Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi)

Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi)

Sawit Setor Devisa US$ 25,6 M, Terbesar Selama 20 Tahun Terakhir

Sabtu, 6 Februari 2021 | 18:35 WIB
Tri Listiyarini

Jakarta, investor.id-Industri sawit nasional sepanjang 2020 menghasilkan devisa US$ 25,60 miliar, terbesar yang pernah dihasilkan industri sawit nasional dalam 20 tahun terakhir. Dengan devisa sebesar itu, industri sawit telah membuat neraca perdagangan Indonesia mencatatkan rekor baru yakni mengalami surplus sebesar US$ 21,70 miliar pada 2020.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung mengatakan, meski dihadang pandemi Covid-19, industri sawit Indonesia bukan hanya mampu bertahan dari sengatan virus tersebut tapi juga mampu mengukir prestasi terbaik. “Industri sawit Indonesia pada 2020 mencatat rekor baru dengan perolehan devisa US$ 25,60 miliar, ini yang terbesar dalam 20 tahun terakhir,” kata Tungkot Sipayung dalam keterangan yang diterima Investor Daily di Jakarta, Sabtu (6/2).

Dia menjelaskan, devisa tersebut berasal dari dua sumber. Pertama, devisa dari hasil ekspor minyak sawit sepanjang 2020 sebesar US$ 23 miliar. Devisa tersebut merupakan penyumbang terbesar dalam surplus neraca perdagangan nonmigas tahun 2020, yakni dari US$ 27,70 miliar net ekspor nonmigas dan sekitar 83% di antaranya disumbang devisa sawit. Kedua, penghematan devisa impor dari kebijakan mandatori biodiesel B30. Volume biodiesel yang terserap untuk program B30 itu mencapai 8,46 juta kiloliter (kl) yang setara penghematan devisa impor solar fosil US$ 2,60 miliar. Penghematan devisa impor sebesar US$ 2,60 miliar itu membuat defisit neraca perdagangan migas mengecil menjadi US$ 5,90 miliar, bila tidak ada B30 maka defisit migas naik menjadi US$ 8,50 miliar.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Tungkot, berarti devisa sawit dari ekspor sawit membuat surplus besar pada neraca nonmigas, sementara kebijakan B30 membuat defisit migas makin kecil. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mengalami surplus US$ 21,70 miliar. “Ini adalah rekor baru surplus neraca perdagangan yang pernah dicapai Indonesia. Tidak hanya sekadar mencatat rekor baru devisa sawit, industri sawit juga telah membawa neraca perdagangan Indonesia mencatat rekor baru,” jelas dia. Tungkot menuturkan, industri sawit nasional secara konsisten telah memberikan sumbangsihnya pada penyehatan neraca perdagangan Indonesia. Tidak banyak sektor ekonomi nasional yang mampu berperan seperti industri sawit.

Devisa sawit selain besar juga lebih berkualitas dilihat dari sudut pembangunan. Alasannya, lanjut Tungkot, pertama adalah devisa sawit itu sekitar 80% berasal dari ekspor produk olahan, sedangkan kontribusi ekspor bahan mentah (crude palm oil/CPO) hanya 20%, artinya devisa sawit tersebut merupakan keberhasilan hilirisasi sawit di dalam negeri. Kedua, devisa sawit tersebut dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya domestik melalui perkebunan sawit yang tersebar pada 200 lebih kabupaten, yang berarti terjadi penciptaan pendapatan (income generating) pada sentra-sentra kebun sawit tersebut. Ketiga, hasil sinergi korporasi dengan 3 juta usaha kecil menengah (UKM) petani sawit dan melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja langsung dan tak langsung. Keempat, dalam menghasilkan devisa sawit tersebut industri sawit tidak membebani anggaran pemerintah, sebaliknya malah menciptakan pendapatan negara berupa berbagai jenis pajak.

Tungkot Sipayung berharap pada masa yang akan datang, industri sawit kembali mencatat rekor baru yang lebih baik untuk bangsa dan negara. Perpaduan kebijakan dan inovasi peningkatan produktivitas kebun dan hilirisasi, baik untuk promosi ekspor dan subsitusi impor yang berkelanjutan, akan melahirkan lompatan prestasi baru pada industri sawit nasional.

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN