Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kemacetan dua arah terjadi saat jam pulang kerja di ruas Jalan Sudirman, Jakarta., merupakan indikasi mulai bergeraknya ekonomi.  Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Kemacetan dua arah terjadi saat jam pulang kerja di ruas Jalan Sudirman, Jakarta., merupakan indikasi mulai bergeraknya ekonomi. Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Sinyal Pemulihan Menguat Ditopang Fundamental Makro

Rabu, 21 April 2021 | 10:56 WIB
Triyan Pangastuti ,Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id –  Sinyal pemulihan ekonomi nasional semakin kuat. Hal itu tercermin pada sejumlah indikator, antara lain tingginya pertumbuhan ekspor dan impor, akselerasi stimulus fiskal, serta perbaikan investasi. Ekonomi kuartal II-2021 diyakini dapat mencapai 6-7%.

Sinyal pemulihan ekonomi yang menguat juga ditopang oleh fundamental makro yang bagus. Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprediksi tetap baik, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal.

Defisit transaksi berjalan (CAD) kuartal I-2021 diperkirakan akan rendah, didukung oleh surplus neraca perdagangan sebesar US$ 5,52 miliar. Tahun ini, CAD diprediksi hanya 1,0%-2,0% dari PDB.

Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV
Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh permintaan dari Tiongkok, AS, dan Jepang, serta kenaikan harga komoditas dunia. Peningkatan nilai ekspor tercatat pada sejumlah komoditas primer, seperti CPO dan bijih logam, serta sejumlah komoditas manufaktur, antara lain besi dan baja, kimia organik, dan kendaraan bermotor.

Sementara itu, neraca modal diperkirakan mengalami surplus didukung oleh aliran modal masuk dalam bentuk penanaman modal asing dan investasi portofolio. Investasi portofolio pada triwulan I-2021 diperkirakan mencatat net inflow sebesar US$ 5,43 miliar.

Pertumbuhan ekonomi global
Pertumbuhan ekonomi global

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2021 tercatat sebesar US$ 137,1 miliar , setara dengan pembiayaan 10,1 bulan impor atau 9,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Perry menambahkan, rupiah terdepresiasi karena masih berlangsungnya ketidakpastian pasar keuangan yang kemudian menahan aliran masuk investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik. Hingga 19 April 2021, rupiah melemah 3,42% (ytd).

Likuiditas Longgar

Sejalan dengan kebijakan moneter akomodatif BI dan sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, kondisi likuiditas di perbankan dan pasar keuangan tetap longgar.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia
Pertumbuhan ekonomi Indonesia

Sejak tahun 2020, kata Perry, BI telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebesar Rp 798,85 triliun (5,18% dari PDB). Itu terdiri atas Rp 726,57 triliun pada 2020 dan Rp 72,27 triliun pada 2021.

Sinergi ekspansi moneter BI dengan akselerasi stimulus fiskal pemerintah terus diperkuat dengan pembelian SBN oleh BI di pasar perdana. Pada 2020 BI membeli dari pasar perdana sebesar Rp 473,42 triliun untuk pendanaan APBN 2020 yang akan berlanjut tahun ini. Per 16 April 2021, BI membeli Rp 101,91 triliun dari pasar perdana, meliputi Rp 28,33 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 73,58 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO). Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) cukup tinggi, sebesar 9,20% (yoy). Pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Maret 2021 tetap terjaga, yakni sebesar masing-masing 10,8% (yoy) dan 6,9% (yoy).

Suku Bunga Bank Turun

Di lain sisi, kata Perry, sejalan dengan dilakukannya kebijakan transparansi suku bunga, perbankan telah merespons dengan melakukan penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) per Februari 2021 sebesar 171 bps (yoy).

Penurunan SBDK tersebut terutama terjadi pada kelompok bank BUMN yang turun sebesar 266 bps (yoy) menjadi sebesar 8,70%, lebih besar dibandingkan penurunan SBDK kelompok bank lainnya.

Ekspor dan impor nonmigas bulanan
Ekspor dan impor nonmigas bulanan

Penurunan SBDK terjadi pada semua jenis kredit dengan penurunan terdalam masih pada jenis kredit mikro yaitu 346 bps (yoy), meski masih merupakan jenis kredit dengan level SBDK tertinggi yaitu 12,72%.

Sementara itu, penurunan SBDK yang terjadi pada jenis kredit konsumsi KPR, konsumsi non-KPR, korporasi, dan ritel masing-masing sebesar 194 bps, 193 bps, 139 bps dan 136 bps (yoy) menjadi 8,19%, 9,25%, 8,26% dan 8,84%.

Ketahanan sistem keuangan tetap terjaga. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Februari 2021 sebesar 24,52%. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/ NPL) 3,21% (bruto) dan 1,04% (neto).

Perkembangan BI 7 Day (Reverse) Repo Rate
Perkembangan BI 7 Day (Reverse) Repo Rate

Sayangnya, intermediasi perbankan masih mengalami kontraksi sebesar 4,13% (yoy) pada Maret 2021. Transaksi digital melaju pesat. Transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, Kartu Debet, dan Kartu Kredit pada Maret 2021 tercatat Rp 668,7 triliun, tumbuh 9,58% (yoy) sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi. Volume transaksi digital banking pada Maret 2021 tumbuh 42,47% (yoy) mencapai 553,6 juta transaksi dan nilainya tumbuh 26,44% (yoy) mencapai Rp 3.025,6 triliun.

BI7DRRR Tetap 3,5%

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 19-20 April 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, meskipun prakiraan inflasi tetap rendah. Untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional lebih lanjut, BI mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial akomodatif serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.

Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV
Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

Di antaranya memperkuat kebijakan nilai tukar rupiah dengan tetap berada di pasar melalui triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Kemudian melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk mendukung stance kebijakan moneter akomodatif. BI juga menyebut perekonomian global diprediksi tumbuh lebih tinggi dari prediksi awal dengan proses pemulihan global yang semakin tidak merata antarnegara.

Perkembangan tersebut terutama didorong oleh perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlangsung lebih cepat dibandingkan negara lainnya. Di AS, perbaikan ekonomi diprakirakan semakin kuat, sejalan dengan proses vaksinasi yang berjalan lancer dan tambahan stimulus fiskal yang lebih besar. Di Tiongkok, pemulihan ekonomi yang lebih tinggi ditopang oleh perbaikan permintaan domesti dan global.

Perkembangan ekspor nonmigas
Perkembangan ekspor nonmigas

Dengan perkembangan tersebut, BI merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 menjadi 5,7%, lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 5,1%.

Pemulihan ekonomi global yang lebih tinggi terkonfirmasi oleh perkembangan sejumlah indikator dini pada Maret 2021, seperti Purchasing Managers’ Index (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel di beberapa negara yang terus meningkat. Sejalan dengan perbaikan ekonomi global, volume perdagangan dan harga komoditas dunia terus meningkat, sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang yang lebih tinggi, termasuk Indonesia. (ns)

Baca juga

https://investor.id/business/sinyal-pemulihan-menguat

https://investor.id/business/kinerja-ekspor-impresif

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN