Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ruang Ritel Jakarta. Foto ilustrasi: IST

Ruang Ritel Jakarta. Foto ilustrasi: IST

Semester Pertama Tak Ada Pasokan Ritel Masuk

Kamis, 6 Agustus 2020 | 16:46 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Konsultan properti Cushman & Wakefield menilai, meski pada awal Juni 2020 pemerintah mulai melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tetapi sampai semester I ini, belum ada pasokan ruang ritel terbaru.

“Tidak ada pasokan baru yang tercatat di 6 bulan pertama 2020 dan beberapa proyek yang direncanakan dibuka di 2020 telah ditunda hingga 2021,” kata Executive Director Retail, Cushman & Wakefield Lini Djafar, dalam siaran pers, Kamis (6/8).

Menurutnya, ada pasokan baru dari beberapa proyek seperti Green Sedayu Mall dan Senayan Park, yang awalnya dijadwalkan buka pada kuartal 1 2020, kini diproyeksikan untuk masuk ke pasar pusat perbelanjaan Jakarta pada kuartal ketiga.

Pada masa “PSBB Transisi” ini, pusat perbelanjaan di Jakarta diizinkan untuk beroperasi secara bertahap dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat, termasuk membatasi jumlah pengunjung secara umum.

Ritel sektor rekreasi seperti bioskop, pusat kebugaran, karaoke, tempat bermain anak, dan tipe operator lain yang dianggap berisiko tinggi dalam penyebaran Covid-19 masih dalam tahap peninjauan untuk pembukaan kembali di fase relaksasi PSBB selanjutnya.

Menurutnya, pasokan pusat perbelanjaan yang terbatas dapat membantu pemilik bangunan untuk menjaga kestabilan harga sewa ritel hingga akhir tahun. Beberapa merek ritel kemungkinan akan dapat mengambil kesempatan ini untuk mencari lokasi yang unggul untuk rencana ekspansi ritel pasca-pandemi.

Satu hal yang jelas adalah para peritel perlu meningkatkan strategi penjualan omni channel mereka dengan memberdayakan teknologi termasuk penjualan virtual untuk menarik konsumen, mengingat sarana ini terus berkembang sebagai mode transaksi utama untuk konsumen, terutama para konsumen muda yang lebih terbiasa dengan teknologi.

Lini Djafar mengatakan, seperti perkiraan, penutupan sementara mal selama 3 bulan telah menimbulkan dampak pada para penyewa, dengan beberapa peritel kecil yang tidak dapat bertahan memutuskan untuk tutup secara permanen.

Hal ini menyebabkan penurunan tingkat hunian pusat perbelanjaan secara umum sebesar 1.3% dari kuartal sebelumnya, menjadi 79.5%.

Keadaan ini dipersulit dengan kondisi jumlah pengunjung yang terbatas di mal, sehingga beberapa peritel memutuskan untuk memperpanjang masa fit-out atau menunda aktivitas fit-out hingga waktu yang tidak ditetapkan dalam waktu dekat, yang menambah tantangan pada tingkat hunian di kuartal 2 2020.

Sejak awal masa pandemi, permintaan untuk ruang ritel telah menurun secara signifikan. Walau demikian, beberapa penyewa tetap optimistis bahwa bisnis mereka akan pulih pada 2021 dan terus mencari lokasi baru untuk ekspansi bisnis di tahun depan.

“Penyewa diproyeksikan akan lebih berfokus untuk mengakselerasikan integrasi penjualan online dan offline mereka untuk menjaga dan meningkatkan bisnis selama kondisi pandemi ini,” katanya.

Sedangkan untuk harga , rata-rata biaya sewa dan service charge tidak mengalami perubahan pada pasar pusat perbelanjaan Jakarta jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, walau terjadi pengurangan pada jumlah permintaan.

“Harga sewa rata-rata berada di Rp 807.700,00 per meter persegi per bulan untuk toko khusus (specialty store) di lantai dasar, sementara service charge rata-rata berada di Rp190.400,00 per meter persegi per bulan,” katanya.

Beberapa pemilik mal bersiap untuk meninjau kondisi bisnis penyewa secara individu terkait pandemi dalam basis case-by-case, dengan peritel ‘esensial’ (peritel dengan bisnis yang tetap kuat di saat pandemi) diharapkan untuk tetap membayar sewa sesuai dengan kontrak yang telah disetujui, sementara penyewa yang terkena dampak terbesar dapat diberikan keringanan biaya sewa atau penundaan pembayaran yang disepakati.

“Kondisi ini diproyeksikan untuk tetap bertahan hingga akhir tahun 2020 selagi pandemi tetap berjalan,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN