Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)

Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)

Suku Bunga The Fed Bisa Naik sampai Berapa? BI Kasih Proyeksi Terbaru

Kamis, 23 Juni 2022 | 17:00 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,5% hingga akhir 2022. Proyeksi ini meningkat 0,25% dibandingkan proyeksi saat RDG BI pada Mei 2022 yang sebesar 3,25%.

Kenaikan proyeksi suku bunga The Fed ini sejalan dengan lonjakan inflasi di AS yang meningkat cukup besar pada Mei 2022 sebesar 8,6% (yoy). Alhasil, The Fed dinilai akan makin agresif untuk menaikkan suku bunga untuk menormalkan inflasi.

Advertisement

"Semula, kami perkirakan Fed Fund Rate akan naik menjadi 3,25% hingga akhir tahun ini. Namun, dengan perkembangan terbaru, perkiraan kami Fed Fund Rate akan naik jadi 3,5%," jelas Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (23/6/2022).

Baca juga: Untuk ke-16 Kalinya, BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan

Lebih lanjut Perry memproyeksikan The Fed masih akan melanjutkan penaikan suku bunga pada tahun depan sebesar 50 bps menjadi 4%. Kenaikan ini merupakan upaya bank sentral AS untuk merespons lonjakan inflasi.

Dengan demikian, BI memastikan akan terus mencermati berbagai perkembangan global untuk mewaspadai berbagai risiko yang berpotensi menghantam ekonomi domestik. Risiko pertama terjadinya stagflasi yang dipicu oleh peningkatan inflasi, sementara pertumbuhan ekonomi global cenderung melambat.

Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina telah memicu melebarnya pengenaan sanksi sejumlah negara terhadap negara tersebut. Alhasil, memicu gangguan pasokan energi dan pangan global.

Baca juga: BI Pangkas Lagi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 3%

"Ini memicu gangguan mata rantai pasokan global disebabkan tingginya harga komoditas, harga energi, dan harga pangan global. Harga yang meningkat timbulkan risiko dan kenaikan inflasi di berbagai dunia," ucapnya.

Di sisi lain, pengetatan kebijakan moneter di AS dan berbagai negara maju mulai ditempuh karena ruang fiskal yang mulai terbatas. Hal ini pun turut mempengaruhi perlambatan ekonomi dan menurunkan sisi permintaan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN