Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Simak Penjelasan Ekonom BRI soal Peluang BI Naikkan Suku Bunga

Selasa, 9 Agustus 2022 | 14:05 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anton Hendranata mengatakan Bank Indonesia (BI) memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga acuannya, apabila inflasi inti sudah meningkat lebih tinggi atau menyentuh 3% (yoy).  

Untuk saat ini, BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level terendah yakni 3,5% di tengah tren bank sentral negara-negara maju agresif menaikkan suku bunga. Adapun per Juli 2022 inflasi inti tercatat 2,86 % (year on year/yoy).

"Perlu dipertimbangkan juga inflasi intinya, kalau misalnya mendekati 3% maka suka atau tidak suka rasanya BI harus merespons kenaikan suku bunga acuan," ujarnya dalam acara media briefing BKF Kemenkeu, Senin (8/8/2022).

Selain itu, lanjut dia, yang juga jadi pertimbangan untuk BI menaikkan suku bunga adalah semakin mengecilnya gap interest rate differential antara suku bunga BI dan Bank Sentral AS atau The Fed. Saat ini suku bunga BI di 3,5%, sementara suku bunga The Fed di 2,25-2,5%.

Ia mengatakan, gap yang semakin menipis itu membuat nilai tukar rupiah melemah. Seperti diketahui, kenaikan suku bunga di negara-negara maju berpotensi membuat para pemilik dolar AS lebih memilih menyimpan dananya ketempat yang lebih aman ketimbang di Indonesia.

Baca juga: Ekonom Sarankan MyPertamina Tiru PeduliLindungi

Menurutnya, saat ini memang kurs rupiah masih 'manageable' di bawah Rp 15.000 per dollar AS. Namun, jika gap interest rate BI dan The Fed semakin menipis maka akan semakin memberi tekanan pada rupiah.

"Ini bisa menambah tekanan depresiasi rupiah secara persisten dalam beberapa periode yang akan datang. Saya kira ini perlu diperhatikan dengan baik," ucapnya.

Anton menegaskan, apabila BI menaikkan suku bunga acuan karena dorongan sejumlah faktor, merupakan kebijakan yang wajar. Bahkan langkah BI menaikkan suku bunga sudah tentu bukan berarti BI mengorbankan kinerja positif pertumbuhan ekonomi RI.

"Saya pikir wajar-wajar saja kalau seandainya BI terpaksa harus menaikkan subung acuannya, itu bukan berarti mengorbakan pertumbuhan ekonomi yang sudah semakin baik, karena di globalnya pun (kenaikan suku bunga) jauh lebih agresif," jelas dia.

Tak hanya itu, Anton menegaskan kenaikan suku bunga BI juga tak perlu dikhawatirkan berlebihan dampaknya terhadap pertumbuhan kredit perbankan. Lantaran dampaknya sangat kecil jika dilihat berdasarkan model pertumbuhan kredit per segmen seperti mikro, small business, medium business, household, wholesale business.

Baca juga: Wamenkeu Pastikan Tambahan Subsidi Cegah Harga BBM Naik hingga Akhir Tahun

"Kalau seandainya BI menaikkan suku bunga, saya pikir tidak perlu khawatir berlebihan karena ternyata variabel yang paling sensitif mempengaruhi pertumbuhan kredit adalah pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat, suku bunga ada pengaruhnya tapi relatif kecil" tuturnya.

Sementara itu, Kementerian Keuangan menegaskan level suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate yang masih dipertahankan di level terendahnya atau 3,5% telah mempertimbangkan berbagai kondisi termasuk kinerja inflasi yang terpantau masih relatif terkendali dibandingkan negara lain. Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi inti yang merupkan acuan Bank Indonesia sebelum menaikkan suku bunga masih berada di level 2,86% (yoy) dengan inflasi IHK 4,94% (yoy).

"Yang harus dipantau bagaimana negara-negara didunia merespon inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga kebijakan. Indonesia suku bunga acuannya 3,5% sebab tekanan inflasi masih relatif cukup terkendali dibandingkan banyak negara lain termasuk negara maju dan berkembang," ucap Kepala BKF Febrio Kacaribu.

Menurutnya, tekanan inflasi global yang masih tinggi telah mendorong kenaikan suku bunga di banyak negara serta berpotensi meningkatkan cost of fund dan lebih ketatnya likuiditas global. Secara rinci, inflasi Brazil mencapai 11,9% yang direspon dengan menaikkan tingkat suku bunga hingga di level 13,25%, kemudian Meksiko inflasinya menembus 8% yang direspon dengan kenaikan suku bunga 225 bps menjadi 7,75%. Kemudian India inflasinya mencapai 7% sehingga harus diredam dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 140 bps sepanjang 2022 atau 5,40%.

Selanjutnya, Inggris telah menaikkan suku bunga tertinggi sejak 1995 dilevel 1,75 % atau naik 150 bps sejak 2022. Langkah ini dilakukan untuk meredam inflasi yang mencapai 9,4%.  Begitu pula dengan Eropa tingkat suku bunganya mengalami kenaikan pertama sejak 2011 sebesar 50 bps, karena inflasinya sudah mencapai 8,9%.

Baca juga: Optimisme dan Tantangan Perekonomian

"Suku bunga kebijakan yang naik cepat di banyak negara maju seperti AS, Inggris hingga Eropa," tuturnya.

Sementara itu, Febrio menambahkan, kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed yang saat ini sudah naik sebanyak 4 kali sebesar 225 bps juga menjadi acuan banyak negara termasuk negara berkembang karena berpotensi menimbulkan gejolak yang cukup besar. Oleh karena itu, pemerintah akan mengamati berbagai perkembangan terkini dan dampaknya bagi pasar keuangan domestik.

Ia mencontohkan The Fed pernah melakukan pengetatan kebijakan moneternya secara agresif di tahun 1980 dan 1982 dengan tujuan untuk meredam lonjakan inflasi tertinggi yang pernah dialami Negeri Paman Sam. Namun, upaya tersebut tidak serta merta langsung menurunkan inflasi, karena membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga inflasi dapat kembali pada level 2%.

"Di tahun awal 1980 ketika itu tingkat suku bunga kebijakan (The Fed) harus dinaikkan 20% untuk repson inflasi waktu itu sangat tinggi dan berhasil turunkan inflasi namun tidak langsung turun, (membutuhkan waktu) sekitar 3 tahun baru mencapai 2%. Kemudian dari inflasi itu sebabkan AS resesi 1980 dan 1982 dan pertumbuhan yang cukup lambat. Saat bersamaan bagiamana koreksi koreksi seperti ini timbulkan gejolak bagi ekonomi global," tutup Febrio.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com