Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

TERDAMPAK KORONA,

Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Berkisar 4,7%-5%

Triyan Pangastuti, Kamis, 27 Februari 2020 | 14:32 WIB

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan mewabahnya virus korona berimbas pada penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun menjadi 4,7%. Padahal pemerintah dalam APBN 2020 telah mematok pertumbuhan ekonomi akan berada di 5,3% dan kemudian realisasi pertumbuhan ekonomi 2019 hanya 5,02% juga sudah meleset dari target.

Penurunan ini, kata Sri Mulyani, juga dikontribusi dari pelemahan ekonomi Tiongkok, sebab asumsinya jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok melemah 1%, maka akan berdampak ke perekonomian sebesar 0,3-0,6%.

“Kalau RRT turun 1% dari 6% ke 5% pengaruh ke kita 0,3-0,6%. Berarti baseline di 5-5,3% bisa antara 5-4,7%," kata Sri Mulyani dalam diskusi di Jakarta, Rabu (26/2).

Ia mengatakan bahwa awalnya pemerintah dan berbagai lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 bisa tumbuh di 3,3%, sehingga arahnya lebih baik dibanding 2019. Hal ini didorong oleh adanya kesepakatan perang dagang tahap pertama antara AS dan Tiongkok, tetapi adanya virus korona menurunkan berbagai (ekpektasi) perbaikan ekonomi di 2020.

“Hanya dalam waktu 1 bulan saja, tone menurun. Ini disebabkan selain ada harapan positif RRT dengan AS sudah ada kesepakatan. Akan tetapi kemudian muncul coronavirus menimbulkan dinamika cepat, hanya 2 minggu maka seluruh proyeksi dan assessment terhadap risiko 2020 berubah dengan risiko lebih tinggi,” tuturnya.

Menurutnya perkembangan virus korona di Tiongkok turut menjadi perhatian berbagai pihak, sebab fokus utamanya saat ini tidak hanya di Tiongkok, karena saat ini virus telah menyebar ke berbagai negara dan akan memberikan dampak ke perekonomian berbagai negara.

Selain itu kontribusi ekonomi Tiongkok sebesar US$ 13 triliun turut menyumbang ke perekonomian dunia sebesar 17%.

“Jika Tiongkok melemah pengaruhnya terasa di seluruh dunia. tripple effect terasa. Hal ini berbeda dengan yang dihadapi saat virus Sars tahun 2003 size ekonomi Tiongok masih berada di nomor tiga atau empat” jelasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara dalam konferensi pers APBN Kita edisi Desember 2019 di Aula Mezzanine Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta(19/12).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan Tiongkok memberikan dampak besar kepada Indonesia karena sebagai mitra utama sektor perdagangan berdampak pada kegiatan ekspor dan impor dan pariwisata terkait dengan kunjungan wisatawan mancanegara yang turun.

"Dengan situasi korona ini, kita lihat pengaruhnya ke berbagai sektor," ujarnya.

Meski begitu, pemerintah Indonesia tidak diam begitu saja sebab pemerintah sudah memutuskan akan memberikan sederet insentif yang bisa menahan penurunan ekonomi akibat virus korona.

Adapun insentif yang diberikan seperti tambahan manfaat kartu sembako, diskon liburan, insentif maskapai dan agen perjalanan, insentif bebas pajak hotel dan restoran serta kompensasinya ke pemerintah daerah (Pemda), hingga tambahan subsidi bunga dan uang muka (DP) rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dengan demikian, Menkeu berharap berbagi insentif dapat mengantisipasi dampak virus korona terhadap perekonomian Indonesia , meskipun ia tak menampik bahwa pada kuartal I tertekan, sehingga ia berharap pada kuartal II, III dan IV tekanan segera mereda dan perekonomian Indonesia dapat meningkat.

“Kita berharap hal ini bisa timbulkan dampak positif walaupun kuartal I hadapi tekanan berat semoga kita bisa catch up kuartal II, III dan IV,” katanya.

Dia mengatakan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memberikan stimulus di sektor moneter dan keuangan.

"Bagaimana cara kita untuk stimulate kembali dan optimisme atau countercyclical dengan instrumen kebijakan di dalam masing-masing kewenangan kita," ungkap dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN