Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Foto: tnbukitduabelas.id

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Foto: tnbukitduabelas.id

Tanoh Behuma, Langkah Tepat Solusi Tempat Tinggal Orang Rimba

Minggu, 20 Juni 2021 | 09:24 WIB
Investor Daily

JAMBI, investor.id - Pengalokasian zona tradisional atau yang disebut sebagai Tanoh Behuma di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) kepada Suku Anak Dalam (SAD) merupakan langkah tepat.

Hal ini karena SAD atau orang Rimba merupakan suku lokal yang telah lama mendiami kawasan TNBD jauh sebelum kawasan tersebut ditunjuk sebagai taman nasional.

Dosen Ilmu Sosial Universitas Jambi Idris Sardi menjelaskan, Tanoh Behuma  merupakan kawasan terluas dari kawasan TNBD yang dikembangkan dan dimanfaatkan secara tradisional untuk memenuhi sekaligus mengakomodasi kebutuhan hidup Orang Rimba yang dikenal erat memegang prinsip-prinsip kelestarian.

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Foto: tnbukitduabelas.id
Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Foto: tnbukitduabelas.id

Lokasinya terletak di tiga kabupaten, yakni Tebo, Batanghari dan Sarolangun, Provinsi Jambi.

 SK yang ditandatangani Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH)  Wiratno tahun 2019 menjadi langkah penting untuk memberi ruang hidup bagi Orang Rimba.

Secara formal administrasi, pemerintah telah mengalokasikan ruang yang cukup untuk kehidupan Orang Rimba di kawasan TNBD. Pemerintah diharapkan juga menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi permanen bagi kehidupan dan hidup Orang Rimba.

”Perhatian pemerintah ini sangat luar biasa dan patut diapresiasi semua pihak,” puji Idris Sardi, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/6/2021).

Agar kehidupan Orang Rimba dapat terus terjaga, Idris Sardi mengharapkan, para pemangku kepentingan lain juga berperan aktif.

Selama ini, diakui Idris Sardi, cukup banyak pihak yang membantu kehidupan Orang Rimba. Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah dan KLHK, keberadaan perkebunan sawit yang lokasinya berdampingan punya peran penting dalam mendukung kehidupan Orang Rimba. Terutama, melalui program-program CSR-nya.

PT Sari Aditya Loka (PT SAL) mendapatkan dua penghargaan dalam kontribusinya kepada pengembangan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Anak Dalam (SAD).
PT Sari Aditya Loka (PT SAL) mendapatkan dua penghargaan dalam kontribusinya kepada pengembangan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Anak Dalam (SAD).

‘Kalau mau jujur, tidak banyak perusahaan seperti PT SAL yang punya komitmen kuat untuk mendukung kehidupan Orang Rimba untuk menjadi lebih baik,” katanya menyebut peran PT Sari Aditya Loka (SAL) selama ini.

Idris Sardi juga mengingatkan, perlu dilakukan survei dan riset berkesinambungan untuk  memahami kondisi Orang Rimba yang juga sering disebut dengan Suku Anak Dalam (SAD) agar dapat dilakukan pemetaan secara tepat.

“Dulu kita menduga-duga bahwa Suku Anak Dalam tidak bisa menetap karena kehidupannya yang  melangun. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar,” kata Idris Sardi.

Bakti sosial forum kemitraan untuk Suku Anak Dalam. Foto: IST
Bakti sosial forum kemitraan untuk Suku Anak Dalam. Foto: IST

Dari kacamata antropologi,  kehidupan masyarakat nomaden sebenarnya erat kaitannya dengan makanan. Kalau ada sumber makanan yang cukup, sebenarnya mereka mau menetap.

Karena itu, Saran Idris Sardi, Orang Rimba perlu diajak untuk melakukan transformasi nilai-nilai sosio kultural dari masyarakat meramu-berburu menjadi masyarakat bercocok tanam.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan Tanoh Behuma sebagai sumber produksi dan ketahanan pangan bagi Orang Rimba.

Tano Behuma  terbagi menjadi dua bagian, yaitu tapak keluarga  yang merupakan areal garapan keluarga dan tapak komunal  sebagai areal cadangan kelompok yang dikenal dengan istilah Tano Pesako.

Orang Rimba hidup secara berkelompok dengan jumlah puluhan hingga ratusan keluarga dalam satu kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang ketua bergelar Temenggung.

“Saat ini ada 13 kelompok yang hidup dan bermukim di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas,” jelas Idris Sardi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN