Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023, 16 Agustus 2022.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023, 16 Agustus 2022.

Soal Kenaikan Harga BBM, Airlangga Buka Suara

Selasa, 16 Agustus 2022 | 20:59 WIB
Herman (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait rencana agenda reformasi subsidi energi. Menurut dia, pemerintah masih mengkaji penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Dari kajian tersebut, nantinya pemerintah akan menghitung potensi kenaikan inflasi dan efeknya terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Terkait dengan BBM, pemerintah sekarang dalam status sedang melakukan review terkait dengan kebutuhan akibat dari kenaikan harga BBM, baik dari segi volume maupun kebijakan selanjutnya. Dari kajian-kajian tersebut, pemerintah memperhitungkan potensi kenaikan inflasi, dan terkait dengan efek terhadap PDB ke depan," kata Airlangga dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023, Selasa (16/8/2022).

Baca juga: Ini Skenarionya jika Harga BBM Naik

Apabila nantinya ada penyesuaian harga BBM subsidi, Airlangga mengatakan pemerintah juga akan mengkalkulasi kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan kompensasi dalam berbagai program.

“Tentu program-programnya yang sedang berjalan, artinya dikaitkan dengan program yang berjalan dalam perlindungan sosial, seperti yang kita lakukan dalam penanganan Covid-19,” jelas Airlangga.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menambahkan, anggaran untuk subsidi energi dan kompensasi di 2023 sebesar Rp 336,7 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan tahun 2022 yang mencapai Rp 502,4 triliun. Ini karena ada keyakinan harga minyak akan lebih rendah. Nilai tukar rupiah juga diperkirakan dalam situasi yang relatif lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.

Baca juga: DPR Belum Terima Usulan Pemerintah Terkait Kenaikan Harga BBM 

“Untuk subsidi, perubahan yang terjadi dari sisi jumlah total subsidi, terutama yang menyangkut energi, ini lebih karena asumsi dari harga dan tentu dengan implisit volume seperti yang ada di 2022. Jadi dalam hal ini kita mendapatkan angka Rp 336,7 triliun (di 2023), lebih rendah dari Rp 502,4 triliun karena faktor harga asumsi yang lebih rendah, nilai tukar, maupun volume tetap kita kendalikan,” ujar Sri Mulyani.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com