Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indonesia Economic Outlook 2022 Hipmi-Apkasi, 25 Januari 2022, dengan opening remark Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Marves Luhut Binsa Pandjaitan, dan keynote speech Wamenkeu Suahasil Nazara.

Indonesia Economic Outlook 2022 Hipmi-Apkasi, 25 Januari 2022, dengan opening remark Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Marves Luhut Binsa Pandjaitan, dan keynote speech Wamenkeu Suahasil Nazara.

DUKUNG GREEN ECONOMY,

Sektor Keuangan Internasional akan Makin Selektif Beri Kredit Dunia Usaha

Selasa, 25 Januari 2022 | 22:29 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan sektor keuangan di dunia bakal makin selektif memberikan kredit kepada dunia usaha. Pasalnya sektor keuangan akan lebih mendukung sektor usaha yang fokus pada pengembangan ekonomi hijau (green economy).

"Saya bisa katakan kepada ibu atau bapak (pengusaha), beberapa waktu kedepan sektor keuangan di Indonesia maupun internasional akan semakin ingin memberikan kredit atau pembiayaan, memberikan support, kepada green economy. Pasti itu," kata Suahasil dalam acara Indonesia Economic Outlook 2022 Hipmi, Selasa (25/1/2022).

Tak hanya itu,  pembahasan mengenai ekonomi hijau menjadi perdebatan yang paling intens dalam KTT G20 terkait mencari upaya bersama dan masing-masing negara untuk mengatasi perubahan iklim, transformasi dan reformasi ekonomi berkelanjutan tidak boleh berhenti meski pandemi Covid-19.

Bahkan pada tahun 2060 nanti, Indonesia berkomitmen mencapai net zero emission, hal ini seusai dengan pembahasan dalam COP26 di Glasgow beberapa waktu lalu.  Selain itu, komitmen Indonesia juga dituangkan dalam Paris Agreement dan menyepakati penurunan emisi 29%  dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan global financial market.

“Transformasi ekonomi tidak boleh berhenti meski masih dalam pandemi. Transformasi ekonomi yang tidak boleh berhenti semacam hlirisasi sumber daya alam.  Iya kita miliki SDA, iya kita bisa ekspor SDA setelah kita ambil. Tapi enggak boleh dilupakan kalau bisa diproses lebih lanjut dalam negeri,”tegasnya.

Di sisi lain, Indonesia mulai memperkenalkan pajak karbon dan pasar karbon sebagai bagian dari agenda masa depan. Pajak karbon diatur dalam UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Tarif terendah pajak karbon adalah Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

Hal ini pun menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju yang telah melaksanakan kebijakan serupa, seperti Inggris, Jepang, dan Singapura.

"Jadi untuk pengusaha muda, saya rasa baik untuk melihat gerak daru green economy agenda Indonesia, karena seluruh yang saya sampaikan soal health dan ekonomi, sustainability ke depan, itulah item-item yang sangat-sangat intens (dibahas) di G20," tandas Suahasil.

Adapun saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah meluncurkan Taksonomi Hijau untuk mendukung pengembangan ekonomi hijau.

Adapun taksonomi hijau disusun dengan mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan sub-sektor ekonomi, dimana 919 di antaranya telah dikonfirmasi oleh kementerian terkait.

Selain itu, taksonomi hijau yang tercakup dalam Sustainable Finance tahap kedua tahun 2021-2025, untuk sektor jasa keuangan akan menjadi pedoman bagi penyusunan kebijakan baik pemberian insentif maupun disinsentif dari berbagai Kementerian dan Lembaga (K/L) termasuk OJK.

"Taksonomi hijau akan jadi patokan di sektor keuangan kita, untuk memberi tahu yang ini loh, yang namanya taksonomi hijau. Ini fenomena masa depan yang harus kita mulai urus di masa kini," jelas Suahasil.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN