Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Pertamina (Persero) melakukan sejumlah cara untuk mengantisipasi penyebaran Virus Korona (Covid-19) di SPBU, salah satunya mewajibkan petugas SPBU untuk memakai masker dan sarung tangan karet. (sumber : doc Pertamina)

PT Pertamina (Persero) melakukan sejumlah cara untuk mengantisipasi penyebaran Virus Korona (Covid-19) di SPBU, salah satunya mewajibkan petugas SPBU untuk memakai masker dan sarung tangan karet. (sumber : doc Pertamina)

DEFISIT US$ 2,44 MILIAR PADA MARET 2022

Sri Mulyani: Arus Kas Pertamina Akhir Tahun Bisa Defisit Rp 191,2 Triliun

Kamis, 19 Mei 2022 | 19:03 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, arus kas operasional PT Pertamina (Pesero) pada Maret 2022 telah mengalami defisit hingga US$ 2,44 miliar akibat harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) melonjak hingga di atas US$ 100 per barel. Defisit ini diproyeksi membengkak menjadi US$ 12,98 miliar atau setara dengan Rp 191,21 triliun pada Desember 2022 bila tidak ada tambahan penerimaan dari pemerintah ke BUMN energi itu.

“Pertamina harus menanggung selisih antara HJE (harga jual eceran) dan harga keekonomian BBM (bahan bakar minyak) dan untuk itu membutuhkan dukungan dari pemerintah. Seluruh rasio keuangan Pertamina mengalami pemburukan yang signifikan sejak awal 2022. Ini dapat menurunkan credit rating Pertamina dan akan berdampak pada credit rating pemerintah,” ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja (raker) dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/5/2022).

Sri Mulyani memaparkan, dengan ICP di level US$ 100 per barel, harga keekonomian beberapa jenis BBM dan gas telah melonjak jauh di atas HJE-nya. Minyak tanah misalnya, dengan HJE yang hanya sebesar Rp 2.500 per liter, harga keekonomiannya telah mencapai Rp 10.198 per liter. Harga keekonomian solar naik menjadi Rp 12.119 per liter, sementara HJE-nya hanya Rp 5.150 per liter.

Harga keekonomian Pertalite naik menjadi Rp 12.556 per liter, sementara HJE-nya hanya Rp 7.650 per liter. Sedangkan harga keekonomian LPG membubung menjadi Rp 19.579 per kilogram, sedangkan HJE untuk LPG subsidi hanya Rp 4.250 per kilogram. Sementara bila mengacu pada ICP dalam APBN 2022 yang ditetapkan US$ 63 per barel harga minyak tanah adalah Rp 6.776 per liter, solar Rp 8.270 per liter, Pertalite Rp 8.678 per liter, dan LPG bersubsidi Rp 12.624 per kilogram.

“APBN mengalokasikan anggaran untuk membayar selisih antara HJE dan harga yang diasusmsikan dalam APBN. Namun yang terjadi sekarang adalah harga yang diasumsikan dalam APBN telah jauh lebih tinggi serta volume dan nilai tukarnya juga berubah. Maka tidak heran kalau arus kas operasional Pertamina sejak Januari (2022) constantly negatif karena Pertamina harus menanggung perbedaan harga keekonomian dan HJE. Ini yang menyebabkan kondisi keuangan Pertamina menurun,” ucap Sri Mulyani.

Dalam bahan paparan yang disampaikan Sri Mulyani pada rapat dengan Banggar DPR tersebut terungkap bahwa sepanjang 2021 arus kas operasional Pertamina masih terus surplus dengan posisi Desember 2022 US$ 4,06 miliar. Namun, memasuki 2022, arus kas operasional Pertamina mulai mengalami defisit dengan posisi USS$ -1,43 miliar pada Januari 2022, Us$ -1,86 pada Februari 2022, dan US$ -2,44 pada Maret 2022. Defisit ini dipoyeksi terus meningkat sampai akhir tahun bila tidak ada suntikan dana dari pemerintah.

“Walau gap HJE dan harga keekonomian meningkat tajam, pemerintah berkomitmen untuk menjaga pasokan BBM dan satu harga BBM serta LPG yang terjangkau masyarakat,” pungkas Sri Mulyani.

Arus Kas PLN

Menurut Sri Mulyani, kondisi keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN juga akan memburuk bila kenaikan ICP tidak disusul dengan penyesuaian tarif listrik dan pembayaran kompensasi dari pemerintah. “Jika tidak ada tambahan kompensasi dari pemerintah, pada Desember 2022 diproyeksikan arus kas operasional PLN akan defisit Rp 71,1 triliun,” ungkap Sri Mulyani.

Untuk menutup kebutuhan kasnya, per 30 April 2022, PLN telah menarik pinjaman sebesar Rp 11,4 triliun dan akan melakukan penarikan pinjaman lagi pada bulan ini dan Juni mendatang. Dengan demikian, total penarikan pinjaman sampai dengan Juni menjadi Rp 21,7 triliun sampai dengan Rp 24,7 triliun.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN