Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki di Acara Puncak Bangga Buatan Indonesia (BBI) - Kilau Digital Permata Flobamora pada Jumat (18/6).

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki di Acara Puncak Bangga Buatan Indonesia (BBI) - Kilau Digital Permata Flobamora pada Jumat (18/6).

Teten Targetkan 500 Koperasi Modern sampai 2024

Minggu, 11 Juli 2021 | 23:11 WIB
Tri Murti

JAKARTA, investor.id – Pemerintah menargetkan pembentukan 100 koperasi modern pada tahun ini dan menjadi 500 koperasi modern pada 2024 sebagai program besar yang menjadi amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Selain menerapkan teknologi digital dalam pengelolaan usaha—termasuk pelayanan terhadap anggota—, ciri koperasi modern adalah sudah terhubung dengan offtaker dan memiliki akses pembiayaan yang cukup baik.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, koperasi modern juga harus memiliki skala usaha dan kapasitas produksi besar, melakukan sinergi antarpihak berbasis ekosistem, serta dikelola oleh manajemen profesional. “Saya kira, yang lain, koperasi modern itu adalah juga yang berbasis anggota dan bernilai tambah yang tinggi,” ujar Teten saat tapping program acara 60 Minutes with Menteri Koperasi dan UKM yang akan disiarkan Beritasatu TV, pada Senin, 12 Juli 2021 pukul 19.00 - 20.00 WIB.

Terkait dengan penerapan teknologi digital, hingga kini koperasi yang sudah menerapkan sistem tersebut masih sangat rendah, yaitu baru sekitar 0,7% dari total sekitar 127 ribu koperasi yang ada di Indonesia. Karena rendahnya penerapan teknologi digital tersebut, koperasi pun mengalami kesulitan untuk bersaing dengan badan-badan usaha lain. “Ya, jadi, ini yang sedang kami percepat, yaitu transformasi digitalisasi koperasi,” tandas Teten.

Menkop UKM memberi contoh, saat ini koperasi simpan pinjam (KSP) kalah bersaing dengan peer to peer lending atau financial technology (fintech), fintech unggul menggunakan teknologi. “Mereka (fintech) bisa dengan cepat mengetahui peminjamnya, sehingga mereka bisa cepat memberikan pinjaman. Sementara kalau lewat koperasi masih lebih sulit daripada fintech. (Akhirnya) orang akan gabung ke fintech,” ucap Teten.

Oleh karena itu, lanjut dia, penerapan teknologi digital atau go digital oleh koperasi menjadi spirit yang selalu ia dengungkan kepada para pelaku usaha koperasi. Berkolaborasi dengan Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Kementerian Koperasi dan UKM telah membangun situs https://idxcoop.kemenkopukm.go.id yang menyediakan seluruh aplikasi digital untuk koperasi.

“Di situs kami ini banyak sekali inisiatif dan aplikasi yang bisa dipakai oleh koperasi untuk go digital. Saat ini baru 0,7% (koperasi yang sudah menerapkan teknologi digital). Saya selalu bicara di forum koperasi dan saya selalu bersilaturahmi ke kantor-kantor koperasi lalu mengajak (go digital) itu. Jadi, itu yang ingin kita lakukan percepatannya,” tandas dia.

Menurut Teten, jumlah koperasi di Indonesia saat ini sebenarnya cukup banyak, yakni mencapai sekitar 127 ribuan koperasi, dengan sekitar 38 ribu di antaranya sudah bersertifikasi. “Nah, jadi sebenarnya boleh dikatakan koperasi kita itu terbesar di dunia. Ya, cuma skalanya kecil-kecil. Kalau kita lihat jumlah penduduk yang berpartisipasi menjadi anggota koperasi di Indonesia baru 8,41%, sementara dunia sudah sekitar 16%. Artinya, persentase kita baru separuh dari dunia,” ucapnya.

Pengembangan koperasi ini, kata Teten, menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia karena dalam Undang-Undang Dasar 1945 sudah dicantumkan bahwa koperasi menjadi soko guru ekonomi. “Ini menjadi tantangan kita, bagaimana terus memperbanyak bukan jumlah koperasinya, tapi bagaimana semakin banyak warga kita yang menjadi anggota koperasi,” kata dia.

Hal lain yang juga menjadi perhatian pemerintah, menurut Teten, adalah keberadaan sekitar 127 ribuan koperasi yang masih didominasi oleh koperasi konsumen. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, persentase koperasi konsumen mencapai 57,6% dan koperasi simpan pinjam 13,9%. Sedangkan koperasi produsen masih sangat kecil yaitu hanya 5,76%.

“Nah justru problemnya di sini. Kita ingin dorong koperasi itu masuk ke sektor produktif, dan bahkan seperti pengalaman di negara-negara Eropa, Amerika, Selandia Baru, atau Australia justru koperasi di sektor pangan, di sektor agrikultur itu yang paling kuat, selain di sektor keuangan,” papar Teten.

Sektor Strategis
Oleh karena itu ia menggarisbawahi bahwa menjadi sangat penting untuk mendorong koperasi-koperasi yang ada untuk masuk ke sektor-sektor strategis, termasuk yang menguasai komoditas. Ia memberi contoh, salah satu sektor strategis itu adalah kelautan yang menjadi salah satu keunggulan ekonomi. “Belum banyak korporasi besar masuk ke situ (sektor kelautan), baru 4%. Sehingga ini juga menjadi peluang bagi koperasi untuk masuk ke sana,” ujar Teten.

Terkait hal ini, Menkop UKM mengaku, pihaknya akan menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyerahkan pengelolaan tempat lelang ikan, termasuk armada nelayan tangkap, dalam bentuk koperasi. Di dalamnya sudah termasuk tambak udang rakyat.

“Ini yang sekarang saya kira menjadi prioritas pemerintah. Nah, mudah-mudahan dengan kerja sama dengan berbagai kementerian memberi kesempatan koperasi-koperasi yang sekarang sudah ada yang cukup besar. Di Indonesia ada sekitar 100 koperasi yang cukup besar, saya ingin dorong mereka untuk segera masuk ke sektor-sektor strategis tadi,” ucap Teten. (ns/en)

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN