Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .

Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .

Sistem Logistik Belum Efesien, Pemerintah Diminta Perbanyak Pusat Ekonomi

Kamis, 22 Oktober 2020 | 23:38 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id - Meskipun peringkat Logistic Performance Index (LPI) tahun 2019 relatif meningkat dibanding tahun 2018, sejumlah kalangan menilai Sistem Logistik Nasional belum efisien.

"Biaya logistik Indonesia masih tinggi," kata Dr Rusman Ghazali MSi,  akademisi dari Universitas Nasional, Jakarta, dalam sebuah webinar bertajuk "Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik" di Jakarta, Kamis (22/10) siang.

Menurut Rusman, biaya logistik transportasi masih di angka 28,7%. Prosentase yang menurutnya sangat besar untuk keseluruhan biaya produksi.

Ia menunjuk contoh sistem logistik di sektor perikanan, dimana panjangnya rantai distribusi hasil perikanan mengakibatkan tingginya biaya logistik.

Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .
Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .

"Bahkan biaya logistik antar pulau relatif lebih tinggi dibanding antar negara," ungkap Rusman seraya menunjuk contoh biaya angkut Kendari-Jakarta mencapai Rp1,28 per kg/km. Sementara biaya angkut Jakarta-Tiongkok hanya Rp0,52/kg/km.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus setuju dengan penilaian Rusman bahwa sistem logistik nasional tidak efisien.

Ia menilai, Indonesia masih boros modal untuk investasi dibanding Malaysia, Vietnam atau Thailand.

"Hati-hati dengan pasar terbuka ASEAN karena produk mereka yang lebih murah kalau menyerbu Indonesia bisa rusak pasar produk kita," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu Rusman menyarankan kepada pemerintah untuk terus melakukan efisiensi perizinan, memperbanyak infrastruktur pengangkutan produk,  dan memperbanyak jadwal kapal angkut dari sentra produksi ke sentra distribusi.

Pusat Pertumbuhan Ekonomi

Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .
Webinar bertajuk Tata Kelola Sistem Logistik Nasional Dalam Mengurangi Beban Biaya Logistik di Jakarta, Kamis (22/10) .

Adapun Dr Ir Soleh Rusyadi Maryam dari Sucofindo menyarankan pemerintah untuk memperbanyak Pusat Logistik Berikat (PLB) yang memiliki fleksibilitas dalam supply chain management.

"Di sini ada konsep one to many, many to one, many to many," kata Soleh.

Dengan adanya PLB diyakini Soleh akan memperlancar arus barang impor dari sisi kewajiban kepabeanan, menjaga cash flow perusahaan, dan mendukung ketersediaan barang impor tepat waktu.

Karena itu Soleh menyarankan perlunya diperbanyak PLB di sejumlah tempat karena terbukti efisien dalam menopang supply chain management.

Sementara Ahmad Hari Firdaus meminta pemerintah memperbanyak pusat-pusat ekonomi baru untuk menambah frekuensi kunjungan kapal-kapal kargo ke pusat-pusat produksi.

"Tol laut belum berfungsi maksimal karena tidak ada hilirisasi dari pusat produksi. Hilirisasi tidak ada kareba tidak ada pusat-pusat ekonomi baru," tutur Ahmad Heri Firdaus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN