Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas PLN sedang memriksa rutin di Gardu Induk Cengkareng , Jakarta Barat. Foto: IST

Petugas PLN sedang memriksa rutin di Gardu Induk Cengkareng , Jakarta Barat. Foto: IST

Sampai Awal 2020, Tarif Listrik Tidak Naik

Rangga Prakoso, Kamis, 12 September 2019 | 15:27 WIB

JAKARTA, investor.id-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa tarif listrik pada awal 2020 tidak akan naik, meskipun subsidi listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dipangkas. Rendahnya harga energi primer seperti batu bara dan gas menjadi faktor utama tarif listrik tak akan naik pada tahun mendatang.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pengurangan subsidi listrik masih dibahas oleh Badan Anggaran DPR. Kementerian ESDM masih menunggu seperti apa keputusannya. Dia belum bisa memastikan pelanggan listrik apa saja yang subsidi listriknya dianulir. "Kita tunggu mana hasilnya yang detail, nanti baru kita publikasikan. Walaupun pengurangan subsidi belum tentu menaikkan tarif listrik," kata Jonan di Jakarta, Kamis (12/9).

Dalam rapat kerja Komisi VII DPR dalam penetapan asumsi makro, Kementerian ESDM mengusulkan subsidi listrik sebesar Rp 62,21 triliun. Besaran subsidi listrik dialokasi antara lain kepada pelanggan dengan daya 450 volt VA, daya 900 VA dan 900 VA rumah tangga mampu. Adapun rinciannya subsidi pelanggan 450 VA sebesar Rp 32,17 triliun, pelanggan 900 VA Rp 9,12 triliun serta pelanggan 900 VA rumah tangga mampu Rp 7,11 triliun. Usulan ini disetujui dalam rapat kerja tersebut dan dibawa ke Badan Anggaran DPR. Namun dalam pembahasan Banggar dibahas mengenai pencabutan subsidi golongan 900 VA rumah tangga mampu.

Jonan menuturkan, tarif listrik tak akan melonjak meski subsidi listrik dipangkas. Pasalnya, harga energi primer belakangan ini melemah seperti batu bara maupun gas. Kedua jenis komoditas itu merupakan bahan bakar mayoritas pembangkit listrik yang memenuhi kebutuhan daya di dalam negeri. Selain itu, nilai tukar rupiah pun stabil di kisaran Rp14.000/US$. "Kalau kami lihat harga gas turun banyak dalam enam bulan terakhir, harga batubara juga turun. Penurunan paling terlihat di harga batubara. Untuk kalori 6.322 GAR harganya sekitar US$ 65 per ton jadi mestinya harga listrik tidak perlu ada penyesuaian naik," ujarnya.

Menurut dia, harga khusus batu bara tetap berlaku hingga akhir 2019 nanti. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM No.1410 K/30/MEM/2018 terkait harga khusus batu bara yang mulai berlaku sejak 12 Maret 2018 hingga 31 Desember 2019. Beleid tersebut mengatur harga khusus batu bara bagi pembangkit listrik ditetapkan US$70 per ton jika harga batu bara acuan (HBA) berada di atas US$70 per ton. Namun bila harga di bawah US$ 70 per ton maka transaksi batu bara bagi pembangkit listrik merujuk pada HBA. Merujuk pada ketentuan itu maka saat ini PLN membeli batu bara mengacu pada HBA lantaran harga komoditas di bawah US$ 70 per ton.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani meminta pemerintah tetap memberlakukan harga khusus tersebut di 2020 mendatang. Dengan harga khusus itu maka menjaga tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat tatkala harga komoditas melonjak. "Bahan bakar itu porsinya 60-70% dari biaya pokok penyediaan tenaga listrik," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN