Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani memanen bayam di Bojong, Kemang, Kabupaten Bogor. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani memanen bayam di Bojong, Kemang, Kabupaten Bogor. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Subsidi Pupuk Untungkan Petani

Selasa, 26 Januari 2021 | 10:42 WIB
Tri Listiyarini

JAKARTA, investor.id –Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan bahwa kebijakan subsidi pupuk bagi petani dalam peningkatan produksi tanaman telah memberikan nilai manfaat hingga 250%.

Berdasarkan hasil kajian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) 2020, nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp 98,40 triliun.

“Bila dibandingkan anggaran yang digunakan pada 2014-2020 rata-rata Rp 28,10 triliun maka nilai manfaatnya mencapai 250%,” kata SYL dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (25/1).

Syahrul Yasin Limpo
Syahrul Yasin Limpo

Terkait pupuk bersubsidi, kebutuhan nasional dengan luasan baku sawah 7,46 juta hektare (ha) diperlukan 21 juta ton namun baru bisa dipenuhi 9 juta ton dan untuk komoditas tanaman pangan mendapatkan alokasi 6,10 juta ton.

Padahal, dalam kajian Organisasi Pangan Dunia (FAO) 2018, produktivitas tanaman padi di Indonesia sudah 5,19 ton per ha, angka itu lebih tinggi dibandingkan Thailand 3,09 ton per ha, Filipina 3,97 ton per ha, India 3,88 ton per ha, Pakistan 3,84 ton per ha, dan beberapa negara lainnya.

“Produktivitas padi masih terdapat peluang kita tingkatkan di masa mendatang dengan pupuk bersubsidi,” ungkap Mentan.

Dalam data Balitbangtan, produktivitas tanaman padi tanpa subsidi pupuk mencapai 4,19 ton per ha atau turun 18,09%, tanaman jagung 4,24 ton per ha atau turun 24,06%. Potensi penurunan produksi tanpa subsidi untuk padi sebesar 9,86 juta ton senilai Rp 51,79 triliun, sedangkan potensi penurunan produksi jagung 6,80 juta ton senilai Rp 21,41 triliun.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, pemberian subsidi pupuk Rp 33 triliun per tahun tidak sebanding dengan produksi yang dihasilkan. Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi IV DPR Sudin menyebutkan masih ada 57 kabupaten/kota yang belum menerbitkan surat keputusan (SK) penyaluran pupuk bersubsidi, hal itulah yang berdampak pada keterlambatan penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani.

Berdasarkan data dari PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), dari 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, hanya 483 kabupaten/kota yang memiliki jatah pupuk bersubsidi. Dari 483 kabupaten/ kota tersebut, ada 426 kabupaten/kota yang sudah menerbitkan SK, sedangkan 57 kabupaten/ kota lainnya belum menerbitkan SK sebagai aturan turunan dari Permentan No 49 Tahun 2020 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi. Komisi IV DPR meminta Kementan bersama PIHC selaku produsen dan BUMN yang ditugaskan untuk penyaluran pupuk bersubsidi, dapat berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri.

Dengan demikian Dinas Pertanian di tingkat kabupaten/kota dapat segera menindaklanjuti penerbitan SK agar pupuk bersubsidi dapat didistribusikan kepada petani yang sudah terdaftar dalam sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Tahun ini, alokasi pupuk bersubsidi mencapai 9 juta ton ditambah 1,50 juta liter pupuk organic cair guna memenuhi kebutuhan petani.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN