Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Preskom PT Siloam International Hospitals Tbk John Riady pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Preskom PT Siloam International Hospitals Tbk John Riady pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

PRESKOM SILOAM JOHN RIADY:

Setelah Pandemi akan Banyak Pasien Indonesia yang Tak Lagi Berobat ke LN

Minggu, 17 Oktober 2021 | 16:40 WIB
Primus Dorimulu (primus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  — Pandemi Covid-19 tidak saja mengungkapkan rendahnya kapasitas medis di Indonesia, melainkan juga membuka mata pasien akan kemampuan sejumlah rumah sakit Indonesia yang terbukti tidak kalah bagusnya dibanding rumah sakit di  luar negeri.  Salah satu indikator adalah meningkatnya pasien non-Covid selama pandemi di RS Siloam. Diperkirakan, setelah pandemi, pasien yang sudah merasakan pelayanan rumah sakit Indonesia akan tetap memilih berobat di dalam negeri.

“Pasien normal selama pandemi meningkat siginfikan dan itu memberikan patient experience,” kata Preskom PT Siloam International Hospitals Tbk John Riady pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Hadir pada kesempatan itu Presdir PT  Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan dan mantan Presdir PT Siloam International Hospital Tbk Ketut Budi Wijaya yang kini dipercayakan sebagai  presdir PT Lippo Cikarang Tbk.

Sebelum pandemi, banyak pasien tajir Indonesia berobat di luar negeri, terbanyak ke Malaysia dan Singapura. Banyak devisa Indonesia yang lari ke luar negeri. Pengalaman mendapatkan pelayanan rumah sakit Indonesia selama pandemi akan mendorong mereka memilih untuk tetap berobat di Indonesia setelah pandemi sekaligus menahan devisa di sini. “Pelayanan di Siloam tidak kalah dibanding luar negeri. Pengalaman bagus yang telah dialami pasien akan tetap kita jaga,” ujar Darjoto.

Presdir PT  Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021).  Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Presdir PT Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan pada diskusi dengan para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Mulai beroperasi tahun 1992 dengan nama Rumah Sakit Siloam Gleneaglas, Siloam Hospital Group (Siloam) kini sudah memiliki 41 rumah sakit di 23 kota di seluruh Indonesia, yakni 14 di Jadebotabek, tujuh di Jawa (luar Jadebotabek), lima Sumatera, enam di  Bali dan Nusa Tenggara, tiga di Kalimantan,  lima di Sulawesi, dan satu di Maluku. Didukung 2.700 dokter umum dan spesialis, lebih dari 15.000 perawat dan staf pendukung, Siloam memberikan pelayanan kepada sedikitnya dua juta pasien setiap tahun.

Pengalaman selama 29 tahun dan jaringan yang luas menempatkan Siloam sebagai pengelola rumah sakit  terkemuka di Indonesia dan menjadi  benchmark pelayanan kesehatan berkualitas di Tanah Air.  Kemajuan Siloam ditopang Fakultas Kedokteran (FK) dan School of Nursing (SoN) atau Sekolah Perawat  Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Mochtar Riady Institute of Nanotechnology (MRIN).  Selain memiliki FK dan Sekolah Perawat, Siloam banyak mengirim dokter umum untuk mengambil spesialiasi di luar negeri. Kemajuan Siloam didukung oleh ekosistem yang sudah terbentuk.

Kualitas pelayanan Siloam sudah mendapat pengakuan Internasional. Pada tahun 2014, Siloam memperoleh pengakuan dari tiga lembaga akreditasi kesehatan internasional, yakni dari Amerika, Indonesia, dan Australia, yaitu Joint Commision International (JCI), Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS), dan Australian Council on Healthcare Standards (ACHS). JCI adalah  instansi internasional  yang menilai standar kualitas rumah sakit di seluruh dunia. Akreditasi tahun 2014 adalah yang ke-9 yang diterima Silioam.  Selama lebih dari 50 tahun, The Joint Commission dan organisasinya, salah satunya adalah JCI,  mendedikasikan diri dalam peningkatan kualitas dan keselamatan kesehatan penduduk di seluruh dunia.

Siloam akan terus membangun rumah sakit baru agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh layanan kesehatan berstandar internasional. Kebutuhan akan layanan rumah sakit masih sangat besar di Indonesia. Oleh karena itu, Siloam menyambut baik kehadiran rumah sakit baru yang dibangun para pengusaha Indonesia. Persoalan Indonesia bukan terutama pada demand side, melainkan pada supply side.

Indonesia membutuhkan rumah sakit dengan dokter dan perawat berkualitas yang tidak saja ahli di bidangnya, melainkan berdedikasi tinggi. Dalam banyak kasus, rumah sakit di Indonesia mengalami kelangkaan perawat.   “Dokter, apalagi dokter spesialis sangat  penting, tapi masalah yang paling banyak terjadi adalah kelangkaan perawat. Karena itu, kami memberikan bea siswa kepada calon mahasiswa perawat untuk belajar di Sekolah Perawat UPH,”  jelas John.

John tidak melihat kehadiran rumah sakit baru milik para konglomerat Indonesia sebagai pesaing.  Ia melihat kehadiran rumah sakit baru itu sebagai rekan kerja yang bersama-sama membangun Indonesia. Siloam tidak bisa bekerja sendiri melayani masyarakat Indonesia yang kini sudah di atas 271 juta jiwa. Apalagi rumah sakit yang bagus tidak cukup hanya mempunyai dokter dan perawat berkualitas, melainkan juga harus memiliki peralatan canggih dan muthakir yang tentunya sangat mahal.

Kehadiran rumah sakit baru yang dibiayai korporasi atau pengusaha  besar akan menngkatkan ketersediaan peralatan medis yang  cangih dan tenaga medis bertaraf internasional.   Dengan kualitas seperti ini, tidak ada alasan bagi pasien Indonesia untuk berobat ke luar negeri.

“Kita sudah masuk era kolaborasi. Bekerja sama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkap John.

Siloam, lanjut dia, tidak semata didorong oleh motif bisnis dalam mengelola rumah sakit, tapi terutama alasan kemanusiaan.   Setiap warga bangsa harus mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik.  Perluasan layanan lewat pembukaan jaringan rumah sakit baru dimaksudkan juga untuk memenuhi skala ekonomi agar rakyat bisa mendapatkan layanan kesehatan yang lebih terjangkau.

Masih Rendah

Preskom PT Siloam International Hospitals Tbk John Riady, Presdir PT  Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan dan mantan Presdir PT Siloam International Hospital Tbk Ketut Budi Wijaya  berfoto bersama para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Foto: IST
Preskom PT Siloam International Hospitals Tbk John Riady, Presdir PT Siloam International Hospitals Tbk Darjoto Setyawan dan mantan Presdir PT Siloam International Hospital Tbk Ketut Budi Wijaya berfoto bersama para pemimpin redaksi di Imperial Golf Club Karawaci, Jumat (15/10/2021). Foto: IST

Pandemi Covid-19  membetot kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan. Dalam pada itu, pandemi akan datang lebih sering pada masa akan datang. Berbagai wilayah di dunia yang sudah semakin interkoneksi memnbuat penyebaran pandemi menjadi lebih cepat. Selain tu, berbagai jenis penyakit, terutama kanker, akan menjadi momok yang menakutkan. Di sinilah pentingnya kehadiran rumah sakit dan berbagai jenis layanan, baik yang offline maupun yang online.

Akan tetapi, kesadaran akan kualitas hidup dan pentingnya kesehatan belum diimbangi oleh pengeluaran untuk membiayai kesehatan. Data Bank Dunia menunjukkan, health expenditure atau pengeluaran untuk kesehatan rakyat Indonesia tahun 2018 baru 2,87% dari produk domestik bruto (PDB). Malaysia sudah di angka 3,76%, Filipina 4,40%, Thailand 3,37%, Singapura 4,46%, dan RRT 5,35%. “AS pengeluaran untuk kesehatan di AS sudah di atas 16%. Paling tidak, Indonesia harus bisa segera ke 6% dari PDB,” papar John.

Dalam konteks ini, kata Darjoto, peran BPJS Kesehatan sangat signifikan. Masyarakat tidak mampu mendapatkan layanan dari peralatan canggih yang sama. Banyak pasien  sakit jantung, paru, ginjal, hingga kanker dari kalangan tidak mampu yang mendapatkan layanan dengan peralatan yang sama saperti  pasien mampu berkat BPJS Kesehatan. 

Pada masa akan datang, demikian John, pelayanan kesehatan akan mengerucut pada dua hal, yakni health and wellness dan personalized medicine. Pertama, manusia tidak hanya memperhatikan health atau kesehatan tubuh, melainkan juga wellness, yakni keseimbangan  fisik, sosial, spiritual, emosional, intelektual, lingkungan, dan kesejahteraan. 

Kedua, konsep pengobatan tidak lagi  diberikan secara umum atau “pukul rata”, melainkan   berdasarkan klasifikasi tertentu atau ciri khas setiap individu. Meski untuk penyakit yang persis sama, dosis obat diberikan sesuai ciri khas , misalnya sesuai metabolisme dan antibodi, setiap individu.  Siloam mulai investasi personalized medicine.

Ke depan, pelayanan kesehatan secara online akan berkembang. Namun, online healthcare dan telemedicine akan berjalan seiring dengan pelayanan offline. Bukan hanya bedah, melainkan ada tindak medis lainnya yang menuntut kehadiran fisik. Namun, pelayanan kesehatan secara online sangat membantu pasien.

“Pengalaman menangani pandemi membuat rumah sakit di Indonesia lebih tangguh. Negara yang pernah menangani pasien severe acute respiratory syndrome (SARS) seperti Singapura lebih baik dalam menangani pasien Covid.  “Ke depan, pandemi akan akan lebih sering dan rumah sakit kita sudah punya pengalaman untuk menanganinya,” ujar John.

Mengapresiasi Pemerintah

John mengapresiasi kebijakan dan kerja keras pemerintah dalam mengendalikan pandemi Covid-19.  Saat ini, pasien Covid yang dirawat di RS Siloam di seluruh Indonesia tinggal sekitar 20.  Pada masa puncak pandemi, pertengahan Juli 2021, pasien Covid yang dirawat di Siloam lebih dari 2.000 orang atau hingga 140% dari kapasitas. “Siloam menerima pasien Covid yang sangat membutuhkan pelayanan medis dan karena kamar tidak mencukupi, pasien terpaksa dirawat di lokasi lain,” jelasnya.

Saat ini, pasien di Jadebotabek tinggal 10 dan di seluruh Indonesia sekitar 20. “Jika vaksinasi berjalan dengan baik dan liburan akhir tahun bisa dikenalikan, pada Januari 2022, kondisi ekonomi akan semakin bagus,” ujar John.

Kebijakan “rem dan gas” yang diterapkan pemerintah, demikian John, terbukti efektif dalam mengendalikan penyebaran Covid dan mendorong pertumbuhan ekonomi.  Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia  tidak mungkin menerapkan kebijakan seperti di Singapura yang hanya semata-mata memperhatikan aspek kesehatan dengan melakukan lock down.

Lewat kebijakan rem dan gas, masyarakat Indonesia dibiarkan tetap beraktivitas dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan.  Jika hanya memperhatikan aspek kesehatan, masalah bisa lebih besar. Karena rakyat yang lapar dan ekonomi yang lumpuh akan memicu berbagai hal yang tidak diinginkan.  “Kebijakan ini berhasil. Singapura yang pernah meremehkan kebijakan Indonesia, kini mulai melonggarkan pergerakan manusia, mengikuti cara Indonesia,” papar John.

Semua pihak perlu  mengapresiasi Presiden,  para menteri,  TNI, Polri,  dan seluruh kepala daerah yang sudah sukses mengendalikan pandemi. “Secara khusus, kami mengapresiasi Presiden dan Menkes yang sudah memberikan kesempatan kepada Siloam untuk ikut berkontribusi kepada negara dengan berpartipasipasi memberikan pelayanan kepada pasien Covid,” ungkap John.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN