Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan Neraca Perdagangan Mei 2021, Selasa, 15 Juni 2021

Kepala BPS Suhariyanto dalam pemaparan Neraca Perdagangan Mei 2021, Selasa, 15 Juni 2021

13 BULAN BERTURUT-TURUT POSITIF

Surplus Perdagangan Mei Rekor Tertinggi 2021

Rabu, 16 Juni 2021 | 16:07 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  – Untuk ke-13 bulan berturut-turut, neraca perdagangan mencatatkan surplus pada Mei 2021. Surplus perdagangan Mei yang mencapai US$ 2,36 miliar merupakan rekor tertinggi selama 2021. Surplus terutama disumbang ekspor lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, dan besi-baja.

“Selama 13 bulan beruntun, neraca perdagangan kita berhasil surplus. Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi. Ke depan, kita berharap neraca perdagangan terus mengalami surplus dengan tren yang lebih tinggi lagi,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto dalam telekonferensi pers di Jakarta, Selasa (15/6).

Suhariyanto menjelaskan, nilai ekspor pada Mei 2021 mencapai US$ 16,60 miliar, turun 10,25% secara bulanan (month to month/mtm) atau dibanding April 2021, namun melonjak 58,76% secara tahunan (year on year/yoy) atau dibanding Mei 2020.

Adapun nilai impor Mei 2021 mencapai US$ 14,23 miliar, turun 12,16% (mtm), tetapi melesat 68,68% (yoy).

“Dari sisi komponen ekspor dan impor performanya sangat bagus,” tutur dia.

Perkembangan ekspor, impor, dan neraca perdagangan 2015-2021
Perkembangan ekspor, impor, dan neraca perdagangan 2015-2021

Secara kumulatif, menurut Kepala BPS, neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari- Mei 2021 membukukan surplus US$ 10,17 miliar. Dibandingkan periode sama 2020, surplus naik sangat pesat, sebab saat itu surplus hanya US$ 4,18 miliar.

Suhariyanto mengungkapkan, nilai ekspor kumulatif Januari- Mei 2021 meningkat 30,50%, didorong sektor pertanian, industri, dan pertambangan.

Begitu pula nilai impor, secara ku mulatif meningkat 22,74%, ditopang kenaikan impor bahan baku dan barang modal sebagai representasi bahwa kegiatan produksi di dalam negeri mulai berjalan.

Dia optimistis performa ekspor dan impor April dan Mei 2021 akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2021.

“Kita semua berharap pertumbuhan ekonomi akan tinggi dan kita semua akan meninggalkan zona kontraksi,” tandas dia.

Meskipun performa ekspor dan impor pada Januari-Mei 2021 menjanjikan, kata Suhariyanto, pemerintah harus tetap waspada terhadap risiko pandemi Covid-19. Dalam sepekan terakhir, jumlah kasus positif Covid-19 terus meningkat. Karena itu, masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan. Pada saat yang sama, pemerintah juga terus menjalankan program vaksinasi.

“Kita berdoa supaya Covid-19 segera berlalu dan ini bisa menumbuhkan keyakinan dunia usaha sehingga performa perekonomian Indonesia semakin bagus,” ucap dia.

Data BPS menunjukkan, neraca perdagangan pada Mei 2021 mengalami surplus dengan beberapa negara. Pertama, sur plus dengan AS sebesar US$ 1,08 miliar, dengan posisi ekspor US$ 1,7 miliar dan impor US$ 620,30 juta. Kedua, dengan Filipina (ekspor US$ 617,40 juta, impor US$ 78,20 juta), sehingga surplus US$ 539,2 juta. Ketiga, dengan India terjadi surplus US$ 444,20 juta.

Di pihak lain, defisit terbesar masih dialami Indonesia dengan Tiongkok, senilai US$ 512,50 juta (impor US$ 3,90 miliar, ekspor US$ 3,40 miliar). Berikutnya, Indonesia defisit dengan Australia sebesar US$ 332,60 juta (ekspor US$ 306,30 juta, impor US$ 838,90 juta).

Kemudian dengan Korea Selatan defisit US$ 185,50 juta. Suhariyanto mengakui, nilai ekspor Mei 2021 turun 10,25% dibanding bulan sebelumnya (mtm). Penurunan terjadi akibat pelemahan ekspor, baik mi gas maupun nonmigas yang masing-masing turun 2,68% dan 10,67%.

“Tetapi secara historis, nilai nominal ekspor dan impor memang selalu turun sesudah Ramadan dan Idulfitri,” kata dia.

Dia menambahkan, peningkatan nilai ekspor Mei 2021 sebesar 58,76% (yoy) disebabkan kenaikan ekspor migas sebesar 66,99% dan kenaikan ekspor nonmigas 58,30%.

“Kenaikan ekspor Mei 2021 sangat impresif secara tahunan, sebab pada Mei 2020 nilai ekspor hanya US$ 10,45 miliar. Bahkan dibandingkan Mei 2019 yang waktu itu belum ada pandemic Covid-19, nilai ekspor Mei 2021 performanya bagus sekali,” tegas dia.

Permintaan Meningkat

Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS
Kepala BPS Suhariyanto. Foto: Humas BPS

Kepala BPS mengemukakan, berdasarkan sektor, ekspor industri migas berada di peringkat pertama, yaitu US$ 12,83 miliar, disusul sektor pertambangan dan lainnya senilai US$ 2,59 miliar.

“Nilai ekspor sektor migas mencapai US$ 940 juta dan sektor pertanian sebesar US$ 240 juta,” ujar dia.

Menurut Suhariyanto, _ peningkatan impor yang sangat impresif selama Mei 2021 terjadi karena dua hal. Pertama, karena adanya low based ef fect pada Mei 2020. Kedua, akibat adanya peningkatan permintaan dari berbagai negara.

Secara kumulatif,_ total impor_Januari-Mei 2021 mencapai US$ 73,82 miliar, naik 22,74% dari Januari-Mei 2020 sebesar US$ 60,14 miliar.

“Kenaikan impor terjadi seiring pulihnya perekonomian berbagai Negara yang dibarengi peningkatan harga berbagai komoditas,” kata dia.

Berdasarkan penggunaan barang, impor barang konsumsi pada periode itu mencapai _US$ 1,40 miliar. Secara bulanan turun 13,77%, namun meningkat 50,34% secara tahunan.

Ada beberapa barang konsumsi yang turun cukup dalam dari April ke Mei 2021, yakni gula mentah (raw sugar) dari India, obat-obatan dari Jerman, mesin pendingin (AC) dari Tiongkok, buah kurma dari Arab Saudi, dan beberapa bagian mainan dari Tiongkok.Nilai kumulatif impor barang konsumsi _ pada Janu ari-Mei 2021, kata Suhariyanto, mencapai US$ 7,15 miliar, me ningkat 23,97% dibanding Janu ari-Mei 2020 yang hanya US$ 5,77 miliar.

Sedangkan nilai impor bahan baku/barang modal mencapai_ US$ 10,94 miliar, turun 11,6% secara bulanan, namun secara tahunan naik 79,11%.

“Tentunya kita harap peningkatan impor bahan baku akan berpengaruh pada pergerakan manufaktur Indonesia tahun ini,” tutur dia.

Secara kumulatif, nilai impor bahan baku/penolong pada Januari-Mei 2021 mencapai 56,06 miliar, naik 24,24% dari Januari-Mei 2020 yang sebesar US$ 45,16 miliar.

Adapun impor barang modal pada Januari-Mei 2021 sebesar US$ 10,61 miliar, tumbuh _15,13% dari Januari-Mei 2020 yang sebesar US$ 9,22 miliar.

Kepala BPS menjelaskan, berdasarkan struktur penggunaan barang, peran golongan bahan baku/penolong mencapai 76,88%, barang modal 13,25%, dan_ konsumsi 9,87%. Pangsa impor nonmigas terbesar adalah Tiongkok US$ 3,98 miliar (32,69%), diikuti Jepang US$ 920 juta (7,52%), dan Korea Selatan US$ 680 juta (5,56%).  

Ekspor Pertambangan

Neraca perdagangan bulanan 2020-2021
Neraca perdagangan bulanan 2020-2021

Suhariyanto juga mengemukakan, nilai ekspor sektor pertambangan dan lainnya mencapai _US$ 2,59 miliar pada Mei 2021, naik 14,29% dari posisi April 2021 (mtm) dan melonjak 95,37% dari posisi Mei 2020 (yoy).

Secara bulanan, peningkatan ekspor di sektor pertambangan disokong batu bara, bijih tembaga, lignit, biji besi, dan batu kerikil.

“Performa sektor pertambangan secara bulanan maupun tahunan sangat bagus pada _Mei lalu,” ucap dia.

Berdasarkan harga di pasar dunia, kata Suhariyanto, komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan harga cukup besar secara bulanan di antaranya batu bara, minyak kelapa sawit, timah, tembaga, nikel, dan emas. Harga batu bara naik 16,07% (mtm) dan melesat 103,9% (yoy).

Sedangkan harga minyak kelapa sawit naik 7,9% (mtm) dan me lonjak 101,74% (yoy). Selanjutnya harga tembaga naik 8,98% (mtm) dan melompat 93,94% (yoy)._ Begitu pula harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia, naik dari US$ 61,9 menjadi US$ 65,49 per barel, meningkat 5,70% (mtm) dan 155,12% (yoy).

“Meningkatnya permintaan berbagai komoditas dari berbagai negara terhadap produk- produk Indonesia diimbangi kenaikan harga berbagai komoditas di level internasional. Inilah yang membuat performa ekspor mengalami peningkatan yang menggembirakan,” papar dia.

Kepala BPS mengatakan, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$ 12,83 miliar, turun 14,02% (mtm), tetapi melambung 54,02% (yoy). Produk industri pengolahan yang ekspornya turun (mtm) adalah besi baja, sepatu olah raga, kimia dasar organik dari minyak, dan peralatan listrik.

“Sedangkan kenaikan ekspor dari industri pengolahan (yoy) terjadi akibat kenaikan ekspor produk-produk andalan Indonesia, antara lain minyak kelapa sawit dan besi baja,” tutur dia.  

Di sisi lain, menurut Suhariyanto, nilai ekspor sektor pertanian mencapai US$ 240 juta, turun 30,06% (mtm) dan meningkat 0,69% (yoy). Penurunan (mtm) terjadi pada komoditas tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah. Ekspor kopi juga turun, demikian pula sarang burung dan cengkeh,

“Adapun ekspor hasil pertanian yang naik (yoy) antara lain tanaman obat, aromatik, rempah- rempah, sarang burung, biji kakao, dan kepiting,” ujar dia.  

Berdasarkan strukturnya, kata Kepala BPS, ekspor pertambangan berkontribusi 15,63% terhadap ekspor keseluruhan, sedangkan ekspor industri pengolahan berkontribusi 77,3% terhadap seluruh porsi ekspor.

Adapun ekspor sektor pertanian berkontribusi 1,43% dan ekspor sektor migas menyumbang 5,64%. “Struktur ekspor tidak berubah, ekspor nonmigas menyumbang 94,36% dan migas berperan 5,64%,” tandas dia.

Sektor Riil Belum Optimal

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Secara terpisah, ekonom Ryan Kiryanto mengatakan, tingginya surplus perdagangan pada Mei 2021 terjadi karena sektor produksi atau sektor riiil belum optimal. Itu terlihat pada impor bahan baku atau barang penolong yang terkontraksi 11,6% (mtm). Begitu pula impor barang modal, terkontraksi 14,09% (mtm).

“Kita masih mengandalkan impor bahan baku, sementara di dalam negeri utilisasi di sejumlah sektor pengolahan belum kembali penuh,” ujar dia.

Ryan Kiryanto memperkirakan saat perekonomian pulih dan sektor produksi meningkat, impor bahan baku dan barang modal bakal melonjak. Kondisi itu akan membuat surplus neraca perdagangan menipis.

“Tetapi tidak perlu khawatir. Sekalipun defisit, impornya untuk menopang produksi, kok,” ucap dia.

Menurut Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Erwin Haryono, surplus neraca perdagangan Mei 2021 berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.  “Dengan ketahanan tersebut, BI ke depan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mendukung pemulihan ekonomi,” tegas dia.(az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN