Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak-anak bermain layang-layang dengan latar belakang gedung-gedung perkantoran di bantaran kali Banjir Kanal Barat, Jakarta, Selasa (22/9/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao.

Anak-anak bermain layang-layang dengan latar belakang gedung-gedung perkantoran di bantaran kali Banjir Kanal Barat, Jakarta, Selasa (22/9/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao.

Terlambat Antisipasi Bonus Demografi, Indonesia Harus Buat Terobosan

Senin, 25 Januari 2021 | 07:30 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Indonesia sudah terlambat mengantisipasi bonus demografi. Untuk mengejar keterlambatan itu, pemerintah harus membuat terobosan agar mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas tenaga kerja siap pakai secara cepat dan masif.

“Untuk mencetak SDM siap pakai, lembaga pendidikannya juga harus memiliki kualifikasi nasional dan internasional,” ujar statistisi, Asriana Ariyanti kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (23/1).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengelompokkan populasi dalam enam generasi, yaitu Post Gen Z, Gen Z, Milenial, Generasi X (Gen X), Baby Boomer, dan Pre-Boomer. Post Gen Z lahir pada 2013 dan seterusnya (kini berusia maksimal 7 tahun). Sedangkan Gen Z lahir pada 1997-2012 (saat ini berusia 8-23 tahun), Milenial lahir pada 1981-1996 (24-39 tahun), Gen X lahir pada 1965-1980 (40-55 tahun), Baby Boomer lahir pada 1946-1964 (56-74 tahun), dan Pre-Boomer lahir sebelum 1945 (75 tahun ke atas).

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020), Gen Z dan Milenial mendominasi penduduk Indonesia yang per September 2020 mencapai 270,20 juta jiwa. Gen Z berjumlah 74,93 juta atau 27,94% terhadap total penduduk, Milenial 69,38 juta (25,87%), Gen X 58,65 juta (21,88%), Baby Boomer 31,01 juta (11,56%), Post Gen Z 29,17 juta (10,88%), dan Pre-Boomer 5,03 juta (1,87%).

Data BPS menunjukkan, proporsi penduduk usia produktif pada 2020 mencapai 70,72% dari populasi dibanding 53,39% pada 1971. Berarti Indonesia sedang menikmati bonus demografi, yaitu potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur usia penduduk, di mana proporsi usia kerja (15-64 tahun) lebih besar dari bukan usia kerja (0-14 tahun dan di atas 64 tahun). Bonus demokrasi diperkirakan mencapai puncaknya pada 2040-2050.

Peringkat daya saing Indonesia.
Peringkat daya saing Indonesia.

Pendidikan Karakter

Ana, panggilan akrab Asriana, menjelaskan, saat ini program-program pemerintah dan dunia usaha dalam membuka koneksi langsung antara dunia pendidikan dan dunia kerja (link and match) belum berjalan. Alhasil, tidak ada integrasi antara output pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja.

Ana juga menilai pendidikan moral/karakter atau pendidikan holistik dalam membentuk SDM unggul dalam 20-30 tahun sangat penting, bahkan harus dimasukkan dalam sistem pendidikan dini berupa pendidikan karakter yang bersinergi antara dunia pendidikan dan keluarga.

“Pendidikan dasar hendaknya lebih ditekankan pada pembentukan karakter dan moral, tidak hanya berupa capaian akademis,” tegas dia.

Menurut Ana, untuk mengihindarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap country) dan mampu menjadi negara berpendapatan tingggi, yang harus dikejar bukan seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi yang dicapai, tetapi seberapa mampu pemerintah melakukan pemerataan distribusi perekonomian di masyarakat.

Dia menambahkan, sektor industri yang harus digenjot sejak sekarang untuk menyerap tenaga kerja Gen Z dan Post Gen Z dalam 20-30 tahun mendatang adalah sektor yang melibatkan teknologi dan internet, namun dikemas dengan manajemen modern.

“Gen Z bisa mengolah sektor pertanian hingga jasa dengan memanfaatkan kemampuan serta interest mereka yang sangat besar pada hal-hal yang berhubungan dengan IT dan artificial intelligence (AI). Namun, yang harus diperhatikan tetap dari karakter dan pendidikan yang berkualitas agar mereka dapat beradaptasi dengan baik pada industry 4.0 dan Society 5.0,” kata Ana.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN