Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/12).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/12).

Sri Mulyani Klaim Ekonomi RI Jauh Lebih Baik dari Negara Emerging Lain

Nasori, Selasa, 7 Januari 2020 | 14:05 WIB

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengeklaim bahwa kondisi perekonomin Indonesia selama 2019 jauh lebih baik di banding negara-negara lain seperti Malaysia, India, Brazil, bahkan Amerika Serikat (AS). Pasalnya, meskipun defisit APBN 2019 melebar menjadi 2,2% dari PDB, namun pertumbuhan ekonomi masih bisa dipertahankan di level 5,05%.

“Dibadingkan dengan negara-negara lain yang juga mengalami kondisi yang sama, dengan defisit APBN 2,2%, maka kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik. Negara lain yang mengalami defisit lebih besar, pertumbuhan ekonominya lebih rendah dari kita,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Laporan APBN Tahun 2019 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/12).

Ia menyatakan, realisasi defisit dalam APBN 2019 mengalami  pelebaran menjadi 2,2% dari PDB atau lebih tinggi dari yang ditargetkan semula yakni 1,8%.

Untuk memperkuat klaimnya itu, Sri Mulyani membandingkan kondisi perekonomian Indonesia dengan sejumlah negara emerging lain juga negara maju. Ia menyebut, India yang mengalami defisit APBN 7,5% dari PDB, pertumbuhan ekonominya justru anjlok di 4,5%. Selanjutnya, AS yang pada kuartal IV-2019 tumbuh 2,1%, defisit APBN-nya mencapai 5,6%.

“Brazil yang difisit APBN-nya 7,5%, pertumbuhannya nyaris 0%. Malaysia dengan defisit 3%, pertumbuhan ekonominya 4,4%. Vietnam dengan defisit dua kali lipat dari kita, pertumbuhan ekonominya 7% dan RRT yang defisitnya 6,1%, pertumbuhannya juga sekitar 6,1%,” papar mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini.

Oleh karena itu, menurut Sri Mulyani, kombinasi kebijakan pemerintah dalam menjaga fiskal, termasuk pelebaran defisit APBN dari target awal 1,8% menjadi 2,2%, tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. “(Defisit kita) masih jauh lebih rendah dari peer emerging yang lain dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga di atas 5%. (Pertumbuhan ekonomi) itu relatif lebih tinggi dibanding negara-negara lain,” ujar dia.

Secara keseluruhan, menurut Sri Mulyani, APBN 2019 masih mampu menjaga kinerja perekonomian relatif tetap baik dengan kondisi global yang tidak mudah pada 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA