Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani. Sumber: BSTV

Menkeu Sri Mulyani. Sumber: BSTV

Semester I, Realisasi Defisit APBN Rp 257,8 Triliun.

Kamis, 9 Juli 2020 | 17:06 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan defisit APBN 2020 mencapai Rp 257,8 triliun selama semester I-2020. Defisit ini setara dengan 1,57% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau dari Perpres 72/2020 mencapai Rp 1.039,2 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, defisit ini lebih dalam dibandingkan realisasi defisit periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 135,1 triliun atau hanya 0,86% terhadap PDB. Defisit ini disebabkan oleh penerimaan negara yang masih tertekan atau minus, sementara belanja negara tumbuh lebih cepat.

Jika dirinci sisi penerimaan negara hingga semester I terkumpul Rp 811,2 triliun atau turun 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy), tahun lalu pendapatan negara mencapai Rp 899,6 triliun. Adapun nilai realisasi penerimaan negara tersebut setara 47,7% dari target pemerintah yang tertuang dalam Perpres 72/2020 yang sebesar Rp 1.699,9 triliun.

Menurut Menkeu, pendapatan negara yang minus 9,8% masih sejalan dengan perkiraan defisit pada pendapatan negara tahun ini yang minus 10%.

“Ini masih on track dengan estimasi kami negatif dengan pertumbuhan pendapatan negara sebesar 10%,” kata Menkeu dalam rapat Panja Banggar, DPR, Kamis (9/7).

Ia mengatakan, penerimaan negara yang turun disebabkan oleh penurunan sisi penerimaan pajak mencapai Rp 531,7 triliun atau setara dengan 44% terhadap Perpres 72/2020. Penerimaan pajak tercatat turun hingga 12% (yoy). Sementara itu penerimaan cukai dan kepabeanan masih tumbuh positif 8,8% (yoy) atau Rp 93,2 triliun dan sudah 45,3% terhadap Perpres 72/2020.

“Penerimaan pabean dan cukai tumbuh positif 8%, tetapi mengalami perlambatan dibandingkan tahun lalu yang mampu tumbuh 19% secara yoy”tuturnya.

Kemudian sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga tertekan hingga semester I PNBP tercatat Rp 184,5 triliun atau setara 62,7% terhadap pagu dalam Pepres 72/2020, dan PNBP tercatat negatif 11,8%(yoy).

“PNBP tertekan sangat dahsyat dari harga komoditas yakni penerimaan semester I sebesar Rp 184,5 triliun negatif growth 11,8%,” tuturnya.

Penerimaan PNBP tersebut terdiri dari PNBP sumber daya alam yang terkontrakasi disebabkan turunnya harga komoditas, sehingga PNBP SDA hanya Rp 54,5 triliun pada akhir Juni 2020, turun 22,9% (yoy). Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan Juni 2019 yang turun hanya 5,8% (yoy).

“Sisi harga minyak dan komoditas mengalami dampak luar biasa. Minyak mengalami penurunan luar biasa besar tak hanya karena Covid-19 tapi tensi Arab dengan Rusia. Bahkan harga minyak sempat alami negatif satu hingga dua hari,” jelas dia.

Sementara itu untuk PNBP non-SDA realisasinya Rp 130 triliun atau setara 60,5% terhadap pagu Perpres 72/2020, namun turun 6,1% secara yoy. Padahal PNBP nonsumber daya alam ini mampu tumbuh hingga 36% pada Juni 2019. Penerimaan negara dari hibah mencapai Rp 1,7 triliun, atau sudah 133% dari Perpres 72/2020.

“Penerimaan hibah realisasi Rp 1,7 triliun dan sudah 133% dari Perpes 72/2020, namun jumlah sangat kecil untuk mempengaruhi kesleuruhan postur pendapatan negara,” jelas dia.

Belanja Negara 39%

Sementara itu, belanja negara hingga semester I tercapai Rp 1.068,9 triliun atau sudah terealisasi 39% dari target Perpres 72/2020 sebesar Rp 2.739, 2 triliun. Namun masih melambat jika dibandingkan Juni 2019 yang mampu tumbuh 9,6% (yoy).

“Belanja negara yang ditargetkan sudah mencapai 39% atau tumbuh 3,3%,” jelasnya.

Kemudian rincian untuk belanja pemerintah pusat mencapai Rp 668,5 triliun atau tumbuh 6% (yoy). Pertumbuhannya juga melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu 13% (yoy). Belanja kementerian dan lembaga mencapai Rp 350,4 triliun, tumbuh melambat 2,4% (yoy). Sementara belanja nonkementerian dan lembaga Rp 318,1 triliun, tumbuh 10,3% (yoy). Realisasi transfer ke daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp 400,4 triliun, turun 0,9% (yoy).

Lebih lanjut, untuk sisi pembiayaan anggaran hingga semester I terealisasi Rp 416,2 triliun atau 40% dari target revisi Perpres 72/2020. Dengan demikian, kata Menkeu, penanganan Covid-19 memang mempengaruhi pendapatan negara di berbagai sektor.

"Realisasi APBN semester I-2020, defisit mencapai 1,57% terhadap PDB. Ini sejalan dengan turunnya pendapatan akibat perlambatan ekonomi, sedangkan kinerja belanja tetap dapat tumbuh positif dalam rangka mendukung penanganan dampak Covid-19," jelasnya.

 

 

 

 

Editor : Trimurti (trimurti@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN