Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Setahun, Nilai Kepemilikan Emas BI Bertambah Rp 6,6 Triliun

Rabu, 27 Mei 2020 | 13:43 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id - Saldo kepemilikan emas Bank Indonesia (BI) per 31 Desember 2019 secara bobot fisik mencapai 2.525.984,11 troy ounce (TOz) atau meningkat 857,76 TOz dari posisi 31 Desember 2018 yang tercatat 2.525.126,32 TOz. Sedangkan secara nominal rupiah, nilai saldo kepemilikan emas itu meningkat Rp 6,61 triliun yaitu dari Rp 46,87 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 53,48 triliun pada akhir 2019.

Peningkatan saldo kepemilikan emas tersebut di antaranya dikarenakan Bank Indonesia melakukan swap allocation koin emas sebesar 857,76 TOz pada 2019. Koin emas yang nilainya setara dengan Rp 18,16 miliar itu semula disajikan pada aset lainnya dan kemudian di-swap allocation menjadi emas batangan.

Selain itu, kenaikan saldo kepemilikan emas BI itu juga dipicu oleh lonjakan harga emas batangan di pasar emas London yang per 31 Desember 2019 mencapai US$ 1.523 per TOz. Sementara setahun sebelumnya yakni per 31 Desember 2018, harga emas masih US$ 1,281,65 per TOz.

“Emas yang dimiliki Bank Indonesia terdiri dari emas batangan dan hak kontraktual atas emas batangan,” tulis Bank Indonesia dalam Laporan Tahunan Bank Indonesia (LTBI) 2019 yang diluncurkan di Jakarta, pada Selasa (26/5). Dalam LTBI 2019 itu termuat Laporan Keuangan Tahun Bank Indonesia (LKTBI) 2019 yang meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dari total saldo kepemilikan emas Rp 53,48 triliun, yang berwujud dalam bentuk emas batangan senilai Rp 49,71 triliun, sedangkan yang berwujud hak kontraktual atas emas batangan yaitu deposito berjangka emas sebesar Rp 3,77 triliun.

Emas adalah bagian dari cadangan devisa yang ditujukan antara lain sebagai penyangga likuiditas dalam mendukung pelaksanaan kebijakan moneter dan/atau pemenuhan kewajiban dalam valuta asing.

Pada saat perolehan, emas diukur berdasarkan biaya perolehan. Sedangkan pada tanggal pelaporan, saldo emas diukur berdasarkan nilai wajar yaitu harga emas yang tersedia di pasar London, yang dihitung ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada akhir periode pelaporan.

“Selisih yang timbul antara jumlah tercatat sebelumnya dengan jumlah hasil penjabaran saldo tersebut diakui sebagai selisih revaluasi pada kelompok liabilitas dalam Laporan Posisi Keuangan,” tulis Bank Indonesia.

Sementara keuntungan dan kerugian karena penghentian pengakuan diakui dalam laporan surplus/defisit pada tahun berjalan. “Emas disajikan pada laporan posisi keuangan secara neto setelah dikurangi penyisihan penurunan nilai. Transaksi emas dijabarkan kedalam rupiah dengan menggunakan kurs pada tanggal transaksi,” pungkas BI.

BI berhasil membukukan surplus pengelolaan keuangan tahun berjalan sebesar Rp 33,35 triliun pada 2019. Angka ini turun dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang sebesar Rp 48,01 triliun. Surplus itu diraih setelah selama 2019 bank sentral berhasil mencatatkan jumlah penghasilan sebesar Rp 91,80 triliun, sementara jumlah beban Rp 46,58 triliun.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN