Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada pengiriman Lion Parcel

Armada pengiriman Lion Parcel

Tahun Ini, Lion Parcel Bidik pendapatan US$ 100 Juta

Kamis, 3 Juni 2021 | 11:06 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Lion Parcel menargetkan pendapatan senilai US$ 100 juta atau lebih dari Rp 1,4 triliun pada tahun ini. Jumlah tersebut melonjak sekitar 40% dibandingkan realisasi pada 2020 yang sekitar Rp 1 triliun.

“Kira-kira tahun ini we are going around US$ 100 million. Untuk tahun 2020 sekitar close to Rp 1 triliun,” kata Chief Executive Officer (CEO) Lion Parcel Farian Kirana dalam Media Visit Lion Parcel ke BeritaSatu Media Holdings secara daring pada Rabu (2/6).

Dia menyebutkan, peningkatan pendapatan pada tahun ini akan lebih didorong dari masa larangan mudik yang lebih singkat dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, arus kargo dari Lion Parcel ini juga ditentukan dengan ketersediaan lalu lintas penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai-maskapai di bawah naungan Lion Air Group, yakni Lion Air, Batik Air, dan Wings Air.

Apabila maskapai tidak bisa terbang, pengiriman barang oleh Lion Parcel akan tertunda karena memanfaatkan ruang bagasi pesawat.

Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Sumber: BSTV
Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Sumber: BSTV

Adapun sepanjang bulan Ramadan lalu, Lion Parcel melayani 4 juta kilogram barang dengan hampir 3 juta transaksi.

“Ketika tidak boleh ada flight itu causes, orangnya juga berpikir Lion Parcel juga tidak ada flight sehingga itu akan turun. Last year tidak boleh hampir dua bulan. This year juga sama 6-17 Mei. Begitu tahun ini larangan mudik itu volume kita juga go down,” jelas Farian.

Namun, Farian menekankan, dari seluruh kargo yang diangkut maskapai-maskapai Lion Air Group, Lion Parcel berkontribusi sekitar 30%. Sedangkan, sisanya merupakan barang dari pihak lain yang bekerja sama ataupun menggunakan jasa maskapai-maskapai Lion Air Group.

Sedangkan, dari total keseluruhan biaya yang dikeluarkan Lion Parcel, 40% di antaranya digunakan untuk biaya kepada maskapai-maskapai Lion Air Group.

COO Berita Satu Media Holdings Anthony Wonsono (kanan) dan Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu bersama jajaran redkasi saat menerima company visit secara daring Farian Kirana, CEO Lion Parcel, Rabu (2/6/2021) Sumber: BSTV
COO Berita Satu Media Holdings Anthony Wonsono (kanan) dan Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu bersama jajaran redkasi saat menerima company visit secara daring Farian Kirana, CEO Lion Parcel, Rabu (2/6/2021) Sumber: BSTV

Guna mendorong pendapatan, terang Farian, pihaknya juga fokus untuk memperbaiki fundamental perusahaan, bukan hanya dari sisi kuantitas tapi juga kualitas.

“Gimana caranya kami create bukan hanya agen tapi kualitas agen. Kita lihat agen-agen kami yang masih belum terlalu produktif, yang idle, dan gabungkan beberapa- beberapa jenis usahanya. Kami mau create suatu kesempatan bisnis franchising opportunities yang lebih bagus lagi,” imbuh dia.

Selain itu, jelas dia, Lion Parcel merencanakan perbaikan dari sisi branding dan marketing perusahaan sehingga mudah diingat oleh masyarakat.

IPO

Lebih lanjut, Lion Parcel menargetkan untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2023. Farian Kirana menjelaskan, pihaknya berkomitmen untuk melakukan IPO lantaran tren bisnis logistic yang terus bertumbuh. Hal tersebut juga terjadi di masa pandemic Covid-19 dalam dua tahun ini di mana bisnis-bisnis lain lebih banyak tertekan, termasuk bisnis maskapai yang notabene bisnis inti induk usahanya. Oleh karena itu, Lion Parcel akan lebih dulu melakukan IPO dibandingkan induk usahanya.

“Valuasi logistik ini seksi. Investor lihat multiplier-nya lebih seksi. Kebalikannya dengan airline. Pada pandemi turun di airline naik di logistik. Tapi turun di airline memang lebih besar. Kalau industri airline IPO dalam waktu dekat ini timing-nya tidak tepat karena everybody sedang running away from airline,” kata Farian.

Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Foto: IST
Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Foto: IST

Dia menjelaskan, untuk dana yang tergalang dari IPO akan digunakan untuk pengembangan selanjutnya dari bisnis Lion Parcel. Namun demikian, kata dia, pihaknya belum dapat menentukan besaran target dana yang diperoleh dari penawaran saham perdana ke publik itu.

“Kami ingin penggunaan IPO itu untuk next development dari bisnis Lion Parcel. Jadi penguatan dari sisi the whole end to end supply chain. Kalau sekarang kami baru ke pengiriman yang retail, kami juga mau merambah ke logistic yang benar-benar full,” jelas dia.

Farian mengatakan, meski IPO ditargetkan baru terlaksana pada 2023, Lion Parcel sudah mulai melakukan persiapan sejak dini guna memantapkan rencana tersebut.

“Kami punya big dream ke situ (IPO) 2023. Kami realistis juga. Kami beres-beres dulu kaya namanya sistem dan lain-lain supaya lebih proper. Kami sedang prepare untuk do it properly,” ucap Farian.

Tanpa Kurir Sendiri

Farian menyampaikan, Lion Parcel tak mempunyai kurir sendiri ataupun cabang perusahaan. Lion Parcel hanya bekerja sama dengan pihak yang berminat menjadi agen, juga perusahaan yang mau bekerja sama secaralangsung. Saat ini, Lion Parcel tercatat diperkuat 4.500 agen aktif bulanan, 10 ribu kurir teregistrasi, dan 700 mobil maupun truk.

“Sekitar 70% revenue kami datang dari agen. The biggest agent itu kurang dari 1% dari total pendapatan. Jadi, no agent can control what company should do. Bahkan pendapatan dari perusahaan itu 25% dari total pendapatan. Lalu, 5% itu baru dari e-commerce,” ungkap Farian.

Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Sumber: BSTV
Farian Kirana, CEO Lion Parcel. Sumber: BSTV

Lion Parcel menawarkan layanan lengkap pengiriman barang dari first mile hingga last mile. Adapun pengiriman first mile adalah proses di mana pengirim menyerahkan paketnya ke pihak logistik. Sementara pengiriman last mile adalah proses yang dilakukan pihak logistik untuk mengirim dan menyerahkan paket ke penerima.

Farian Kirana menjelaskan, sebelumnya banyak masyarakat mengira Lion Parcel hanya menyediakan jasa pengiriman kargo port to port atau dari bandara ke bandara saja dengan memanfaatkan armada-armada yang dioperasikan maskapai-maskapai naungan Lion Air Group.

“Kadang Lion Parcel ini dilihat orang bahwa pengirimannya kargo port to port, padahal kami melakukan end to end first mile dan last mile,” kata Farian.

Farian mengungkapkan, saat ini ada sejumlah produk yang ditawarkan Lion Parcel kepada masyarakat untuk mengirimkan barangnya, antara lain onepack (pengiriman besok sampai), regpack (pengiriman reguler), docupack (pengiriman dokumen), landpack (layanan kiriman jalur darat dengan kereta api ataupun truk), bigpack (kiriman yang dikenakan biaya minimum kilogram), dan interpack (layanan paket internasional).

Menurut dia, pihaknya tengah fokus membangun citra positif Lion Parcel dengan menawarkan layanan beragam sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami mau ubah stigma. Orang pakai Lion Parcel, mereka lihat Lion Parcel kalau pengirimannya jauh-jauh. Kedua, kalau barangnya besar-besar bulky item,” imbuh Farian.

Cross Border

Lion Air menerima pesawat Airbus 330-900NEO terbaru pada 31 Januari 2021. Armada tersebut diberi nomor registrasi PK-LEQ.
Armada Lion Air. Foto: IST 

Lebih jauh, Lion Parcel menyediakan layanan pengiriman barang internasional atau interpack, baik untuk impor maupun ekspor.

Menurut Farian, layanan cross border ini juga mengoptimalkan penerbangan yang dilayani maskapai- maskapai Lion Air Group yang berada di luar negeri, seperti Malindo Air di Malaysia dan Thai Lion Air di Thailand.

Dia menuturkan, untuk tahap awal, layanan cross border baru dibuka untuk rute ke Singapura dan Kuala Lumpur. Namun, ke depan, jaringan layanan itu akan diperluas apabila pandemi Covid- 19 sudah mereda.

Cross border internasional baru beberapa, Seperti Singapura dan Kuala Lumpur. Yang lain kita jajaki, seperti Bangkok, New Delhi, dan Australia. Kita belum utilize karena baru mau utilize ada Covid,” ujar Farian.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN