Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gita Wiryawan. Foto: IST

Gita Wiryawan. Foto: IST

Sektor Prospektif: Farmasi, Telekomunikasi, dan Bisnis Berbasis Digital

Senin, 6 Juli 2020 | 11:50 WIB
Thomas Harefa (thomas@investor.co.id) ,Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Geliat roda bisnis yang perlahan bangkit sepanjang bulan Juni seiring pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menumbuhkan optimisme baru. Indeks manufaktur menunjukkan tren positif, permintaan kredit meningkat, serta penjualan sejumlah sektor bisnis membaik.

Kalangan pengusaha, asosiasi, dan bankir berharap, pelonggaran PSBB dan pembukaan sektor-sektor bisnis ini jangan diperketat lagi meski perkembangan jumlah positif Covid-19 masih tinggi. Yang terpenting, semua pelaku bisnis disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan disertai pengawasan yang ketat. Mereka juga berharap pencairan stimulus pemulihan ekonomi dipercepat.

Demikian rangkuman wawancara Investor Daily dengan kalangan pengusaha, pimpinan asosiasi dunia usaha, dan para bankir di Jakarta, Sabtu (4/7) dan Minggu (5/7/2020).  

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Gita Wirjawan menilai, tren bisnis hingga akhir tahun belum akan terlalu semarak karena kehati-hatian masyarakat seluruh dunia terhadap potensi gelombang kedua Covid-19.

“Namun, tetap ada sektor yang prospektif, seperti farmasi, telekomunikasi, dan bisnis berbasis digital,” kata Gita.

Dalam pandangan Gita, pelonggaran PSBB dan situasi kondusif harus terus dijaga. Meski data positif Covid-19 masih tinggi, pemerintah jangan sampai mengerem berbagai sektor bisnis yang sudah telanjur dibuka. Yang penting, kata Gita, protokol kesehatan harus benar-benar dijalankan dan diawasi ketat.

Gita juga mendesak pencairan stimulus dipercepat untuk mendorong daya beli dan mendongkrak produksi.

“Pencairan stimulus yang lambat bisa memicu kelumpuhan permanen di beberapa unsur. Jadi yang diperlukan adalah kecepatan, ketepatan, dan keterpaduan policy response,” katanya.

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Adapun Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyatakan, pelonggaran PSBB memasuki new normal membuat roda ekonomi kembali berputar. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan tren positif. Posisi Juni mencapai 39,1, naik 10 poin dibanding Mei yang masih di level 28,6. “Itu merupakan angin segar. Artinya, industri manufaktur mulai meningkatkan kinerja,” kata dia.

Dia mendesak pencairan stimulus untuk masyarakat dan UMKM lebih lancar agar daya beli masyarakat bangkit. Demikian pula stimulus untuk dunia usaha, sehingga produksi berangsur normal.

Shinta meminta sosialisasi dan komunikasi peraturan ke dunia usaha harus lebih intensif karena selama ini banyak yang membingungkan.

“Banyak perusahaan yang merasa bingung dan terus bertanya soal compliance untuk beroperasi pada new normal. Komunikasi aturan-aturan kurang lancar, multi-interpretasi, dan tidak ada hotline untuk berkonsultasi,” ujar dia.

Bagi Shinta, stimulus fiskal dan stimulus modal kerja sangat dibutuhkan pengusaha saat ini, untuk menopang permintaan yang belum stabil sementara arus kas perusahaan dalam kondisi kritis. Terlebih lagi ada lonjakan biaya operasional karena harus menerapkan protokol kesehatan. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto juga meminta aktivitas bisnis jangan sampai ditutup lagi meski jumlah positif Covid-19 cenderung tinggi.

“Aktivitas bisnis sudah mulai ramai. Jangan sampai ditutup lagi, saat ini banyak sekali terjadi PHK,” ujar Yugi.

Ia berpendapat pada masa pandemic saat ini, bisnis perikanan, penjualan makanan secara online, transportasi, kuliner, logistik, dan farmasi banyak diminati masyarakat.

Juan Permata Adoe
Juan Permata Adoe

Pendapat senada diungkapkan Wakil Ketua Umum Kadin Juan Permata Adoe.

Dia mendesak percepatan implementasi kebijakan stimulus karena sangat penting untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi. Kemarahan Presiden Jokowi terhadap lambannya pencairan stimulus sehingga mengancam dilakukannya reshuffle kabinet, kata Juan, harus dijadikan pelecut agar para menteri dan pimpinan lembaga berkerja lebih optimal dan profesional. (leo/esa/epa/ed/hg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN