Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Darmin Nasution. Foto: IST

Darmin Nasution. Foto: IST

Rupiah Menguat, Pemerintah Minta Eksportir Tak Perlu Khawatir

Jumat, 13 September 2019 | 15:47 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pemerintah meminta eksportir tidak perlu khawatir terkait tren penguatan rupiah terhadap dolar AS yang sudah berada di bawah level psikologis Rp14.000, pasalnya level ini masih dinilai kompetitif.

"Ya arahnya memang begitu. Belum apa-apa udah khawatir," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, Jumat (13/9).

Apabila mengutip Bloomberg pukul 15.16, rupiah masih bergerak di level Rp 13.946 atau menguat 48 poin atau 0,34% per dolar. Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.950 per dolar AS. Menguat jika dibandingkan dengan patokan pada tanggal (12/9) yang ada di angka 14.052 per dolar AS.

Di samping itu, ia mengatakan bahwa penguatan rupiah baru bisa dikatakan mengkhawatirkan jika sudah mencapai level Rp 13.300 hingga Rp 13.400 per dolar AS sama seperti posisi pada Januari 2018.

"Kita itu kan awal 2018 kurs itu Rp 13.400-13.500, masa sekarang Rp 14.000 atau dekat-dekat Rp 13.900 udah khawatir? Kalau sudah Rp 13.400 atau Rp 13.300 boleh khawatir," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah mengatakan kondisi pasar keuangan global yang mengalami risk on, dikarenakan terdapatnya progres negosiasi sengketa dagang AS-Tiongkok.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. Foto: youtube
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. Foto: youtube

Selain itu, penguatan rupiah juga didorong oleh adanya ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral, yang akan dimulai oleh Eroupe Central Bank tanggal 12 September dan The Fed pada 18 September, memang menjadi penopang penguatan Rupiah hari ini.

Ia mengatakan bahwa penguatan Rupiah menjadi lebih signifikan dan bahkan memecahkan level psikologis 14.000 karena pasar valuta asing domestik yang sangat solid.

"Kami berterimakasih kepada para dealer Treasury Perbankan yang telah membuat transaksi valas sangat aktif dengan banyak memasok valas ke pasar sehingga Rupiah menguat," ungkap Nanang ketika dihubungi Investor Daily, Kamis malam (12/9).

Dia mengatakan bahwa, pasar keuangan global bergerak setelah pemerintah Tiongkok mengumumkan 16 jenis produk AS yang dikecualikan dari tarif impor Tiongkok beserta persyaratannya, beberapa hari menjelang negosiasi dagang antara kedua negara diadakan.

Lanjut Nanang, ECB diperkirakan akan menurunkan ECB Deposit Facility Rate menjadi -0,50% (prior -0,40%) pada pertemuan malam ini yang diikuti kemudian oleh The Federal Reserve pada FOMC meeting minggu depan. Adanya penguatan ini juga menandakan bahwa ekspektasi perang dagang akan membaik.

“Membaiknya sentimen trade war dan ekspektasi kebijakan easing oleh bank sentral negara utama mendorong aksi Flight from Quality yang menopang kenaikan indeks saham global serta kenaikan yield US Treasury,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan yield US Treasury juga didukung oleh membaiknya rilis data US producer prices yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN