Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penjualan Elektronik. Foto ilustrasi: David

Penjualan Elektronik. Foto ilustrasi: David

Rupiah Tidak Stabil, Pengusaha Elektronik Kesulitan Tentukan Harga Jual

Triyan Pangastuti, Jumat, 3 April 2020 | 10:13 WIB

JAKARTA, investor.id - Ketua Umum Gabungan Perusahaan Industri Elektronik dan Alat-Alat Listrik Rumah Tangga Indonesia (Gabel), Oki Widjaya mengungkapkan, nilai tukar rupiah yang tidak stabil membuat pengusaha elektronik kesulitan menentukan harga jual.

Apalagi pembatasan sosial yang tengah berlangsung untuk menekan penyebaran Covid-19 menyebabkan permintaan terhadap alat elektronik menurun. Soalnya, saat ini masyarakat lebih mementingkan kebutuhan pokok.

“Terus terang aja, teman-teman saya di Gabel sedang menghadapi dilema. Kami nggak naikin harga, rugi. Naikin harga nggak ada yang beli,” tutur Oki kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (2/4).

Menurut dia, insentif dari pemerintah kepada pelaku usaha tidak akan berpengaruh jika daya beli masyarakat tidak terangkat. Karena itu, pemerintah harus memberikan insentif kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di samping itu, dia mengatakan bahwa pemerintah semestinya meringankan beban perusahaan, seperti beban tenaga kerja dan pinjaman perbankan.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), kata Oki, mestinya menerangkan kepada para pekerja bahwa kondisi ekonomi berpotensi memburuk sehingga mereka jangan dulu meminta kenaikan gaji yang akan semakin menekan arus kas perusahaan.

“Bila kondisinya semakin buruk, industri bisa melakukan PHK massal,” ujar Oki Widjaya.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati sebelumnya memaparkan skenario terburuk perekonomian nasional. Dalam skenario sangat berat, rupiah bisa tembus Rp 20.000 per US$ 1 dan pertumbuhan ekonomi minus 0,4%.  (ed/is/nov)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN