Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kegiatan operasional di Terminak Peti Kemas (TPK) Nilam di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto: Perusahaan

Kegiatan operasional di Terminak Peti Kemas (TPK) Nilam di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Foto: Perusahaan

Surplus Perdagangan RI Diperkirakan Menyusut pada Agustus 2022

Kamis, 15 September 2022 | 08:55 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2022 diperkirakan menyusut menjadi US$ 3,69 miliar di tengah melemahnya permintaan global. Pada bulan sebelumnya, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat masih di angka US$ 4,23 miliar.

“Kekhawatiran akan resesi global terus tumbuh, seiring dengan semakin agresifnya normalisasi moneter global untuk memerangi inflasi. Hal ini memberikan tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia,” ujar ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Faisal Rachman dalam preview-nya yang dikutip Investor Daily, Kamis (15/9/2022).

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (15/9/2022) siang ini dijadwalkan bakal mengumumkan data perdagangan Indonesi untuk periode Agustus 2022.

Kinerja ekspor diperkirakan melemah seiring aktivitas perdagangan global yang mulai lesu. “Kami memperkirakan ekspor Indonesia pada Agustus 2022 akan tumbuh 19,19% secara year on year (yoy) atau -0,10% secara month to month/mom (vs 32,03% yoy pada Juli 2022),” tulis Faisal.

Hal tersebut, lanjut dia, terutama disebabkan oleh penurunan harga minyak sawit mentah (CPO), meredanya kenaikan harga batu bara, dan melambatnya volume perdagangan global yang ditunjukkan oleh penurunan lebih lanjut pada Baltic Dry Index.

PMI manufaktur Tiongkok, mitra dagang utama Indonesia, juga tercatat turun menjadi 49,5 pada Agustus 2022 dari Juli 2022 yang masih sebesar 50,4. “Ini kontraksi pertama sejak Mei 2022. Hal itu terkait dengan dampak lockdown yang meluas dan kelangkaan listrik,” kata Faisal.

Sementara itu, impor Indonesia pada Agustus 2022 akan tumbuh sebesar 30,99% (yoy) atau 2,35% bulanan (vs 39,86% yoy pada Juli 2022). “Ini dipengaruhi oleh harga minyak turun, sementara PMI manufaktur Indonesia terus meningkat pada Agustus 2022 menjadi 51,7 (vs 51,3 pada Juli 2022) sehingga menunjukkan penguatan permintaan,” papar Faisal.

Bank Mandiri memperkirakan, neraca transaksi berjalan tetap mencatat surplus pada 2022. “Kami tegaskan kembali bahwa surplus barang dalam neraca transaksi berjalan cenderung menyempit ke depan. Kami berharap impor dapat mengimbangi ekspor seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik,” kata Faisal.

Perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih kuat dari perkiraan yaitu 5,44% (yoy) pada kuartal II-2022, menunjukkan peningkatan produksi dan konsumsi domestik. Tren kenaikan sebagian besar harga komoditas juga terlihat mereda di tengah kekhawatiran resesi global yang dapat melemahkan permintaan dunia.

“Dengan demikian, hal ini dapat berisiko ke kinerja ekspor di semerter II-2022 yang melemah. Kami melihat, neraca transaksi berjalan tahun 2022 masih berpotensi mencatatkan surplus kecil sebesar 0,03% dari PDB (vs 0,28% dari PDB pada tahun 2021). Ini bisa menjaga cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas dia.

Selain itu, lanjut Faisal, upaya pemerintah dan Bank Indonesia untuk menerapkan kembali sanksi bagi eksportir yang tidak menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri dapat semakin mendukung penguatan cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com