Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
SPBU, BBM. Foto ilustrasi: IST

SPBU, BBM. Foto ilustrasi: IST

Tahun Depan, Pertamina Mulai Produksi Biodiesel 100%

Rabu, 1 Juli 2020 | 19:53 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

 

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) menargetkan dapat menghasilkan bahan bakar biodiesel 100% (B100) sebesar 3.000 barel per hari (bph) pada tahun depan menyusul beroperasinya fasilitas pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Kapasitas produksi B100 akan ditingkatkan menjadi 26 ribu BPH pada 2023.

Direktur Utama PT Pertamina Kilang Internasional Ignatius Tallulembang menuturkan, pembangunan kilang hijau atau biorefinery menjadi salah satu prioritas pihaknya. Utamanya, penambahan fasilitas yang dapat menghasilkan B100 dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) murni di Kilang Cilacap.

“Di Cilacap, sebagai prioritas, kami akan bangun dulu yang biorefinery, akan diselesaikan tahun depan dengan kapasitas 3.000 bph,” kata dia dalam rapat dengan Komisi VII di Jakarta, Rabu (1/7).

Saat ini, pihaknya telah menetapkan kontraktor yang mengerjakan desain dasar (basic engineering design/BED) untuk perbaikan unit THDT yang dibutuhkan untuk mengolah CPO murni. Nantinya, pembangunan fasilitas kilang hijau di komplek Kilang Cilacap ini akan dilakukan bertahap.

“Tahun depannya lagi [pada 2022], akan ditambah lagi [kapasitas kilang hijau di Cilacap] menjadi 6.000 bph,” tutur Tallulembang.

Selain di Cilacap, pihaknya juga tengah memproses pembangunan kilang hijau di komplek Kilang Plaju, Sumatera Selatan. Mengacu data Pertamina, pada tahun lalu, perseroan telah merampungkan prastudi kelayakan (pre feasibility study/Pre-FS) proyek ini. Kemudian April kemarin, perseroan juga sudah meneken kontrak pengerjaan BED kilang hijau ini.

“Saat ini sedang siapkan engineering, sedang berlangsung dan akan dilakukan percepatan,” jelas Tallulembang. Ditambahkannya, kilang hijau di Plaju akan memiliki kapasitas pengolahan CPO murni sebesar 20 ribu bph dan ditargetkan rampung pada 2023.

Mengacu data Pertamina, kedua kilang ini dijadwalkan bisa masuk tahap lelang Dual Feed Competition (DFC), yakni pemilihan kontraktor yang menggarap desain rinci (front end engineering design/FEED) sekaligus paket rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC). Hal ini agar proyek bisa selesai sesuai target.

Tallulembang menambahkan, proyek kilang hijau di Komplek Kilang Cilacap bukan proyek pembangunan unit baru. Pihaknya hanya akan melakukan modifikasi unit eksisting agar dapat menghasilkan bahan bakar hijau, sehingga lebih cepat selesai. Proyek ini akan menjadi bagian dari Proyek RDMP Kilang Cilacap. Sementara di Plaju, pihaknya membangun unit baru yang berdiri sendiri (stand alone).

Proyek Kilang Hijau Cilacap dan Plaju bakal masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2020-2024. Hal ini sesuai dengan daftar usulan proyek dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang disetujui untuk masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Daftar usulan ini menyusul adanya rencana revisi Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Beleid tersebut berisi daftar proyek yang menjadi prioritas.

Sebenarnya, Proyek Kilang Hijau Plaju di Sumatera Selatan telah masuh daftar PSN di Perpres 18/2020 tersebut. Dalam lampiran beleid itu disebutkan proyek kilang ini berkapasitas 20 ribu barel per hari (bph) dengan indikasi pendanaan mencapai Rp 11,9 triliun. Namun, Proyek Kilang Hijau Cilacap belum masuk daftar PSN di Perpres 18/2020 tersebut.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, sesuai program pemerintah, perbaikan dan pembangunan kilang untuk menghasilkan B100 ini cukup penting. Pasalnya, secara teknis, pencampuran fatty acid methyl ester (FAME) dengan solar hanya dapat dilakukan sampai maksimal kadar 30% saja. Hal ini mengingat kandungan air atau gliserin dalam FAME sangat tinggi.

Di sisi lain, dalam roadmap mandatori pemerintah, pencampuran FAME ditargetkan mencapai 50% atau B50. “Jadi selebihnya kalau mau B40 atau B50 harus ditambahkan HVO (hydrotreated vegetable oil) atau B100. Jadi kalau B50 maka 20% FAME dan 30% HVO,” paparnya.

 

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN