untuk keseluruhan tahun, konsumsi pemerintah akan naik berkisar 0,6% hingga 4,8%. Jadi, pemerintah sudah all out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskal sebagai upaya countercyclical,” tutur dia.

Sementara untuk outlook 2021, ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi masih akan sesuai dalam RAPBN 2021 yang ditargetkan 4,5%-5,5 persen. "Dengan kondisi Covid yang masih menjadi faktor pertama yang memengaruhi ekonomi di level global dan nasional, ini masih sangat ditentukan oleh kemampuan pengendalian Covid," ucap dia.

Sri Mulyani menyebut beberapa prediksi lembaga internasional terkait pertumbuhan ekonomi global pda tahun ini. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di level -4,9%, Bank Dunia -5,2%, dan OECD memprediksi di level -4,5%. "Ini lebih baik dibandingkan proyeksi OECD pada Juni yang sampaikan bisa -6 sampai -7,6%," tutur dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN