Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Bank Indonesia

Terkendali, BI Perkirakan Inflasi April 0,2%

Triyan Pangastuti, Kamis, 9 April 2020 | 16:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan, inflasi pada April 2020 berada di kisaran 0,2% secara month to month (mtm) dan 2,8% secara year on year (yoy). Perkiraan yang didasarkan pada hasil survei pemantauan harga hingga minggu kedua April 2020 tersebut menunjukkan bahwa inflasi terkendali meskipun wabah virus corona atau Covid-19 tengah mewabah di Tanah Air.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, perkembangan harga di pasar tetap terkendali dan rendah. Ia menegaskan, bank sentral pun akan terus berkoordinasi secara erat bersama Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk memantau ketersediaan pasokan.

Ia menyebut beberapa faktor yang menyebabkan harga tetap terkendali hingga saat ini. Pertama, berbagai faktor yang berpengaruh terhadap inflasi tetap terkendali. Kedua, pertumbuhan ekonomi diproyeksi lebih rendah sehingga kemampuan kapasitas produksi nasional akan mengalami kesenjangan output.

"Ini artinya tekanan inflasi dari sisi permintana terkendali," tegas Perry dalam media briefing secara virtual di Jakarta, Kamis (9/4).

Ketiga, dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kenaikan harga rendah. Dan keempat, terjangkarnya ekspektasi inflasi. "Inflasi terjangkar apakah di masyarkat konsumen maupun produsen. Itu tidak lepas dari bagaimana BI menjaga kredibiltas moneter yang selama ini telah dibangun," ujar papar Perry.

Ia meyakini bahwa inflasi akan tetap rendah pada Ramadan akibat adanya pembatasan sosial. Ramadan memang biasanya meningkat, hal itu tidak akan terjadi karena ada pembatasan sosial. Misalnya, yang biasanya mudik sekarang tidak diperbolehkan mudik agar pewabahan Covid-19 tidak meluas.

"Dampak ke ekonomi bisa dimitigasi. Kenaikannya akan jauh lebih rendah dari dulu. Kebutuhan pasokan bagaiman? Pemerintah terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga distribusi" pungkas Perry.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN