Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Susi pimpin penenggalam kapal asing di 3 lokasi, yakni Natuna, Batam, dan Belawan. Foto: dok. KKP.

Menteri Susi pimpin penenggalam kapal asing di 3 lokasi, yakni Natuna, Batam, dan Belawan. Foto: dok. KKP.

Susi: Penenggelaman Kapal IUU Fishing Tidak Ganggu Investasi

Cut Eme, Kamis, 10 Oktober 2019 | 16:35 WIB

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, penenggelaman kapal-kapal pelaku penangkapan ikan secara ilegal (illegal, unreported, unregulated/ IUU fishing) tidak akan mengganggu investasi. Pasalnya, penenggelaman kapal adalah salah satu langkah penegakan hukum oleh pemerintah terhadap pelaku IUU fishing. Hal itu disampaikannya guna membantah pernyataan bahwa penenggelaman kapal mengganggu investasi di sektor perikanan Indonesia.

Susi menambahkan, kapal-kapal ikan di Indonesia mampu dan memiliki kapasitas yang cukup dan mendukung. Karena itu, ujar Susi, Indonesia tidak membutuhkan masuknya asing ke sektor perikanan tangkap nasional. Jika diizinkan, kata Susi, kapal perikanan asing justru akan mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Karena, tidak memiliki rasa tanggung jawab atas kedaulatan Indonesia.

"Jaga dan perhatikan Peraturan Presiden (Perpres) No 44/2016 Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. Jangan sampai direvisi. Karena sekarang banyak bahasan, ada pejabat dan ekonom yang bilang investor takut karena penenggelaman kapal. Apa hubungannya? Investor datang mau nyolong atau mau investasi? Saya cuma menenggelamkan kapal-kapal yang nyolong, bukan yang baik-baik," kata Susi saat membuka Kongres I Himpunan Nelayan Purse seine Nusantara (HNPN), di Jakarta, Kamis (10/10).

Susi mengatakan, Perpres No 44/2016 merupakan terobosan yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo. Dengan kebijakan itu, kata dia, pemerintah melarang asing masuk ke sub sektor perikanan tangkap. Di sisi lain, asing diperbolehkan masuk dan berinvestasi ke sub sektor pengolahan ikan dan logistik perikanan seperti cold storage.

"Ada pakar dan aparat senior yang bilang kapal-kapal kita nggak mampu dan cukup untuk memberdayakan sumber daya ikan nasional. Karena itu, perlu kapal asing. Sudah banyak seminar-seminar dilakukan untuk mendorong wacana itu. Mereka bukannya mendorong supaya kapal ikan Indonesia terjaga. Dan, tekanan ini akan semakin tinggi. Apalagi setelah PBB menyatakan tidak boleh lagi ada IUU fishing tahun 2020. Para pelaku IUU fishing di luar akan mencari tempat untuk menjadikan mereka legal dan resmi. Masa mau menangkap ikan saja kita harus membutuhkan orang asing?," tegas Susi.

Kewaspadaan atas modus-modus IUU fishing, kata dia, harus ditingkatkan. Dia mencontohkan, saat ini, di Afrika, para pelaku IUU fishing banyak membeli kapal-kapal dan perusahaan ikan lokal di negara tersebut. "Bukan mustahil praktik itu akan terjadi di kita juga," kata Susi.

Secara terpisah, Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar mengatakan, berdasarkan hasil due diligence pengajuan SIUP, dicurigai adanya modus-modus minat asing masuk ke sektor perikanan tangkap Indonesia.

"Saat ini, ada sekitar 2.183 kapal ikan yang sudah habis masa berlaku izinnya dan mereka tidak memperpanjang. Tapi, mereka tetap melaut dan itu merugikan karena hasil tangkapannya tidak tercatat. Lalu, ada sekitar 2 ribuan kapal baru yang dibangun tanpa izin. Mereka bangun dulu, urus izin kemudian. Kami telusuri, termasuk sumber modalnya. Ada yang sebenarnya dia tidak mampu menambah 2 kapal, tapi menambah 2 kapal baru. Kami selidiki. Kami duga, pemodal-pemodal asing ini banyak yang titip bangun kapal, disebar. Bisa juga, kapal-kapal yang habis izin tadi mereka beli," kata Zulficar.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA