Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Bank Indonesia. (Foto: BeritaSatu Photo)

Tekanan Rupiah Berlanjut, Begini Penjelasan BI

Rabu, 28 September 2022 | 12:52 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir telah memicu depresiasi mata uang sejumlah negara, termasuk Indonesia. Penyebab utamanya adanya eksodus dana setelah The Fed dinaikkan.

"Yang jadi titik permasalahan, dolar AS makin kuat, maka investasi pasar portofolio terjadi penyesuaian. Orang ingin memegang aset aman, jadi berbalik ke aset tersebut," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman dalam diskusi publik bertajuk Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).

Baca juga: Rupiah Sudah di Rp 15.200-an, Waspada Bisa Makin Melorot ke Level Ini Bulan Depan

Dia mengatakan, kenaikan Fed Fund Rate yang tinggi dan diperkirakan berlanjut hingga tahun depan mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS dan semakin tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal tersebut turut membuat imbal hasil surat berharga AS, US Treasury (UST) naik di kisaran 3,7% hingga 3,9%.

Kenaikan imbal hasil yang ditawarkan UST itu menjadi daya tarik bagi penanam modal di pasar keuangan. Investasi portofolio yang ada di negara-negara berkembang kemudian dialihkan ke UST lantaran return yang dikembalikan jauh lebih menarik.

"Indikator global naiknya US Treasury tenor 10 tahun menjadi 3,7%- hingga 3,9% sangat tinggi. Berdampak pada net outflow portofolio investasi dari pasar keuangan Indonesia sebesar USD 0,6 miliar"ucapnya.

Baca juga: Cadangan Devisa Agustus 2022 Stabil US$ 132,2 M

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Agustus 2022 tercatat US$ 132,2 miliar setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor, sehingga kinerja neraca pembayaran Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan akan tetap terjaga begitu pula dengan transaksi berjalan.

"AS akan terus melanjutkan peningkatan Fed Funds Rate (FFR), dan ini masih berlangsung tinggi sampai 2023. Kita kenal istilah higher for longer yang menimbulkan  ketidakpastian global dan pasar keuangan," jelas Aida.

Lebih Baik

Meski demikian, ia tak menampik bahwa kinerja rupiah beberapa waktu terakhir mengalami depresiasi hingga 4,97% secara year to date, kendati begitu depresiasi rupiah diklaimnya masih lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. 

Baca juga: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Was-was Sebentar Lagi Menuju Rp 15.250

Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

Menurunnya, minat investor asing pada Surat Utang Negara (SUN) juga tercermin dari perolehan dana yang diterima pemerintah dalam pelelangan 7 obligasi pada Selasa (27/9). Dari 7 SUN yang dilelang, pemerintah meraup Rp10,75 triliun, berada di bawah target indikatif yang dipatok sebelumnya di angka Rp19 triliun.

Partisipasi investor asing di pasar perdana melakukan penawaran sebesar Rp1,7 triliun. Minat investor asing mayoritas pada seri SUN tenor 11 tahun yaitu Rp 919 miliar atau 54,06% dari total incoming bids investor asing dan dimenangkan sebesar Rp 196 miliar atau 1,83% dari total awarded bids.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com