Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Tiga Strategi Pembenahan Sektor Industri

Senin, 14 Januari 2019 | 22:41 WIB
Oleh Tri Murti dan Hari Gunarto

Dendi Ramdani menyatakan, pembenahan sektor industri dalam jangka menengah-panjang perlu ditempuh secara konsisten lewat tiga strategi. Pertama, peningkatan mutu kualitas sumber daya manusia (SDM) sehingga dapat memenuhi kebutuhan dunia industri.

Kedua, peningkatan iklim bisnis serta pemberian insentif terhadap investasi serta riset dan pengembangan (R&D), sehingga industri manufaktur akan inovatif mengembangkan produk. Ketiga, pembenahan infrastruktur untuk memangkas biaya logistik.

Sedangkan untuk jangka pendek, kata Dendi, Indonesia berpeluang mempercepat pertumbuhan sektor industri dan juga ekspor dengan mendorong industri-industri yang penggunaan kapasitas produksinya di bawah kapasitas terpasang (under-utilized).

Dendi menyebut ada dua industri yang bisa didorong secara cepat dalam 2-3 tahun, yaitu industri otomotif dan tekstil. “Penggunaan kapasitas produksi kedua industri itu hanya 60%, sehingga ada ruang untuk peningkatan produksi,” ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah mengidentifikasi dan mencari pasar ekspor potensial. Di sinilah perlunya peran pemerintah untuk membantu mencarikan pasar dengan menjalin Free Trade Agreement (FTA) dengan negara-negara yang potensial menyerap produk-produk ekspor Indonesia. FTA harus dilakukan secara hati-hati agar industri domestik tidak dirugikan karena dibanjiri impor.

Yang juga sangat penting, kata Dendi, insentif untuk investasi dan R&D perlu diberikan kepada perusahaan- perusahaan yang memproduksi barang baru atau inovatif sehingga merangsang pengembangan produk. Insentif juga bisa diberikan kepada industri- industri yang berorientasi ekspor dan menggunakan bahan baku lokal, sekaligus juga bernilai tambah tinggi.

“Dengan demikian, pemberian insentif ini memang mengarahkan agar sektor industri terdorong untuk mengembangkan produk, berorientasi ekspor, dan sebesar mungkin menggunakan bahan baku lokal,” tegas Dendi

Dia juga menyebut industri-industri berbahan baku lokal yang memberikan nilai tambah tinggi terhadap perekonomian layak dikembangkan. Contohnya, manufaktur yang mengolah barang-barang komoditas yang banyak dihasilkan Indonesia, seperti minyak sawit mentah (CPO), karet, dan barang-barang tambang, seperti nikel dan tembaga. “Itu adalah industri- industri yang bisa diarahkan untuk pasar ekspor,” kata dia.

Selain itu, lanjut Dendi, perlu dikembangkan sektor-sektor industri yang bisa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri karena selama ini impornya besar, misalnya industri petrokimia, plastik, dan bahan baku farmasi. Industri biodiesel dan bioenergi juga berpotensi dikembangkan karena potensi pasar yang besar, mengingat selama ini kebutuhan BBM banyak diimpor, di samping untuk menghemat pengeluaran devisa. (dho)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/tradeandservices/fokus-dan-konsisten-tekan-impor-minyak-dan-bbm/184470

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN