Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Permodalan Nasional Madani

Permodalan Nasional Madani

Terdorong Holding UMi, PNM Targetkan 12 Juta Nasabah pada 2022

Kamis, 30 September 2021 | 12:29 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Hadirnya holding Ultra Mikro (UMi) mendorong PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM semakin agresif menjangkau pelaku usaha pra sejahtera. BUMN yang basis bisnisnya melakukan pemberdayaan ekonomi kaum ibu tersebut optimistis dapat menambah nasabah menjadi lebih dari 12 juta pada 2022.

“Perseroan hingga saat ini telah memberdayakan dan membiayai  sekitar 10,8 juta nasabah prasejahtera. Pada tahun 2022, diharapkan perseroan bisa mengakuisisi lebih dari 1,2 juta nasabah baru,” kata Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Arief Mulyadi melalui keterangan tertulis, pada Kamis (30/9/2021).

Ia mengatakan, penambahan 1,2 juta nasabah baru merupakan  target  realistis yang akan dicapai seiring  penguatan ekosistem usaha yang lebih baik melalui holding UMi bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk selaku induk dan PT Pegadaian (Persero).

"Untuk tahun depan, memang kami sedang menghitung ulang. Kami justru berharap lebih tinggi dari itu [12 juta] nasabah," katanya.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Arief Mulyadi. Foto: IST
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Arief Mulyadi. Foto: IST

Saat ini, lanjut Arief, perseroan masih tetap konsisten dengan target yang telah ditentukan pada awal tahun 2021. Kendati telah tergabung dalam holding UMi, PNM juga secara konsisten menjaga keberlangsungan dan semangat usaha nasabah yang ada. Artinya, holding UMi tak akan mengubah kualitas layanan dan produk jasa keuangan, tapi memperkuat apa yang telah dilakukan selama ini.

“Bahkan, kami terus mencari peluang untuk mendorong percepatan naik kelas para pelaku usaha binaan, meningkatkan layanan, dan pada akhirnya bisa memberikan kontribusi terhadap akselerasi aktivitas ekonomi lokal dan nasional,” katanya.

Sementara itu, kata Arief, terkait sinergi layanan bersama dalam Holding UMi melalui integrasi gerai atau co-location, sejauh ini telah berjalan di 54 titik dan menuju 78 titik.

Ia optimistis penambahan integrasi kantor fisik masih akan bertambah lebih banyak lagi pada kuartal keempat 2021 dan berlanjut tahun depan.

Dengan demikian,  ekosistem pembiayaan dan pemberdayaan usaha ultra mikro melalui holding UMi akan menjadi lebih kuat ke depannya. Arief pun menyebut dengan holding UMi lebih banyak memberikan nasabah manfaat.

Kehadiran holding dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead. Selain itu, jaminan kesinambungan pemberdayaan menjadi lebih kuat dengan tambahan fasilitas layanan jasa keuangan yang semakin lengkap karena dibantu oleh BRI dan Pegadaian.

“Tadinya, PNM tidak bisa lakukan bisa didukung oleh BRI sebagai induk holding dan Pegadaian sebagai sesama anggota holding. Dan ada jaminan penuh dengan efisiensi dan efektifitas proses yang akan kami lakukan bersama, insya Allah segera bisa kami berikan keringanan beban bunga atau margin pada para nasabah," ujar Arief.

Bunga Cicilan

Arief mengatakan,  terkait biaya layanan jasa keuangan, persero sudah mengkalkulasi beberapa hal seperti potensi beban dana, beban operasional, serta beban lainnya yang dapat ditekan dengan kehadiran Holding UMi dan akan ditransmisikan pada beban cicilan kredit usaha wong cilik.

Kebijakan itu ditempuh agar  PNM  lebih agresif dalam membantu pelaku usaha mikro naik kelas, yaitu  melalui pembinaan yang semakin masif dan penyaluran pinjaman modal produktif dengan bunga cicilan yang lebih ringan.

Dengan kolaborasi ketiga entitas BUMN, PNM  optimistis nasabah program Mekaar akan memperoleh keuntungan penurunan bunga pinjaman sekitar 3%. Sinergi itu pun akan semakin menguntungkan masyarakat kecil karena dapat mengoptimalkan peran pemberdayaan PNM dengan penurunan biaya overhead sekitar 8%.

Ditegaskan, integrasi ketiga entitas BUMN tersebut dinilai bakal membentuk ekosistem usaha UMi yang kuat dengan menjaga, dan mempertahankan pendekatan pemberdayaan sosial PNM. "Ekosistemnya tentu akan menjadi lebih besar. Pelaku (usaha) ultra mikro dapat menjalin kerja sama dengan pelaku usaha menengah, bahkan korporasi, secara langsung," ungkap Arief.

Senada, Direktur Kelembagaan dan Perencanaan PNM Sunar Basuki mengatakan salah satu harapan besar dari pembentukan holding adalah untuk menurunkan biaya cicilan.

Hal itu harus ditempuh agar kehadiran negara lewat BUMN lebih terasa dalam mendukung kinerja pelaku usaha di tataran bawah secara langsung. Terlebih langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat grass root economy.

"Hal ini juga sejalan untuk mendukung kinerja pelaku usaha ultra mikro lebih baik lagi di masa pemulihan ekonomi," imbuhnya.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan keuangan PNM aset perseroan tumbuh dari Rp31,66 triliun pada Desember 2020 menjadi Rp38,15 triliun per Juni 2021. Kontribusi terbesar dari komponen pembiayaan yang diberikan atau piutang pembiayaan kepada nasabah, yang meningkat dari Rp22,08 triliun menjadi Rp 28,3 triliun pada periode yang sama.

Pendapatan bunga dan syariah kotor  naik dari Rp2,52 triliun per Juni 2020 menjadi Rp3,61 triliun per Juni 2021. Setelah dikurangi beban operasional, pendapatan bersih tumbuh 53,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp2,52 triliun pada paruh pertama 2021 dari sebelumnya Rp1,64 triliun.

Setelah ditambah beberapa komponen lain dan dikurangi beban usaha, laba sebelum pajak perseroan naik menjadi Rp 427,33 miliar dari sebelumnya Rp153,12 miliar pada Juni 2020.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN