Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pidato Presiden tentang RAPBN 2021 dan Nota keuangan, Jumat (14/8/2020). Sumber: BSTV

Pidato Presiden tentang RAPBN 2021 dan Nota keuangan, Jumat (14/8/2020). Sumber: BSTV

Targetkan Ekonomi 2021 Tumbuh 4,5-5,5%, Jokowi Andalkan Konsumsi Domestik dan Investasi

Jumat, 14 Agustus 2020 | 14:55 WIB

JAKARTA- Presiden Jokowi mematok target pertumbuhan ekonomi 2021 pada kisaran 4,5-5,5%. Pertumbuhan ekonomi tahun depan bakal dimotori konsumsi domestik dan investasi.

“Tingkat pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 4,5% hingga 5,5% diharapkan didukung peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama," kata Jokowi saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021 Beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2020).

Presiden juga mengemukakan, inflasi tahun depan bakal tetap terjaga pada level 3% untuk mendukung daya beli masyarakat. Sedangkan rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 14.600 per dolar AS.

Selain itu, kata Presiden Jokowi, suku bunga surat berhaga negara (SBN) 10 tahun diperkirakan sekitar 7,29%, harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 45 per barel, dan produksi (lifting) minyak dan gas bumi (migas) diperkirakan masing-masing mencapai 705 ribu barel per hari (bph) dan 1,007 juta barel setara minyak per hari (bsmph).

Presiden menambahkan, APBN 2021 yang mengusung tema Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi, diarahkan ke beberapa target. Pertama, mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Kedua, mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing ekonomi. Ketiga, mempercepat transformasi ekonomi menuju era digital. Keempat, pemanfaatan dan antisipasi perubahan demografi.

“Karena akan banyak ketidakpastian, RAPBN harus mengantisipasi ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, serta perkembangan tatanan sosial ekonomi dan geopolitik. Juga efektivitas pemulihan ekonomi nasional, serta kondisi dan stabilitas sektor keuangan” papar Presiden.

Kepala Negara menjelaskan, ketidakpastian global maupun domestik masih akan terjadi. Alhasil, program pemulihan ekonomi akan terus dilanjutkan bersamaan dengan reformasi di berbagai bidang. “Kebijakan relaksasi defisit melebihi 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) masih diperlukan, dengan tetap menjaga kehati-hatian, kredibilitas, dan kesinambungan fiskal,” tegas Presiden.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN