Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi industri keramik

Ilustrasi industri keramik

DEFISIT PERDAGANGAN US$ 655 JUTA

Safeguard Gagal Bendung Impor Keramik

Senin, 25 Januari 2021 | 07:43 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard keramik dari Tiongkok, India, dan Vietnam gagal membendung impor. Ini terlihat pada defisit perdagangan keramik sebesar US$ 655 juta selama 2018-2020, lebih tinggi dari 2015-2018 US$ 435 juta.

Safeguard keramik dimulai pada 2018 dan kali pertama berlaku untuk impor dari Tiongkok. Pada 2020, safeguard itu diperluas ke keramik India dan Vietnam, yang diatur Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/ PMK.010/2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 119/ PMK.010/2018 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan terhadap Impor Produk Ubin Keramik.

Seiring dengan itu, industri keramik meminta safeguard yang bakal habis Oktober 2021 diperpanjang. Tak hanya itu, besaran tarif safeguard diharapkan dikerek menjadi minimal 35-40% dibanding sebelumnya 19%-23%.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan, penerapan BMTP sejak 2018 tidak efektif menahan impor. Buktinya, masih terjadi defisit perdagangan keramik, yang jumlahnya malah membengkak setelah safeguard berlaku.

“Kami telah menyampaikan hal tersebut kepada Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat melakukan pertemuan, Kamis (21/1). Beliau menyampaikan akan all out membantu industri keramik. Misi beliau adalah subtitusi impor,” ujar dia, Sabtu (23/1).

Ketua Umum Asosiasi AnekaKeramik Indonesia (Asaki). Foto: IST
Ketua Umum Asosiasi AnekaKeramik Indonesia (Asaki). Foto: IST

Edy menilai, ada beberapa penyebab safeguard kurang efektif menekan impor. Pertama, adanya unfair trade dalam bentuk pemberian tax refund ekspor keramik oleh pemerintah Tiongkok. Kedua, penipisan ketebalan keramik yang secara tidak langsung menurunkan kualitas produk untuk mengejar efisiensi biaya pengiriman. Ketiga, indikasi

praktek dumping, di mana harga jual keramik impor pasca-safeguard malah lebih rendah dibanding sebelum penerapan safeguard.

“Terakhir, indikasi transhipment dari Malaysia untuk produk-produk dari Tiongkok dan Vietnam,” ujar dia.

Edy menerangkan, untuk mempertahankan momentum pemulihan dan kebangkitan industri keramik setelah penurunan harga gas US$ 6 per mmbtu, pihaknya mendesak langkah-langkah konkret perlindungan dan penguatan industri keramik. Contohnya, pembatasan pelabuhan impor tertentu dan penetapan harga minimum impor (import price).

“Industri keramik Nasional harus mendapatkan atensi khusus, karena merupakan industri strategis yang menyerap tenaga kerja cukup besar, 150 ribu orang lebih dan dengan TKDN tinggi, rata-rata 75% lebih,” ujar dia. Edy

menegaskan, Asaki sedang mengajukan perpanjangan safeguard keramik. Sebab, gangguan serbuan impor keramik jenis homogeneus tiles (HT) telah menyebabkan kapasitas menganggur 56% untuk industri domestic sejenis,” ujar Edy.

Asaki, kata dia, optimistis mampu bangkit kembali ke masa kejayaan pada 2013 sebagai big five top ceramic manufacturing countries, jika mendapatkan dukungan dan atensi pemerintah.

“Pada 2021, Asaki memproyeksikan utilisasi berkisar 74-75%, naik dari 2020 56% dan 2019 65%,” ucap dia.

Di tempat terpisah, Ketua Umum Forum Suplier Bahan Bangunan Indonesia (FOSBBI) Antonius Tan mengungkapkan, impor keramik premium salah satunya HT sesungguhnya tidak akan menggangu keberlangsungan produk lokal.

“Bukan apple to apple, jadi tidak akan mengganggu. Justru saling melengkapi dan sasarannya adalah segmen kelas menengah atas,” kata Antonius.

Dia menerangkan, importasi HT akan terhenti dengan sendirinya, tanpa perlu dihambat dengan ketentuan safeguard dan pelarangan penggunaan produk keramik impor, bila industri lokal siap dan mampu memproduksi produk premium. Minimnya ketersediaan bahan baku di dalam negeri dan pendukung menjadi hambatan kalangan industri keramik dengan sasaran produk premium.

Antonius menerangkan, sejak awal berdiri, industri keramik sudah memanfaatkan red clay (tanah liat merah) yang melimpah di dalam negeri, sehingga hanya memproduksi keramik red body. Sementara itu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk premium white body adalah white clay (kaolin).

“Di Indonesia yang berlimpah hanya red clay, sehingga wajar saja mayoritas industri lokal lebih fokus pada keramik red body, dengan segmen pasar kelas menengah bawah. Sementara itu, pasar impor yang sudah tercipta sejak 15 tahun lalu mayoritas mengimpor keramik porselen dan granite (white body),” kata dia

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN