Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Sering Jadi Penyelamat Ekonomi, Sektor Pertanian Hadapi Tantangan Berat

Rabu, 17 Februari 2021 | 16:49 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  – Di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19, sektor pertanian sepanjang 2020 lalu masih berhasil mencatatkan pertumbuhan positif hingga 1,75%. Padahal ekonomi Indonesia terkontraksi hingga 2,07%. Selain itu, kinerja ekspor produk pertanian juga tetap meningkat sebesar 14,03%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyampaikan, meskipun sektor pertanian kerap menjadi penyelamat ekonomi saat krisis moneter dan juga saat pandemi, sektor tersebut saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya beban tenaga kerja sektor pertanian yang meningkat akibat terjadi lonjakan pengangguran selama pandemi.

“Karena banyak yang terkena PHK di kota, akhirnya mereka kembali ke desa, sehingga tenaga kerja sektor pertanian meningkat dari 27,53% di 2019 menjadi 29,76%. Jadi ketika share pertanian ke PDB hanya 13%, sementara pertanian harus menanggung 29,76% tenaga kerja, beban sektor pertanian menjadi berat. Dengan membaginya, kita bisa melihat bahwa produktivitas pertanian juga akan semakin menurun,” kata Suhariyanto dalam webinar yang digelar Indef, Rabu (17/2/2021).

Suhariyanto juga melihat SDM di pertanian kurang menguntungkan, di mana 65,23% berpendidikan SD ke bawah. Dari sisi usia, 32,39% berusia antara 45-59 tahun, dan 21,7% berusia di atas 60 tahun.

“Jadi ini perlu menjadi perhatian, di mana sektor pertanian didominasi oleh SDM yang berpendidikan rendah dengan usia yang sudah lanjut. Sehingga ke depan kita perlu mencari cara bagaimana generasi muda bisa masuk ke sektor pertanian,” ujarnya.

Tantangan berikutnya terkait harga yang selalu jatuh di saat panen, sehingga petani kerap mengalami kerugian. Selain itu, nilai tukar petani juga tergolong rendah.

“Pada 2020, secara umum nilai tukar petani memang naik dibandingkan 2019, tetapi hanya 0,74%. Bahkan bila dibedah menurut sub sektor, kenaikan nilai tukar petani yang paling besar hanya terjadi di perkebunan. Ini pun lebih disebabkan oleh kenaikan harga,” paparnya.

Tantangan selanjutnya terkait upah riil buruh tani yang cenderung melemah, sedangkan inflasi terus naik.

“Dari sini kita bisa melihat bahwa daya beli para buruh tani sangat rendah sekali. Yang terjadi kemudian, buruh tani menjadi tidak menarik. Banyak yang kemudian beralih ke buruh bangunan yang nominal upahnya menjadi lebih tinggi,” kata Suhariyanto.

BPS juga telah merilis persentase penduduk miskin pada September 2020 sebesar 10,19% atau 27,55 juta orang. Dibandingkan September 2020, jumlah penduduk miskin ini meningkat 2,76 juta orang. 

“Kalau kita lihat menurut sumber penghasilan utama, sebagian besar rumah tangga miskin bekerja di sektor pertanian atau 46,30%,” ungkap Suhariyanto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN