Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Rupiah Stabil, BI: Dampak Virus Korona terhadap Pasar Keuangan Bersifat Sementara

Triyan Pangastuti, Jumat, 14 Februari 2020 | 12:37 WIB

JAKARTA, investor.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo menilai dampak merebaknya virus korona terhadap pasar keuangan Indonesia bersifat sementara, dikarenakan indikator nilai tukar rupiah yang bergerak stabil.

“Kalau dampak ke pasar keuangan rupiah masih stabil, jadi lihat risiko ya sebagai risiko. Tapi jangan lihat ini permanen masih terlampau singkat untuk menjadikan ini skenario pelemahan," kata dia di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (13/2).

Menurutnya terlalu cepat jika menyebut virus korona akan berdampak permanen, sebab saat ini sudah ada kabar ditemukannya vaksin korona, sehingga kekhawatiran bisa mereda.

Akan tetapi, Dody tak menampik bahwa virus korona bisa mempengaruhi kinerja perdagangan di dunia yang akan melambat, akan tetapi ia meyakini pemulihan virus ini akan berlangsung cepat.

"Perdagangan global melambat maupun ekspor impor berkurang kita masih belum langsung mengatakan ini berpengaruh besar dan kita meng-assume akan pulih dalam waktu cepat tiga hingga enam bulan," jelas dia.

Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo. Foto: elshinta.com
Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo. Foto: elshinta.com

Jika dari sisi kebijakan BI dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir bahwa Bank Indonesia akan tetap akomodatif.

“Tentunya di sini, stance kebijakan itu tidak hanya dilihat inlasi tapi juga konteks eksternal, nilai tukar rupiah. Dua faktor ini dasar penyesuaian kebijakan suku bunga kebijakan,” ujarnya

Menurutnya langkah penyesuaian suku bunga masih akan tergantung pada dua risiko eksternal dan domestik. Meski begitu ia mengingatkan bahwa kebijakan moneter BI tidak hanya selalu dalam bentuk penentuan suku bunga, melainkan BI juga melakukan berbagai bauran kebijakan untuk menambah likuiditas.

“Melihat gimana konteks makro inflasi di tahun ini. Ada satu faktor juga bahwa tetap kita melihat kondisi nilai tukar yang relatif stabil yang bisa kita jaga terus. Kemudian ekspektasi inflasi yang terus terjangkar di target 3%, diharapkan bantu inflasi jadi lebih stabil” jelasnya.

Saat dihubungi, Selasa (11/2) Dody mengatakan bahwa virus korona akan menimbulkan dampak negatif bagi pemulihan ekonomi global dan menjadi sentimen di pasar keuangan. Hal ini disebabkan Tiongkok merupakan bagian utama dalam rantai pasok kebutuhan dunia.

“Virus korona menjadi risiko utama yang menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan dalam Rapat Dewan Gubernur beberapa waktu terakhir,” jelasnya.

Bank Indonesia, lanjut dia, akan mencermati berbagai perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, ekonomi Indonesia masih didorong oleh permintaan domestik sehingga resiliensinya ke depan masih cukup baik meski juga dapat terdampak dari sisi kinerja eksternal.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada siang hari perdagangan hari ini, Jumat (14/2/2020), melemah ke kisaran Rp 13.700 per dolar AS.

Menurut data Bloomberg, rupiah pukul 11.53 WIB di pasar spot exchange berada di level Rp 13.703 per dolar AS atau terdepresiasi 9 poin (0,07%) dibandingkan perdagangan sebelumnya Rp 13.694. Transaksi rupiah hari ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 13.695-Rp 13.707,5 per dolar AS.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN