Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja beraktivitas di sebuah pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pekerja beraktivitas di sebuah pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tidak Menunjukkan Pertumbuhan, Laju PMI Indonesia Februari Turun ke 50,9

Senin, 1 Maret 2021 | 12:47 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, Investor.id - IHS Markit melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Februari 50,9. Angka ini lebih rendah dari periode Januari sebesar 52,2. Meski masih di level ekspansif, angka tersebut tidak menunjukkan laju pertumbuhan.

Direktur Ekonomi IHS Markit Andrew Harker mengatakan bahwa pertumbuhan manufaktur Indonesia kehilangan momentum pada bulan Februari di tengah gangguan akibat pandemi Covid-19.

“Jumlah kasus Covid-19 yang meningkat saat ini menunjukkan bahwa pandemi terus mengganggu operasional,” ujarnya dalam laporan IHS Markit, Senin (1/3/2021).

Meski terjadi penurunan, kinerja manufaktur terkait output dan permintaan baru terus meningkat dan pekerjaan mendekati stabil. Pasalnya perusahaan masih optimistis bahwa output akan naik selama 12 bulan mendatang.

Sementara itu, tekanan inflasi terus meningkat dengan kenaikan yang lebih tajam pada biaya input dan harga output.

“Sektor manufaktur masih relatif tangguh pada bulan Februari, hanya mengalami perlambatan pertumbuhan daripada kontraksi langsung dalam output dan pesanan baru. Sementara itu, pekerjaan terus bergerak mendekati stabil,” tutur Andrew Harker.

Bahkan ia menyebut optimisme perusahaan terkait proyeksi kinerja manufaktur tahun depan masih tidak berkurang di tengah harapan bahwa pandemi akan segera berakhir.

Sementara itu, dari sisi produksi yang telah meningkat selama empat bulan berturut-turut, tapi pada laju sedang yang tergolong paling lemah pada periode ini. Meskipun perusahaan meningkatkan output sesuai dengan pertumbuhan permintaan baru yang berkelanjutan, namun beberapa perusahaan mencatat adanya gangguan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

“Pertumbuhan produksi yang lebih lambat menunjukkan bahwa stok barang jadi menurun, setelah kenaikan pada bulan Januari,” tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Andrew Harker,  permintaan baru akan meningkat tajam pada bulan Februari, dan setidaknya dalam tiga bulan. Sementara itu, bisnis ekspor baru terus menurun, lima belas bulan berjalan sebagaimana telah terjadi sebelumnya.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN