Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: AFP/Beritasatu.com)

Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: AFP/Beritasatu.com)

Tahun ini, BI Proyeksi Titik Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,1-5,2%

Rabu, 26 Januari 2022 | 16:54 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memproyeksi titik tengah pertumbuhan ekonomi RI tahun ini sebesar 5,1-5,2%. Proyeksi ini lebih baik jika dibandingkan prediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu yang akan hanya mencapai 3,6%.

“Jadi kami cukup yakin bahwa ekonomi tahun ini akan jauh lebih baik, dengan proyeksi di sekitar 4,7-5,5% , dengan titik tengah 5,1-5,2%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi 2021 disekitar 3,4% dan 4%, dengan (titik tengah) 3,6%,” tegas Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo dalam Diskusi Peluncuran Laporan Transparansi dan Akuntabilitas BI, Rabu (26/1).

Ia meyakini pemulihan ekonomi yang lebih kuat akan terjadi di tahun ini. Hal ini merujuk beberapa data yang telah menunjukkan perbaikan seperti penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen (IKK).

Lebih lanjut, ia mengatakan, bank sentral akan tetap melakukan koordinasi dan sinergi secara erat bersama pemerintah dan tim Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi. Bank Indonesia, kata Dody, akan tetap menjaga kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, ekonomi hijau, dan digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

“Bauran kebijakan BI kami, kami menyebutnya sebagai kerangka kebijakan terintegrasi, adalah kunci untuk menghadapi tantangan,” ucapnya.

Di samping itu, peningkatan inflasi yang terjadi di negara maju, disebutnya merupakan scarring effect yang ditimbulkan pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lama. Kenaikan inflasi mengindikasikan pulihnya kegiatan ekonomi yang mendorong peningkatan sisi permintaan. Tetapi meningkatnya permintaan, dinilai tak diimbangi dari sisi suplai sehingga menyebabkan terganggunya rantai pasok. BI belum dapat memperkirakan inflasi di negara maju hanya bersifat sementara atau permanen.

Tak hanya itu, peningkatan inflasi yang tinggi di berbagai negara maju juga mulai mendorong normalisasi kebijakan moneter di negara tersebut. Kebijakan ini akhirnya akan memberikan dampak bagi pasar keuangan negara berkembang. “Tantangannya, normalisasi beberapa negara sudah dimulai dengan menaikkan suku bunga menyebabkan spill over datang ke negara-negara berkembang,” tandasnya.

Menurut Dody, kebijakan BI untuk menghadapi tapering tidak hanya melalui suku bunga acuan, tetapi menjaga stabilitas harga dan mendukung stabilitas sistem keuangan melalui kombinasi langkah-langkah kebijakan seperti triple intervention di pasar spot, DNDF dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Untuk itu, BI memastikan akan mempertahankan suku bunga acuan di level rendah sampai ada indikasi kenaikan inflasi. Dalam rapat terakhir, BI menetapkan suku bunga acuan tetap di level 3,5%. “Kami akan menggunakan kebijakan suku bunga rendah sampai ada indikasi risiko inflasi,” tutup Dody.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa arah kebijakan moneter BI masih tetap kuat, yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dalam merespon suku bunga. Oleh karena itu, kebijakan yang akan ditempuh BI akan berdasarkan perkembangan data terkini dan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta perkembangan inflasi domestik.

“Jadi ini adalah pendekatan yang bergantung pada data tetapi pada dasarnya kami tetap menganggap (faktor global) akan menjadi tekanan untuk tujuan kami, yaitu inflasi dan stabilitas nilai tukar,” tegasnya.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN