Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Rupiah Melemah ke Level Rp 15.266, Begini Penjelasan BI

Rabu, 28 September 2022 | 17:11 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Rupiah lanjutkan pelemahan ke level Rp 15.266 per dolar AS sampai Rabu (28/9) sore. Mata uang Garuda itu melemah 142 poin atau 0,94% dari perdagangan sebelumnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.243 per dolar AS.

Baca juga: Pengamat Minta Presiden Jokowi Turun Tangan, Rupiah Ditutup Terjun 142 Poin ke Rp 15.266 Per Dolar AS

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto mengatakan, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang, seperti Euro, Poundsterling, Yen, Australia dolar, termasuk rupiah.

"Faktor penyebabnya adalah karena para investor (pelaku pasar) mengambil langkah hati-hati karena kekhawatiran stagflasi,"ucapnya di jakarta, Rabu (28/9)

Selain itu bank-bank sentral sangat agresif menaikkan suku bunganya karena mengatasi inflasi. Kemudian ada pula faktor pelemahan ekonomi global. Alhasil semua faktor ini berujung pada kekhawatiran resesi global.

Baca juga: Tekanan Rupiah Berlanjut, Begini Penjelasan BI

Begitu juga dengan hampir semua saham dan obligasi mengalami pelemahan, dan terjadi aliran outflow ke USD. Itu mengapa indeks USD (DXY) terus menguat dari dibawah angka 100 sampai hampir mencapai 115. "Ini menyebabkan pelaku pasar hati-hati dulu dengan menempatkan dananya di cash market di USD,"ucapnya.

BI Kawal

Dengan kondisi rupiah yang melemah , BI berjanji terus mengawal dengan triple intervention dan operation twist agar mekanisme pasar dan supply demand terjaga di pasar dimestik.

"Untuk menjagan jangan sampai ada pelemahan yang berlebihan. Banyak pihak atau analis market melihat fenomena ini akan sementara"tukasnya.

Baca juga: Asing Kembali Lanjut Net Sell Saham, tapi Nilainya Turun

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan pelemahan mata uang di berbagai negara dan menyebabkan aliran net outflow dari pasar obligasi.

"Yang jadi titik permasalahan, dolar AS makin kuat, maka investasi pasar portofolio terjadi penyesuaian. Orang ingin memegang aset aman, jadi berbalik ke aset tersebut," Aida S. Budiman dalam diskusi publik bertajuk Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).

Meski demikian, ia meyakini kinerja rupiah masih berpotensi terus menguat. Adapun depresiasi rupiah sebesad 4,97% secara year to date.

"Rupiah dibandingkan negara lain kita berhasil jaga tekanan depresiasi, seharusnya nilai fundamental rupiah akan lebih kuat lagi," terangnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com