Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Staf Ahli OJK Ryan Kiryanto. (Investor Daily/Nida Sahara)

Staf Ahli OJK Ryan Kiryanto. (Investor Daily/Nida Sahara)

Ryan Kiryanto: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Sesuai Ekspektasi

Kamis, 6 Mei 2021 | 05:04 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pengamat Ekonomi dan Perbankan, Ryan Kiryanto menilai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2021 minus 0,74% (yoy) sudah sesuai ekspektasi dan patut disyukuri karena tercapai di tengah masa pandemi yang masih melanda Indonesia.

Ia mengatakan bahwa kondisi ekonomi pada kuartal I sedang dalam fase pemulihan.

“Untuk diketahui perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku kuartal I 2021 mencapai Rp3 969,1 triliun. Jumlah nominal yang relatif stabil dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya. Sementara ekonomi Indonesia kuartal I 2021 terhadap kuartal IV tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,96 persen (qtq)”ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (5/5).

Dengan demikian, secara kumulatif pertumbuhan nominal PDB maupun secara persentase untuk posisi kuartal I -2021 cukup menggembirakan karena besaran kontraksinya yang rendah.

“Memang PDB yang minus ini melanjutkan kontraksi di kuartal-kuartal sebelumnya. Namun, besaran kontraksinya semakin mengecil atau membaik. Dengan kata lain arah pertumbuhan ekonomi sudah pada jalur yang benar,”tegasnya.

Sisii produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 13,12%, menurutnya logis karena kebijakan pembatasan mobilitas sosial di sejumlah daerah (terutama di Jawa) membuat aktivitas di sektor transportasi dan pergudangan terpengaruh. 

Selian itu, kontraksi pertumbuhan terdalam juga terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Pendidikan sebesar 13,04 % pun logis, karena sistem atau tata cara pembelajaran masih berlangsung secara daring atau online dengan semua implikasinya.

“Kebijakan pembatasan mobilitas sosial pun memberikan dampak negatif ke belanja pemerintah secara kuartalan, dimana dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 43,35% (qtq),” tuturnya.

Untuk kuartal I realisasi kegiatan belanja pemerintah melalui kementerian/lembaga sedang dalam fase awal kegiatan belanja lantaran sebagian proyek yang didanai dari anggaran pemerintah juga baru dimulai.

Meski begitu, ada yang perlu menjadi perhatian terkait struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada kuartal I- 2021 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa sebesar 58,70%, dengan kinerja ekonomi yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,83% (yoy).

Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan PDB nasional yang sebesar 0,74 % (yoy).

“Alhasil secara kumulatif PDB Indonesia hanya mampu tumbuh minus 0,74% (yoy), meskipun kelompok provinsi di Pulau Maluku dan Papua mampu mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,97% (yoy) dengan peranan sebesar 2,44% terhadap total PDB,” ujarnya.

Sementara itu, untuk  lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, yaitu Informasi dan Komunikasi sebesar 8,72%; Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 5,49%; dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 3,64%.

“Hal ini tidak terlalu mengejutkan lantaran ketiga lapangan usaha tersebut justru terdampak positif oleh pandemi Covid-19. Dengan kata lain, ketiga lapangan usaha tersebut termasuk ke dalam kelompok the winners di masa pandemic,”jelasnya.

Kuartal II Tembus 7%

Dengan demikian, Ryan meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan semakin kuat dan ekspansif dengan perkiraan awal pada rentang 5,0-7,0% (yoy) jika dibandingkan realisasi PDB kuartal 2020 yang rendah pada level minus 5,32% (yoy).

Optimisme ini didukung oleh program vaksinasi sebagai game changer menjadi faktor utama untuk menstimulasi aktivitas ekonomi dan sosial dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Relaksasi kebijakan sinergis pemerintah (dari sisi kebijakan fiskal), Otoritas Jasa Keuangan (dari sisi kebijakan sektor keuangan) dan Bank Indonesia (dari sisi kebijakan moneter) yang akomodatif, countercyclical dan forward looking menjadi game changer tambahan untuk mendorong kegiatan di sektor riil,”tegasnya.

Indikator lainnya berasal dari level Purchasing Manager Index (PMI) Indonesia ke level 54,6 dari sebelumnya 53,2 (Maret 2021), yang berarti ada di zona ekspansi.

“Pembelian mobil juga terpantau meningkat pasca pemberlakuan kebijakan keringanan PPnBM yang diperkuat dengan relaksasi kebijakan sektor keuangan. Secara sektoral, stimulus kebijakan untuk sektor otomotif dan properti diharapkan mampu menjadi lokomotif kegiatan di sektor industri pengolahan dengan multiplier effects-nya yang luas,”tuturnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN