Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Badan Pusat Statistik. Foto ilustrasi: IST

Surplus Neraca Perdagangan Sulit Dipertahankan di Maret

Arnoldus Kristianus, Selasa, 17 Maret 2020 | 05:29 WIB

JAKARTA, investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Februari 2020 mengalami surplus sebesar US$ 2,34 miliar. Kondisi ini disebabkan ekspor Indonesia Februari 2020 mencapai US$13,94 miliar atau meningkat 2,24% dibanding ekspor Januari 2020. Sedangkan jumlah impor Indonesia Februari 2020 mencapai US$11,60 miliar atau turun 18,69% dibanding Januari 2020.

Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE), Piter Abdullah Redjalam mengatakan, surplus di bulan Februari sulit dipertahankan pada Maret sebab pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kemudahan ekspor dan impor dalam rangka menghadapi virus korona.

“Dengan kebijakan ini yang akan meningkat lebih cepat diperkirakan adalah impor,” ucap Piter ketika dihubungi pada Senin (16/3).

Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube
Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube

Selama bulan februari nilai ekspor meningkat 2,38% namun secara volume ekspor menurun 3%. Kalau dilihat dari jenis komoditi, ekspor yang naik secara mtm diantaranya adalah biji kakao, sarang burung, tanaman obat,perhiasan dan mutiara, manufaktur; logam dasar mulia, barang tekstil, dan bahan kimia. Disaat yang sama ekspor barang pertambangan seperti tembaga juga meningkat.

“Hal ini menunjukkan bahwa penyebab kenaikan Ekspor utamanya adalah adanya kenaikan harga. Kita pahami bahwa komoditas emas termasuk perhiasan emas memang mengalami kenaikan yang tinggi,” ucap Piter.

Di sisi lain bila dilihat tujuannya ekspor Indonesia meningkat ke negara ASEAN, terutama Malaysia, Thailand dan Singapura. Sementara ekspor ke Tiongkok merosot sebesar 11,3% seiring dengan penurunan permintaan dari Tiongkok akibat adanya wabah virus korona.

Patut disyukuri

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto dalam wawancaranya dengan BeritasatuTV di Dealing Room Bank BNI di Jakarta, Senin (26/8/2019) .
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto   .

Sementara itu, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, surplus neraca dagang Februari 2020 patut disyukuri meskipun besaran angkanya mengejutkan.

Bila dilihat lebih dalam, surplus terjadi karena pertumbuhan ekspor positif sementara impor tumbuh lebih lambat. Sehingga,nilai ekspor menjadi lebih tinggi dibanding nilai impor karena impor mesin dan peralatan mekanik dan elektronik yang menurun tajam ini kegiatan produksi menurun. Sebab terkenar efek negatif dari penyebaran virus korona.

“Bisa saja jika trend seperti ini berlanjut hingga akhir tahun ini, maka neraca dagang akan lanjut surplus karena impor melemah,“ ucap Ryan saat dihubungi pada Senin (16/3).

Ia belum bisa memprediksi kondisi neraca perdagangan ke depan karena dampak perang dagang dan wabah virus corona. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya disrupsi perdagangan global dan regional.

“Oleh karena itu, stimulus moneter perlu dilanjutkan disertai kebijakan fiskal secara countercyclical hingga akhir tahun atau hingga perlambatan ekonomi berhenti dan normal kembali,” ucap Ryan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN