Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Komisi XI DPR-RI, Kamrussamad saat rapat dengan Menkeu, Gubernur BI dan Ketua OJK secara daring yang membahas stimulus bagi sektor UMKM.

Anggota Komisi XI DPR-RI, Kamrussamad saat rapat dengan Menkeu, Gubernur BI dan Ketua OJK secara daring yang membahas stimulus bagi sektor UMKM.

Surplus Neraca Perdagangan, Anggota DPR: Sejumlah Faktor Perlu Diwaspadai

Jumat, 16 April 2021 | 19:32 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 1,5 miliar pada bulan Maret 2021. Hasil ini membuat total surplus neraca perdagangan mencapai US$ 5,52 miliar di kuartal I-2021 atau meningkat dibanding periode yang sama tahun 2020.

Anggota DPR Komisi XI, Kamrussamad menilai, surplus neraca perdagangan didorong oleh kinerja ekspor yang meningkat seiring dengan indeks PMI Bank Indonesia yang mengalami peningkatan pada kuartal I-2021 sebesar 50,01% dibandingkan kuartal IV-2020 sebesar 47,29%.

“Peningkatan terjadi pada hampir seluruh komponen pembentuk PMI-BI terutama volume total pesanan, volume persediaan barang jadi, dan volume produksi yang berda dalam fase ekspansi,” paparnya di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Kendati begitu Anggota Fraksi Gerindra ini mengingatkan bahwa pemerintah harus mewaspadai sejumlah faktor, salah satunya pertumbuhan volume perdagangan yang sebenernya lebih rendah daripada nilai komoditasnya, sehingga terdapat kenaikan harga di tingkat produsen.

“Volume komoditas manufaktur yang lebih rendah dari nilainya itu seperti produksi manufaktur pada mesin industri dan peralatan listrik,” sebutnya.

Selain itu Kamrussamad meminta untuk waspada terhadap tren yang terjadi, dimana kegiatan ekspor dan impor mengalami peningkatan yang signifikan pada periode menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang dikhawatirkan adanya libur panjang, sehingga industri mengirim muatan hasil produksinya terlebih dahulu.

Selanjutnya, menurutnya surplus neraca perdagangan pada Maret 2021 disebabkan oleh surplus dengan Amerika Serikat, Filipina, dan India yang masing-masing sebesar US$ 1,33 miliar, US$ 592,1 juta dan US$ 502,4 juta. Sedangkan, kontribusi defisit terbesar berasal dari Australia, Korea Selatan, dan Thailand dengan nilai masing-masing sebesar US$ 503,5 juta, US$ 546,8 juta, dan US$ 281,1 juta.

Kemudian disisi lain, peningkatan ekspor yang tinggi, tercermin surplus pada neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekonomi eksternal secara agregat mengalami pemulihan secara cepat terutama pada negara-negara utama mitra dagang Indonesia. Sementara itu, kinerja impor masih terkontraksi yang disebakan oleh pemulihan ekonomi domestik masih relatif lambat.

Lebih jauh dikatakan, percepatan program vaksinasi Covid-19 dan pembiayaan infrastruktur diyakini akan mendorong meningkatnya permintaan domestik dan keyakinan konsumen akan optimisme terhadap situasi ekonomi kedepan.

Agar fundamental ekonomi tetap terjaga, dia meminta pemerintah fokus pemerintah terhadap UMKM dengan memberikan program pembiayaan sehingga dapat mendorong peningkatan produksinya untuk dapat melakukan ekspor sehingga dapat memberikan kontribusi dalam penerimaan negara.

Pentingnya melakukan peningkatan ekspor ke beberapa negara Kawasan Asia Pasifik juga tidak lupt harus diperhatikan. Sebagai catatan, pada Janauri-Februari 2021 terjadi kenaikan ekspor ke Kawasan tersebut, untuk itu pembukaan market akses melalui kerja sama perundingan perdagangan internasional khususnya di negara kawasan Asia Pasifik seperti Indonesia-Australia CEPA yang telah diimplementasikan pada Juni 2020 serta Indonesia-Korea CEPA yang baru saja ditandangani Desember tahun lalu memegang peranan penting bagi perluasan pasar ekspor Indonesia.

Selanjutnya kenaikan impor barang modal diharapkan menjadi sinyal kegiatan industri dan investasi di dalam negeri yang mulai bergerak membaik. Produksi yang dimaksud seperi alat angkut untuk industri, mobil penumpang, dan barang modal kecuali alat angkutan.

Sementara dalam mengantisipasi tingginya permintaan pada bulan Ramadan dan Idul Fitri, diharapkan tetap menjaga pasokan yang cukup sehingga harga tidak mengalami peningkatan harga dan stabilisasi harga dapat terkendali.

 

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN