Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Survei BPS: Covid-19 Pengaruhi Pendapatan Masyarakat Bawah

Jumat, 10 Juli 2020 | 13:37 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 telah menekan pendapatan masyarakat miskin, rentan miskin dan pekerja di sektor informal yang mengalami penurunan pendapatan.

Menteri Keuangan (Mennkeu) Sri Mulyani mengatakan, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Juni dicatat bahwa sebanyak 70,53% masyarakat yang berpendapatan maksimalnya Rp 1,8 juta per bulan mengalami penurunan.

Kemudian 46,77%, masyarakat  pendapatan di kisaran Rp 1,8 juta hingga Rp 3 juta per bulan mengalami penurunan.  Sementara pendapatan Rp 3 juta hingga 4,8 juta mempengaruhi 37,19% masyarakat.

Selanjutnya, masyarakat yang berpendapatan Rp 4,8 juta sampai Rp 7,2 juta ada sebanyak 31,67% yang mengalami penurunan, lalu masyarakat yang berpendapatan di atas Rp 7,2 juta ada 30,34%-nya yang mengalami penurunan. 

“Hasil survei demografi Covid, BPS menyebabkan Covid langsung pengaruhi level akar rumput, karena ada pembatasan sosial, ekonomi informal dan UMKM sangat kecil langsung terdampak,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Banggar DPR RI, Kamis (9/7).

Dia melanjutkan, salah satu faktor dari menurunnya pendapatan masyarakat itu adalah penerapan PSBB di sejumlah wilayah. Akibatnya, aktivitas ekonomi dan bisnis masyarakat tak berjalan, utamanya pada pekerja informal yang masih membutuhkan kehadiran fisik.

"Hasil survei demografi Covid -19 yang dilakukan BPS, dampak Covid berpengaruh pada level akar rumput," jelasnya.

Selain itu, survey yang diikuti oleh 87.379 responden, tercatat sebanyak 56,40% responden yang disurvei masih memiliki pekerjaan, 22,74% tidak bekerja,kemudian  sebanyak 18,34% bekerja atau dirumahkan sementara, serta 2,52% terkena PHK.

Dengan demikian, dari total responden itu, sebanyak 35,78% responden mengaku pendapatannya menurun akibat Covid -19.

“Survei ini gambarkan semakin rendah pendapatan masyarakat  dampak penurunan pendapatan akibat Covid-19 jauh lebih besar. Karena itu langkah-langkah  dengan menambah bansos dari berbagai jalur, dari kemensos, dana desa, prakerja semua tujuannya untuk mendukung dan memberi bantuan ke masyarakat  yang alami dampak penurunan pendapatan akibat Covid-19”tuturnya.

Di samping itu, Covid-19 telah berdampak terhadap naiknya pengeluaran dan kecenderungan perubahan cara belanja menjadi online.

“Urgensi pengenaan pajak untuk transaksi digital menjadi meningkat,”tuturnya.

Sebanyak 56% mengalami peningkatan pengeluaran, sedangkan sebanyak 17% responden yang pengeluarannya turun. Bahkan selama covid juga terjadi perubahan cara belanja menjadi meningkat belanja online sebesar 31%.

Oleh karena itu untuk meredam dampak yang lebih besar, pemerintah mengambil langkah cepat dan luar biasa. Fokus prioritas penanganan dampak pandemic Covid-19 kepada kesehatan, jaring pengaman sosial dan dukungan bagi dunia usaha.

“Dalam upaya mengatasi dampak pandemi Covid-19 sekaligus upaya pemulihan ekonomi nasional,” jelasnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN