Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sripeni Inten Cahyani.

Sripeni Inten Cahyani.

Terkait Pemadaman, PLN Bentuk Tim Investigasi

Euis Rita Hartati, Kamis, 8 Agustus 2019 | 00:18 WIB

JAKARTA, investor.id- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) membentuk tim investigasi untuk mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan terjadinya pemadaman (blakout) di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat Jawa Tengah, pada Minggu (5/8) lalu.

“Peristiwa hari Minggu mengenai pemadaman listrik di sebagian Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, saya nyatakan bahwa itu sama sekali bukan sabotase. Ini merupakan persoalan gangguan teknis. Namun saat ini kami sedang melakukan investigasi, Kami telah membentuk Tim 9 untuk melakukan investigas itu. Mudah-mudahan segera diperoleh hasilnya,” kata Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) Sripeni Inten Cahyani kepada Berita Satu TV di kantornya, di Jakarta, Rabu (7/8).

Menurut Sripeni, dalam melakukan investigasi, pihaknya akan melibatkan narasumber yang kompeten, baik itu dari universitas dan juga para ahli, supaya hasilnya komprehensif. Hal ini penting dilakukan, karena sistem kelistrikan di Jawa Bali ini, kata dia, sangat kompleks. Terdapat 35 ribu kapasitas pembangkit yang jumlah unit pembangkitan sekitar 200-an, gardu induk yang jumlahnya 500-an, trasmisi ektra tinggi untuk 500 KV sepanjag 5000 Kms, 150 KV sepanjang 7000-an kms.

“Jadi bisa dibayangkan sangat kompleks. Sehingga kalau kita lihat kejadian hari Minggu kemarin, kejadiannya sangat luar biasa. Kita nyatakan itu suatu musibah. Kita sudah berhati-hati. PLN sudah memiliki progra atau emergency plan, namun memang yang terjadi itu luar biasa. Kalau ditanya penyebabnya, kami masih dalam investigasi,” jelas Sripeni.

Dia mengungkapkan, terdapat 4 saluran jarungan listrik 500 KV yag menghubungkan sistem timur dan sistem barat. Dengan pertimbangan bahwa hari Minggu adalah hari yang memiliki beban rendah, maka PLN melakukan pemeliharaan supaya tetap andal di satu saluran.

'”Ternyata, dari tiga saluran, 2 mengalami ganguan. Sehingga tersisa 1 saluran yang tidak cukup kuat untuk menanggung beban, sehingga terjadilah blackout,” katanya.

Pihaknya pun segera melakukan pemulihan secara bertahap, dimulai Minggu sore. Senin pukul 17.00 WIB DKI pulih, wilayah Jabar pukul 22.00 , Banten pukul 22.40 WIB.

“Kami sedang susun langkah kerja supaya kejadian hari Minggu tidak terjadi lagi. Kami menyadari perusahaan pelayanan pada masyarakat , kami mohon maaf, karena dalam melayani masyarakat belum optimal,” tutur Sripeni.

Dia membantah bahwa perusahaan mengalami masalah keuanga sehingga lengah dalam hal pemeliharaan. “Jadi pemerliharaan tetap dilaksanakan karea ini berkaitan dengan safety,” tegasnya.

Menurut dia, di PLN efisiensi memang dilakukan, wajib, sepanjang tidak terkait dengan aspek safety.

PLN sebagai BUMN memiliki kewajiban PSO, yakni melayani masyarakat. Dalam tugas tersebut pemerintah telah mengatur tarif ada tarif subsidi dan non subsidi untuk menjaga tingkat kesehata PLN.

“Karena kalau tingkat kesehatan keuangan tidak dijaga, ini berbahaya, karena ini 100% milik pemerintah,” katanya.

Dikatakan, jika PLN memiliki utang, hal itu merupakan sesuatu yang wajar sebagai perusahaan. “Kita tahu kalau perusahaan memerlukan utang untuk menjalankan investasi, dan itu sah sah saja,” ujarnya.

 

Pembayaran Kompensasi

 

Sripeni juga mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil evaluasi sementara. Hasilnya diketahui bahwa sistem komunikasi yang terputus ikut memperlambat proses pemulihan.

“Jadi kami akan mengambil langkah untuk menata komunikasi, apa yang harus kita lakukan untuk perkuatan komunikasi tanpa harus tergantung pada provider. Artiya dalam sistem ketenangalistrikan, punya komunikasi sendiri,” katanya.

Sementara itu, terkait pembayaran kompensasi kepada pelanggan, menurutnya mekanisme itu sudah diatur pemerintah. Dalam kesempatan itu, sekaligus dia membantah bahwa biaya kompensasi akan diambil dari pemotongan gaji karyawan.

PLN, kata dia, harus memberikan kompensasi, karena tingkat mutu pelayanan tidak terpenuhi. Artinya sebagai peusahaan publik yang harus memastikan masyarakat menikmati tingkat layanan tertentu, maka apabila tidak berhasil, PLNa harus beri kompensasi.

“Tapi apakah itu dari karyawan, saya tegaskan tidak. Kepada insan PLN jangan khawatir. Fokus bekerja. Manajemen tidak akan melakukan pemotongan yang berkaitan dengan kompesasi kepada pelanggan,” tegasnya.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gajah Mada, Fahmi Radhi berpendapat kompensasi listrik padam tidak perlu dana kas dari internal maupun eksternal PLN.

"Bisa dengan skema no cash out dalam arti PLN tidak perlu mengeluarkan uang dasar hukumnya dapat mengacu kepada Permen ESDM No. 27 tahun 2017," kata Fahmi.

Menurut dia, metodenya dapat dipotong dari abodemen atau biaya tagihan jadi mengurangi pendapatan.

"Caranya dengan memberikan kompensasi berupa pengurangan tagihan listrik yang harus dibayar di Bulan September 2019," jelas dia.

Fahmi berpandangan melalui kompensasi itu menunjukkan PLN bertanggung jawab. Adapun rincian pemberian kompensasi blackout tersebut yakni, pada September 2019 nanti, para pelanggan PLN akan membayar lebih kecil tagihan bulanannya karena mendapat pengurangan tagihan sebesar kompensasi yang diberikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN