Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Senior Associate Director, Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto

Senior Associate Director, Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto

Tingginya Covid-19 Makin Perberat Pemulihan Sektor Properti

Rabu, 7 Juli 2021 | 17:00 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Semakin mengganasnya kasus Covid-19, menjadi tantangan berat bagi bisnis properti pada semester pertama tahun ini. Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan kemudahan untuk properti, belum mampu untuk memulihkan pasar properti, bahkan semakin terpuruk.

Hasil Laporan kuartal II 2021 yang dilakukan oleh Colliers International Indonesia menyebutkan bahwa, kinerja properti baik perkantoran, apartemen, ritel, hotel dan industri alami penurunan akibat dampak Covid-19  di Indonesia yang semakin mengganas.

“Kondisi kita saat ini memang  cukup berat, artinya  apa yang kita proyeksikan akan ada pemulihan (recovery) pada awal tahun 2022 nanti, kemungkinan bisa mundur,  jika ekonomi belum stabil.  Berarti kita  harus  bersabar lagi menunggu kondisi ekonomi stabil,” kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, di Jakarta, Rabu (7/7).

Ferry mengatakan, Colliers melihat ada secercah harapan kinerja properti pada tahun 2021 ini mulai bangkit. Kemudian setelah pandemi ini mulai tinggi lagi, dan ditambah dengan adanya pemberlakukan pengetatan mobilitas lewat (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, kemungkinan besar target proyek properti akan direvisi kembali.  

“Proyeksi kita kemungkinan tidak sebagus awal-awal dan kita harus merevisi lagi. Karena sudah ada developer yang tidak covidien atau tidak yakin dengan kondisi saat ini,” kata Ferry.

Menurutnya, banyak proyek properti baik perkantoran, apartemen, ritel yang sedang melakukan konstruksi pada tahap awal, akhir terpaksa dilakukan rescheduling (penjadwalan ulang) proyeknya, sehingga merubah suplai pasokan pada tahun ini.  

“Jadi sekarang ini, suplai juga menurun, ditambah lagi dengan demand apalagi. Jadi kondisinya sama saja seperti kemarin,” kata Ferry.

Laporan Colliers menyebutkan bahwa, sampai kuartal II tahun 2021 ini, banyak proyek gedung perkantoran yang sedang dibangun kemungkinan besar waktu penyelesaian konstruksinya mundur. Di Jakarta hanya dua gedung perkantoran yang beroperasi pada kuartal II ini yaitu Triniti Tower di kawasan CBD dan Wisma Barito Pacific 2 dikawasan non  CBD.

“Saat ini cukup sulit memprediksi kapan pengembang akan memulai pembangunan gedung gedung baru,” katanya.

Dan untuk pertama kalinya, tingkat hunian perkantoran  di kawasan CBD alami penurunan di bawah 80% dan tercatat tingkat hunian atau okupansi 78,2 % atau turun 1,1% (q-q). Tingkat hunian di non CBD alami penurunan 78,4% atau turun sekitar 1,2% (q-q).

“Permintaan ruang perkantoran dinamis, tetapi pengurangan luas ruangan kantor juga terus terjadi dan berdampak pada turunnya tingkat hunian,” kata Ferry.

Di sektor apartemen, kata Ferry, karena kasus Covid kembali naik dan adanya PPKM darurat, beberapa proyek apartemen dipastikan terhambat dan kembali mundur penyelesaiannya.

Pada kuartal 2 tahun 2021, dampak program insentif PPN masih belum terlihat, khususnya pada sektor apartemen. Namun program insentif  PPN diperpanjang sampai Desember 2021 dan diharapkan dapat menjadi katalis penjualan di tahun 2021 ini.

“Tidak ada proyek baru yang diperkenalkan pada kuartal ini. beberapa proyek masih dalam kondisi on hold, terutama yang masih fase awal pembangunan,” ujarnya.

Menurut Ferry, yang paling terasa dampaknya dari penerapan PPKM ini adalah sektor Ritel. Dimana ritel ini membutuhkan orang lalu lintas di kawasan mall. Tetapi kalau semuanya dibatasi, termasuk jam operasional tentu mengganggu keberlangsungan mall.

“Hotel juga pasti terkena dampaknya, karena orang tidak bisa bepergian, ataupun melakukan meeting, termasuk kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah yang melakukan kegiatan ataupun meeting di hotel,” tutupnya/

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN