Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Teten Masduki: Koperasi Perlu Jadi Konsolidator bagi Usaha Sektor Peternakan

Senin, 12 Juli 2021 | 21:44 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menekankan pentingnya peran koperasi dalam industri pangan, khususnya  peternakan.  Sebagian besar pelaku usaha di sektor peternakan masih bergerak secara perorangan sehingga mereka kesulitan untuk melakukan pengembangan.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan  koperasi dapat bekerjasama antar koperasi atau dengan badan hukum lainnya untuk keperluan pengembangan usaha.  Misalnya  koperasi perunggasan dapat  melakukan kerjasama secara vertikal yaitu membentuk koperasi sekunder atau secara horizontal bekerjasama  dengan  sesama koperasi perunggasan maupun dengan jenis koperasi lainnya.

“Kalau ini bisa dilakukan dalam kerjasama antar koperasi saya kira ini konsep yang baik Ini yang beberapa kali kami bicarakan dengan teman-teman koperasi perunggasan,” ucap Teten Masduki dalam acara Indonesia Live Stock Edisi 22 pada Senin (12/7).

Koperasi diharapkan bisa menjadi penghubung dari hulu ke hilir sehingga bisa ada sirkuit ekonomi dalam ternak unggas. Menurut Teten para pelaku usaha di sektor tersebut masih kesulitan mendapatkan pembiayaan yang mudah. Rasio kredit UMKM terhadap kredit perbankan saat ini kurang dari 20%. Penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR)  terlihat masih didominasi dari sektor perdagangan  yang mencapai 53% sedangkan sektor pertanian, peternakan, kehutanan baru mencapai 24%

“Ini artinya memang harus kita cari solusi supaya bank lebih berani membiayai di sektor produktif terutama sektor pangan,” kata Teten.

Sektor pangan dalam arti luas yaitu pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.  Menkop UKM mengatakan pihaknya mengarahkan agar para pelaku usaha di sektor pangan untuk mengakses KUR.

“Kami sedang mempersiapkan satu regulasi untuk plafon kur yang saat ini maksimum baru Rp 500 juta ke depan   bisa sampai Rp 20 miliar saya kira ini menjadi sumber pembiayaan untuk peternakan,” kata Teten.

Pada saat yang sama pelaku usaha di sektor peternakan juga diarahkan untuk melakukan digitalisasi sistem keuangan. Langkah tersebut akan memudahkan  pihak bank memeriksa track record arus kas. “Sehingga membuat mereka lebih berani memberikan pembiayaan ke  sektor peternakan,” kata Teten.

Teten mengatakan selama ini pihak perbankan kurang tertarik dengan sektor peternakan karena dianggap memiliki risiko tinggi. Perbankan melihat masih adanya  Fluktuasi harga di pakan, maupun produk daging. Hal tersebut harus dicari solusinya.

“Kalau ada kepastian harga dan  pembeli produk maka sebenarnya tidak ada alasan perbankan untuk tidak mau membiayai sektor perbankan,” kata Teten.

Kemenkop UKM juga berupaya menghubungkan UMKM sektor peternakan ke ekosistem digital. Dengan adanya digitalisasi akan mempermudah proses bisnis bagi pelaku usaha di sektor peternakan. Bank Dunia mencatat 80%  UMKM yang terhubung ke ekosistem digital memiliki daya tahan lebih baik selama pandemi.

“Kami melakukan serangkaian upaya untuk digitalisasi seperti pelatihan, pendampingan, juga inkubator usaha sampai perluasan akses market,” ucapnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN