Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pesawat Garuda Indonesia di bandara international I gusti Ngurah Rai, di Bali, Jumat (25/10/2019).

Pesawat Garuda Indonesia di bandara international I gusti Ngurah Rai, di Bali, Jumat (25/10/2019).

Tarif Angkutan Udara Dorong Inflasi Mei 2020

Arnoldus Kristianus, Selasa, 2 Juni 2020 | 12:51 WIB

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada Mei 2020 yang sebesar 0,07% terjadi karena beberapa faktor yaitu karena kenaikan tarif angkutan udara serta harga bawang merah dan daging ayam. Namun, pola inflasi bulan lalu itu tidak biasa karena adanya dampak pandemi virus corona baru (Covid 19).

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, menurut komponen, inflasi terjadi karena kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered price) yaitu kenaikan tarif angkutan udara, rokok kretek filter, dan bahan rumah tangga.

“Kenaikan tarif angkutan udara memberikan andil inflasi 0,08%, tarif kereta api andil 0,02%, rokok kretek filter memberikan andil 0,1%, dan bahan bakar rumah tangga sebear 0,01%,” ucap Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (2/6).

Menurut dia, inflasi pada Mei 2020 yang sebear 0,07% ini termasuk dalam posisi rendah meski pada Mei 2020 ada perayaan Hari Raya Lebaran. Sementara, pada 2019 saat Idul Fitri jatuh bulan Juni terjadi inflasi sebesar 0,55%.

Komponen administered price menjadi penyumbang terbesar inflasi sebesar 0,67% dengan andil ke inflasi sebesar 0,12%. Sementara komponen harga bergejolak (volatile price) mengalami deflasi 0,50% dengan andil ke deflasi 0,09%.

“Banyak harga bahan makanan yang menurun sehingga deflasi di antanrya cabai merah, telor ayam ras, bawang putih, cabai rawit, bawang bombai,” ucap Suhariyanto.

Dari 90 kota yang dipantau, 67 kota mengalami inflasi dan 23 kota mengalami deflasi.

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Mei) 2020 sebesar 0,9% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2020 terhadap Mei 2019) sebesar 2,19%. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan sebesar 1,2%. Hal ini disebabkan karena kenaikan harga daging ayam ras, ikan, dan bawang merah. Sementara inflasi terendah terjadi di Tanjungpinang, Bogor,dan Madiun masing masing sebesar 0,01%.

“Sementara dari kota yang mengalami deflasi, deflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 0,39%, deflasi terendah terjadi di Manado sebesar 0,01%,” ucap Suhariyanto. (ark)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN